
Nayla tidak kehilangan akal. Dia mencoba menghubungi ibu mertuanya. Tapi dia sadar jika mungkin saja Bayu melarangnya untuk menerima panggilan teleponnya.
"Sepertinya aku tidak bisa menghubunginya sekarang. Lebih baik aku menghubunginya nanti pada saat malam hari," ucap Nayla sembari mengunci ponselnya.
Di dalam rumah yang penuh kenangan itu, air mata Nayla kembali turun membasahi pipinya. Hari-hari bahagianya bersama Calista kembali terbersit dalam ingatannya.
Dia memandang foto Calista dalam ponselnya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat foto-foto Calista yang diambilnya pada saat bermain air di sungai dan bermain sepak bola di desa waktu itu. Dan dia juga melihat foto mereka bersama pada saat berada di desa itu.
Namun, beberapa detik kemudian bibirnya bergetar dan keluarlah suara tangisnya. Dia tidak bisa lagi menahan rasa sesak yang ada dalam dadanya.
Tangannya memukul-mukul dadanya, berharap agar rasa sesak itu segera reda. Sayangnya, semakin dia mengingat akan Calista, semakin sakit dalam dadanya.
Tangisan Nayla terdengar sangat menyayat hati. Di rumah yang sepi itu dia sendiri menangisi nasib rumah tangganya. Hingga tanpa sadar dia tertidur karena kelelahan menangis.
Saat dini hari, Nayla terbangun. Dia melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya. Kemudian dia segera menghubungi nomor ponsel ibu mertuanya.
"Angkat… angkat… aku mohon Bu, angkat…," gumam Nayla sembari menelepon ibu mertuanya.
Di lain tempat, ponsel Bu Ratmi berdering. Bu Ratmi yang tertidur dengan nyenyak tidak mendengar suara ponselnya yang berdering.
Namun, ada tangan lain yang mengambil ponsel tersebut karena merasa tidurnya sangat terganggu oleh suara dering ponsel tersebut yang secara terus menerus berbunyi.
"Halo."
Caca?! seru Nayla ketika mendengar suara Calista yang menjawab panggilan telepon tersebut.
Calista yang masih setengah sadar, dia membuka matanya dan melihat nama si penelpon pada layar ponsel tersebut.
"Mama?!" seru Calista keceplosan memanggil mamanya.
Setelah itu dia menutup mulutnya dan beranjak dari tempat tidurnya untuk menjauh dari neneknya yang masih tidur dengan nyenyak.
Calista mencari tempat paling nyaman. Sayangnya semua sudut ruangan tersebut seolah tidak bisa dipakainya untuk bersembunyi.
__ADS_1
Akhirnya dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
"Mama… Mama apa kabar? Mama baik-baik saja kan?" tanya Calista yang terdengar cemas akan mamanya.
Mama baik-baik saja. Caca bagaimana? Apa Caca baik-baik saja? tanya Nayla dengan suara yang bergetar.
"Caca baik-baik saja Ma. Mama jangan menangis. Caca di sini baik-baik saja. Kata Papa, Mama akan segera menyusul kemari. Kapan Mama datang kemari?" tanya Calista pada mamanya dengan sangat antusias.
Terdengar helaan nafas dari Nayla. Dia benar-benar sudah kecewa dengan suaminya. Sikap suaminya yang masih saja egois dan arogan itu, membuat Nayla bimbang untuk memperbaiki kembali hubungannya dengan suaminya.
Apalagi dia mengingat tentang kebiasaan suaminya yang berbicara sepanjang malam dengan wanita dalam kamar hotelnya, membuat Nayla semakin bimbang.
Ca, apa Caca tidak ingin kembali bersekolah di desa itu? tanya Nayla dengan penuh harap pada putrinya.
"Tentu saja Caca ingin sekali kembali ke sana. Mama jemput Caca kemari kan?" tanya Calista dengan sangat antusias pada mamanya.
Mama ingin menjemputmu Ca. Tapi Mama tidak ingin tinggal di sana. Mama ingin tinggal di tempat yang nyaman denganmu, jawab Nayla yang terdengar lesu.
"Caca! Kamu di mana?"
Calista menjauhkan ponselnya darinya dan berseru,
"Di dalam kamar mandi Nek!"
"Ma, sudah dulu ya. Nenek mencari Caca," ucap Calista, dan dengan segera dia mematikan ponsel tersebut tanpa mendengar jawaban dari mamanya.
Calista segera mengantongi ponsel tersebut dalam saku piyamanya. Kemudian dia keluar dari kamar mandi dan merebahkan kembali tubuhnya di samping neneknya yang ternyata sudah tertidur kembali.
Tangan Calista terulur mengembalikan ponsel tersebut di atas meja yang ada di sebelah tempat tidur mereka.
Kemudian dia kembali memejamkan matanya, dengan harapan esok akan bertemu dengan mamanya.
Keesokan harinya Nayla kembali menghubungi Bayu. Dia menginginkan agar Calista bisa kembali bersamanya bersekolah dan tinggal di tempat yang Calista inginkan. Sayangnya Bayu menolaknya. Dia sudah memutuskan dan tidak ingin diganggu gugat.
__ADS_1
Nayla masih saja bersikeras untuk mempertahankan keinginannya membawa Calista tinggal dan bersekolah di tempat yang dikehendaki oleh Calista.
Dia sudah berjanji pada dirinya akan memperjuangkan kebahagiaan putrinya. Oleh sebab itu dia menolak untuk pindah bersama dengan Bayu. Dia ingin menjemput Calista, sayangnya Bayu tidak mengijinkannya.
Terjadilah perdebatan antara Bayu dan juga Nayla di telepon. Mereka saling mempertahankan keinginannya sehingga tidak ada titik temu dalam perdebatan mereka.
Hingga akhirnya kata cerai terucap dari mulut Nayla. Dia mengancam akan menggugat cerai Bayu jika tidak diijinkan membawa Calista untuk tinggal bersamanya.
"Aku sudah banyak bersabar dan berusaha untuk rumah tangga kita. Tapi apa? Sepertinya hanya aku saja yang berjuang. Selama ini kamu hanya memerintah dan tidak mau tau. Dan akhirnya aku tau apa yang kamu lakukan di luaran sana. Jujur saja, aku sangat kecewa padamu," tutur Nayla dengan suara yang bergetar.
Terdengar helaan nafas Bayu di telepon. Kemudian dia berkata,
Apa kamu akan menikah dengan laki-laki sialan itu jika kita bercerai?
"Kenapa kamu menghubungkan masalah kita dengannya? Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita. Bahkan aku tidak bertemu dengannya setelah aku kembali ke kota. Jangan mengalihkan permasalahan. Cepat bawa Caca kembali ke kota ini," ujar Nayla dengan emosinya.
Kenapa kamu jadi keras kepala begini? Kamu tidak seperti Nayla yang aku kenal, ucap Bayu dari seberang sana.
"Aku bukan lagi Nayla yang lemah dan selalu menurut padamu. Aku ingin memperjuangkan kebahagiaan putriku meskipun harus melawanmu," sahut Nayla yang masih dikuasai emosinya.
Aku tidak akan membiarkan Caca bersamamu. Aku tunggu kamu di sini dan aku beri waktu hingga besok, tukas Bayu yang masih tidak mau kalah dengan istrinya.
"Kembalilah ke sini bersama dengan Caca. Kita bicarakan di sini," sahut Nayla yang mencoba membujuk Bayu.
Kami tidak akan kembali ke sana. Kamu yang harus ke sini atau–
"Cerai," sahut Nayla mencoba mengancam suaminya.
Seketika Bayu menutup panggilan teleponnya setelah mendengar kata cerai dari istrinya. Dia sangat marah dan emosi.
"Argh!" teriak Bayu sambil melempar ponselnya ke tempat tidurnya.
Di menjambak rambutnya frustasi memikirkan istrinya yang sudah sangat susah dikendalikannya.
__ADS_1
Dia merasa tidak terima jika istrinya benar-benar menggugat cerai darinya.
"Lihat saja nanti Nayla," geram Bayu sambil mengeratkan giginya.