Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 37 Hubungan keren suami istri?


__ADS_3

Saat itu juga Nayla pergi ke rumah kontrakannya. Dia memberitahukan kepada pemilik rumah tentang kepergiannya dan menitipkan Calista padanya.


Dia menaiki kendaraan umum dari desa tersebut menuju kota tempat tinggalnya. Selama beberapa jam, sampailah dia di rumahnya.


Nayla menatap depan rumahnya dengan perasaan sedih. Rumah itu sepi dan hampir tidak terurus.


Bayu hanya pulang beberapa hari sekali dari penerbangannya. Dan itu pun hanya dalam beberapa jam saja dia berada di rumah tersebut.


Perlahan dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah itu begitu sunyi dan sepi. Sama seperti hatinya saat ini.


Segera dia menuju ruang penyimpanan berkas untuk mengambil berkas-berkas milik Calista yang digunakan sebagai syarat pendaftarannya di sekolah baru.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Bergegas Nayla membuka pesan tersebut karena takut jika terjadi sesuatu pada Calista.


Dia menghela nafasnya, merasa lega karena tertera nama suaminya pada layar ponselnya.


Ternyata Bayu memberikan schedule penerbangannya pada Nayla. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka untuk bertukar schedule dengan istrinya.


Mengetahui jika suaminya akan pulang hari ini, Nayla bergegas menuju dapur untuk memasakkan suaminya.


"Kosong. Tidak ada bahan masakan sama sekali," ucap Nayla saat membuka lemari es.


Nayla melihat jam yang melingkar di tangan kirinya seraya berkata,


"Masih jam segini, lebih baik aku ke sekolah Caca sekalian mampir di supermarket depan saja untuk berbelanja."


Dengan segera dia meninggalkan rumahnya dan berjalan kaki menuju sekolah Calista.


Kini Nayla duduk berhadapan dengan wali kelas Calista. Wali kelas Calista sangat menyayangkan keputusan Nayla untuk memindahkan sekolah Calista, tapi dia wali kelas tersebut mengerti dan memahami posisi Nayla, terutama Calista.


Menunggu selama beberapa saat, akhirnya Nayla berhasil mendapatkan surat kepindahan dari sekolah tersebut.


Setelah itu dia segera menuju supermarket yang ada di daerah tersebut. Beberapa bahan masakan telah dibelinya. Kini dia bergegas kembali ke rumah untuk memasakkan makanan agar suaminya pulang nanti bisa segera makan dan tidak membeli makanan di luar.


Selama beberapa saat dia beraktivitas di dapur, akhirnya beberapa menu makanan sudah selesai di masaknya.


Tiba-tiba dia teringat akan wanita yang mengangkat teleponnya saat dia menghubungi suaminya.

__ADS_1


Braaak!


Nayla melempar spatula di lantai dengan kerasnya, hingga memantul jauh dari lantai awal pada saat dia melemparnya.


Badan Nayla merosot duduk di lantai dan kedua tangannya memegang kepalanya. Matanya kini berkaca-kaca seraya berkata,


"Kenapa aku harus memasak makanan untuk orang yang bekerja dan bersenang-senang di luar sana? Kenapa aku bodoh sekali?" 


Setelah itu dia menuliskan memo yang ditempelkannya pada pintu lemari es. Dia menuliskan pesan yang ditujukan untuk suaminya.


Kemudian dia segera menunggu taksi pesanannya di luar rumah. 


Setelah beberapa saat, Bayu tiba di rumahnya. Dia melihat ada kejanggalan di dalam rumahnya.


"Bau masakan," ucap Bayu sambil mengendus-enduskan hidungnya ketika baru masuk ke dalam rumahnya.


Bayu segera masuk ke dalam rumahnya dan dia terkejut ketika melihat ruang tengah yang biasanya berantakan karena ulahnya, kini sudah bersih dan rapi seperti ketika ada istrinya di rumah tersebut.


Bayu mengerutkan dahinya melihat ruangan tersebut yang dalam keadaan tidak seperti saat dia meninggalkan rumah.


"Siapa yang memasak semua ini?" tanya Bayu yang sedang membuka tutup panci sayur yang ada di atas kompor.


Kemudian dia beralih ke meja yang ada di dapur tersebut. Dia membuka tudung saji yang ada di atas meja tersebut. Matanya terbelalak melihat beberapa menu masakan kesukaannya.


Segera dia mengambil sendok dan mencicipi satu menu yang ada di meja itu.


Dahinya mengernyit setelah mencicipinya. Kemudian dia berkata,


"Nayla? Apa dia yang menyiapkan ini semua?" 


Kini dia beralih pada menu yang berikutnya. Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Benar. Aku yakin ini masakan Nayla."


Mencicipi makanan tersebut membuat perut Bayu merasa lapar. 


"Lebih baik aku membersihkan badanku terlebih dahulu," ucap Bayu sambil menutup kembali tudung saji tersebut.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Bayu ketika melewati lemari es.


Dia mengambil memo yang berwarna kuning tersebut dan membacanya. Dahinya mengernyit mencoba mencerna maksud dari tulisan yang ada di kertas memo tersebut.


Segera dia mengambil ponsel dari saku celananya. Tangannya sibuk mencari nomor seseorang dan setelah itu dia menghubungi nomor tersebut.


"Halo, Nayla, apa kamu baru saja dari rumah?" tanya Bayu ketika panggilan teleponnya dijawab oleh istrinya.


Iya Mas. Aku sudah memasak beberapa makanan untukmu. Makanlah dan simpanlah sisanya supaya bisa kamu makan untuk beberapa hari, jawab Nayla yang kini sedang berada di dalam taksi.


"Lalu, apa maksudmu tentang sekolah Caca?" tanya Bayu seolah tidak mau tahu tentang makanan yang dimasak Nayla untuknya.


Seperti yang tertulis di situ. Caca sudah menemukan sekolahan yang pas untuknya. Dan aku memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah itu, jawab Nayla yang sedikit merasa gugup.


"Sekolahan apa? Di mana? Apa itu sekolah internasional juga?" tanya Bayu berturut-turut seolah tidak sabar mendapatkan jawaban dari istrinya.


I-iya. Aku sudah membawa semua persyaratan pendaftarannya dan akan menyerahkannya besok, jawab Nayla yang benar-benar gugup karena berbohong pada suaminya.


"Akhirnya kamu berguna juga Nayla. Biasanya hanya aku yang memikirkan tentang sekolah Caca. Sekarang kamu benar- benar berguna setelah memutuskan resign dari pekerjaanmu," tukas Bayu seolah menyindir Nayla dan keputusan Nayla untuk resign dari pekerjaannya.


Helaan nafas Nayla yang terdengar frustasi itu terdengar oleh Bayu melalui teleponnya. Kemudian dia berkata,


"Kamu tidak perlu khawatir. Kita sedang melakukan hubungan suami istri yang keren saat ini. Banyak juga yang hidup jauh dari pasangan mereka. Dan mereka hanya bertemu satu bulan sekali atau dua bulan sekali. Apa kita melakukan seperti itu saja?" tanya Bayu dengan sangat percaya diri.


Terserah Mas Bayu saja, jawab Nayla dari seberang sana.


"Baiklah, kita bertemu satu atau dua bulan sekali saja. Dan jangan lupa berikan alamat rumah yang kalian tempati saat ini. Rumah itu aman dan nyaman bukan?" tanya Bayu untuk memastikan kondisi tempat tinggal anak dan istrinya.


Bagaimanapun angkuh dan sombongnya Bayu, tetap saja dia mengkhawatirkan anak dan istrinya. Dia juga tidak ingin jika orang menyalahkannya karena anak dan istrinya yang tinggal di tempat yang tidak layak.


Kami di sini baik-baik saja. Sudah dulu Mas, aku sudah sampai, jawab Nayla yang berpura-pura sudah sampai di tempat tujuannya.


Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, Nayla segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.


Dia sengaja menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang sekolah dan tempat tinggalnya bersama dengan Calista saat ini. Dan dia sedang tidak ingin mendengar suara suaminya yang hanya akan mengingatkannya pada wanita yang mengangkat teleponnya menggunakan ponsel Bayu tadi pagi.


Nayla kembali menghela nafasnya dan dia memukul-mukul dadanya yang mulai terasa berat dan menghimpit.

__ADS_1


__ADS_2