Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 31 Mama Calista


__ADS_3

Liana mencari tahu tentang wanita yang berada diluar café milik Devan waktu itu. Dia masih saja terbayang bagaimana wanita tersebut berdiri di depan cafe dan menatap kantor Devan dengan tatapan yang tidak biasa.


Ceklek!


Liana dengan hati-hati masuk ke dalam ruang kantor Devan. Dia melihat ke sekeliling ruangan tersebut dan tidak menemukan suaminya. Beberapa detik kemudian dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang ada dalam ruangan kantor tersebut.


Liana bernafas lega mendapati suaminya ada di kantornya. Hal yang ditakutkannya ketika dalam perjalanan ke kantor suaminya adalah mengetahui suaminya tidak berada di kantornya dan ternyata pergi dengan wanita yang berdiri di depan restoran waktu itu.


Dia duduk di kursi kebesaran suaminya bermaksud untuk menunggunya dan mengejutkannya ketika keluar dari dalam kamar mandi. Merasa bosan, dia membuka-buka berkas-berkas laporan yang ada di meja Devan.


Tiba-tiba ponsel milik Devan yang ada di meja tersebut bergetar. Rasa ingin tahu dalam diri Liana sangat besar. Dia mengambil ponsel milik suaminya itu dan melihat siapa yang menghubungi suaminya di saat malam hari diluar jam kerja.


“Mama Calista?” celetuk Liana lirih sambil mengerutkan dahinya.


“Siapa dia? Mengapa dia menghubungi suamiku di saat malam hari seperti ini?” tanya Liana kembali yang disertai dengan rasa penasaran.


Dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, Liana menekan tombol hijau pada layar ponsel tersebut. Sayangnya panggilan tersebut segera berakhir ketika tangan Liana menyentuh tombol untuk menerima panggilan itu.


Rasa penasaran Liana semakin tinggi. Dia ingin mencari tahu tentang wanita yang diberi nama ‘mama Calista’ di ponsel suaminya.


“Ada apa sebenarnya dengan mereka? Apa wanita ini adalah wanitayang waktu itu?” Liana masih saja bertanya-tanya dan mengira-ira wanita mana yang menghubungi suaminya.


Tangannya bergerak lincah untuk membuka password pada ponsel suaminya. Sayangnya percobaannya berulang kali gagal sehingga dia harus menunggu beberapa saat jika ingin membukanya kembali.


Liana menoleh ke arah pintu kamar mandi dan dia sudah tidak mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi tersebut. Merasa jika suaminya akan keluar dari dalam kamar mandi, Liana segera berpindah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


Ceklek!


Pintu kamar mandi tersebut terbuka. Liana melihat ke arah Devan yang sedang berjalan keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya dengan menggunakan handuk.


Liana tersenyum manis ketika melihat Devan terkejut mendapatinya di ruangan itu. Kemudian dia berkata,


“Aku ingin pulang bersama denganmu.”


Devan terkejut dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Dia mengernyitkan dahinya seolah heran mendengar perkataan istrinya. Selama ini Liana tidak pernah bersikap seperti itu. Dan yang terpenting seorang Liana selalu menomor satukan pekerjaannya dibandingkan dengan yang lainnya.


Melihat suaminya yang hanya diam saja tidak bereaksi, Liana beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati suaminya. Devan tidak bergerak sedikit pun. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya.


Liana tersenyum manis pada suaminya dan menyentuh dada suaminya itu dengan lembut. Tangannya mengusap-usap dengan lembut dada suaminya seolah membangkitkan hasrat yang ada dalam diri suaminya.

__ADS_1


Tangan Devan menghentikan gerakan tangan istrinya itu. Kemudian dia berkata,


“Tumben kamu ke sini? Biasanya kamu yang menyuruhku untuk menjemputmu.”


“Aku menginginkanmu,” ucap Liana sambil tersenyum menggoda pada suaminya.


“Tapi aku lapar sekarang,” tukas Devan seolah menolak keinginan istrinya.


Senyum Liana memudar. Dia menarik tangannya dari dada suaminya itu dan berkata,


“Apa kamu menolakku?”


Devan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya. Kemudian dia berkata,


“Aku benar-benar lapar saat ini. Aku tidak sempat makan sedari tadi. Pekerjaanku sangat banyak, hingga aku lupa makan.”


Wajah kecewa bercampur kesal yang diperlihatkan oleh Liana tidak merubah keinginan Devan untuk lebih memilih makan malam dibandingkan dengan ajakan Liana untuk melakukan hubungan suami istri saat itu juga.


Devan mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya dari atas meja kerjanya. Kemudian dia berjalan menuju pintu ruangan kantornya sambil berkata,


“Apa kamu tidak mau ikut makan malam denganku?”


“Kita pakai mobil mana?”


“Pilihannya hanya pakai mobilmu atau kita memakai mobil masing-masing,” jawab Devan sambil berjalan menuruni tangga.


“Kenapa harus memakai mobil sendiri-sendiri? Kenapa tidak memakai mobilmu saja?” tanya Liana yang merasa heran dengan jawaban dari suaminya.


“Jika memakai mobilmu, aku yang mengemudikannya sampai rumah. Kemudian aku akan kembali ke sini menggunakan taksi,” jawab Devan yang sedang berjalan menuju parkiran mobil mereka.


Liana menarik lengan Devan dan memutarkan badan suaminya itu agar menghadap ke arahnya. Kemudian dia berkata,


“Kamu akan tidur di sini lagi?”


Devan menganggukkan kepalanya untuk membenarkan pertanyaan dari istrinya. Kemudian dia berkata,


“Jadi, kita memakai mobil yang mana?”


“Kenapa kamu tidak tidur di rumah? Kenapa akhir-akhir ini kamu lebih suka tidur di sini? Apa kamu menghindariku karena Keyla sudah tidak ada di antara kita?” tanya Liana dengan berapi-api.

__ADS_1


Dean menghela nafasnya mendengar semua tuduhan yang diberikan istrinya padanya. Dia memang tipe laki-laki yang sabar dan tidak pernah bermain kasar pada siapa pun. Selama ini dia hanya memendam kekecewaannya pada istrinya dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan caranya sendiri.


“Kamu tahu sendiri kan jika aku memang sedang banyak pekerjaan,” sahut Devan dengan menahan amarahnya.


Liana menatap tajam pada suaminya. Dia berharap suaminya itu mengatakan sesuatu yang membuatnya mengetahui akan sesuatu dengan menyulut kemarahannya. Tapi hasilnya nihil. Devan tetap sabar menghadapi istrinya yang pemarah dan selalu egois.


Devan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya seraya berkata,


“Aku lapar. Sebaiknya kita berangkat sekarang.”


Memang sudah larut saat ini untuk makan malam. Café milik Devan pun baru satu jam yang lalu tutup. Kini dia harus mencari makan di lain tempat untuk mengisi perutnya yang benar-benar sedang lapar.


“Tunggu. Sebaiknya pakai mobilku saja dan nanti bawalah mobilku agar kamu tidak pulang menggunakan taksi,” ucap Liana sambil membuka pintu mobilnya.


Devan tidak bergerak dari tempatnya saat ini. Dia menatap istrinya itu yang sudah duduk di kursi samping kemudi. Kemudian dia berkata,


“Lebih baik kita memakai mobil kita sendiri-sendiri saja.”


Setelah mengatakan itu, Devan masuk ke dalam mobilnya dan duduk di bangku kemudi. Tanpa menunggu istrinya terlebih dahulu, Devan membunyikan klakson untuk memberi tanda pada istinya. Kemudian dia melajukan mobilnya dengan pelan untuk menunggu Liana mengikuti di belakangnya.


Mobil Devan berhenti di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan rumahan dan buka selama dua puluh empat jam. Turunlah dia dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumah makan tersebut.


Liana memandang sekitar rumah makan tersebut. Devan pun mengikuti arah pandang istrinya. Dia menghela nafasnya. dia sudah menduga jika istrinya itu pasti tidak akan suka dengan tempat makan yang terkesan biasa saja padahal menurut Devan rumah makan tersebut cukup bersih dan nyaman.


“Duduklah. Kamu memesan apa? Biar aku pesankan sekalian,” ucap Devan sambil sedikit menggeser kursi yang akan diduduki oleh istrinya.


“Samakan saja denganmu,” jawab Liana yang terpaksa duduk di kursi tersebut.


Devan pun memesan makanan mereka. Kemudian dia kembali duduk di hadapan istrinya. Setelah beberapa saat, makanan mereka tiba. Dengan lahapnya Devan memakan makanan tersebut.


“Tadi aku melihat ponselmu menyala pada saat kamu sedang mandi. Ada yang menghubungimu. Kalau tidak salah kamu memberinya nama ‘mama Calista’. Siapa dia? Sepertinya kalian sering berhubungan, melihat jam seperti ini dia menghubungimu,” ucap Liana sambil mengaduk-aduk makanannya.


Devan menghentikan makannya. Dia menatap istrinya untuk mecari tahu ekspresi wajahnya saat ini. Kemudian dia berkata,


“Mama Calista sangat berharga bagiku. Dia sudah aku anggap sebagai teman dekat. Dia selalu memberikan kabar tentang Keyla dan membawakan barang-barang berharga milik Keyla.”


Seketika kemarahan Liana terpancing. Dia mengeratkan pegangan sendok dan garpunya dan menekannya pada piringnya untuk menyalurkan kemarahannya.


“Ah… dia sangat berharga,” ucap Liana sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


Devan mengacuhkan perkataan istrinya. Dia makan dengan cepat agar bisa cepat kembali ke kantornya menggunakan mobilnya sendiri tanpa harus mengantarkan istrinya pulang terlebih dahulu.


__ADS_2