
Bayu masih saja kepikiran dengan semua perkataan dari Liana. Dia mencoba mengacuhkan semua yang dikatakan oleh Liana padanya.
Namun, semua yang dikatakan dan semua pesan dari Liana itu selalu terngiang di pikirannya.
"Sepertinya aku harus menemui mereka setelah penerbangan ini," ucap Bayu setelah menghela nafasnya yang terasa sedikit sesak karena selalu terngiang perkataan Liana.
Hari ini Bayu melakukan penerbangan hanya sehari saja. Setelah itu dia mendapatkan libur.
Bayu berniat sepulang dari penerbangannya itu akan mengunjungi anak dan istrinya. Dia mengirim pesan pada Nayla agar memberikan alamat tempat tinggalnya bersama dengan Calista saat ini.
Namun, setelah beberapa menit, Nayla belum juga membalas pesannya, sehingga Bayu mengirim pesan pada Calista untuk menanyakan alamat tempat tinggal mereka.
Bayu melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dia kembali menghela nafasnya karena kesal tidak mendapatkan balasan dari pesan yang dikirimkannya pada anak dan istrinya.
Dengan segera dia mematikan ponselnya karena pesawat akan segera lepas landas.
Di tempat yang berbeda, Nayla merasa bingung dan cemas setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh suaminya. Dia sengaja tidak membalasnya karena bingung bagaimana dia akan memberikan alamat pada suaminya.
Sangat tidak mungkin jika dia memberikan alamatnya yang sesungguhnya pada suaminya.
"Bagaimana ini? Pasti Mas Bayu sangat marah jika tau aku dan Caca tinggal di desa. Apalagi jika dia mengetahui tempat tinggal kami dan sekolah Caca. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Nayla yang sedang berjalan mondar-mandir sambil berpikir.
Sedangkan di sekolah, tiba-tiba ponsel Calista bergetar sebelum bel masuk berbunyi. Calista pun melihat pesan yang dikirimkan oleh papanya. Dia tidak membalas pesan tersebut karena dia juga takut jika papanya mendatangi mereka dan marah karena mamanya berbohong akan sekolahnya.
"Huuufffttt… aku harap Papa tidak akan marah nantinya. Lebih baik aku matikan saja HP ini," ucap Calista seraya mematikan ponselnya.
Begitu pula dengan Nayla. Selama beberapa menit dia belum menemukan ide untuk membalas pesan suaminya.
"Lebih baik aku matikan saja HP ini," tukas Nayla seraya tangannya bergerak untuk mematikan ponselnya.
Setelah itu dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan diletakkan di dalam lemari pakaiannya.
"Huuufffttt… semoga semuanya akan baik-baik saja," ucap Nayla setelah menghela nafasnya.
Kemudian dia bergegas keluar dari kamarnya untuk segera menuju perkebunan teh tempat dia mencari nafkah saat ini.
Cuaca yang cerah pada hari ini tidak secerah hati dan pikiran Nayla. Hati dan pikirannya terasa tidak nyaman sekali. Terlihat jelas pada wajah Nayla yang menggambarkan banyaknya masalah dalam pikirannya saat ini.
"Apa ada masalah Nay?" tanya seorang wanita paruh baya yang menjadi rekan kerja Nayla.
Nayla tersenyum padanya dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,
__ADS_1
"Tidak ada Bu."
Wanita tersebut mengernyitkan dahinya seolah tidak percaya pada jawaban Nayla. Kemudian dia berkata,
"Lalu, mengapa wajahmu mengatakan sebaliknya? Sepertinya kamu sedang menghadapi banyak masalah."
Sontak saja Nayla memegang wajahnya dan meraba-rabanya seolah mencari tahu apa yang ada di wajahnya.
Wanita tersebut terkekeh melihat tingkah Nayla yang dirasanya sangat lucu untuk usia Nayla saat ini. Kemudian dia berkata,
"Tidak ada apa-apa di wajahmu Nay. Kamu tetap cantik. Ibu hanya bercanda saja. Ayo cepat kita selesaikan pekerjaan kita, agar kita bisa cepat pulang."
Setelah hari menjelang sore, Nayla pulang dari pekerjaannya. Seperti biasa, dia melewati lapangan sepak bola untuk menjemput Calista. Dan benar saja, Calista memang berada di sana.
Nayla melihat Calista yang terlihat sangat bahagia bermain bola bersama dengan teman-teman laki-lakinya. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana aku bisa menghilangkan senyum, tawa dan kebahagiaan itu darinya? Selama ini dia tidak menikmati hidupnya sesuai dengan usianya. Apa aku harus merampas hari-harinya yang sangat dinikmatinya seperti sekarang ini?"
Nayla masih berdiri dan melihat dari tepi lapangan tersebut. Dia memperhatikan setiap gerakan Calista yang memang handal di antara lainnya. Dia sangat menyayangkan bakat Calista yang tidak mempunyai tempat untuk menyalurkannya.
"Aku akan mencari cara untuk melindungi kebahagiaan Caca. Aku harus bertahan dan mencari cara untuk melindunginya," ucap Nayla lirih dengan pandangannya yang masih saja tertuju pada putrinya.
"Mama!" seru Calista sambil melambaikan tangannya pada Nayla.
"Ayo pulang Ca!"
Calista pun mengangguk dan berpamitan pada teman-temannya. Setelah itu mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan dan mengayun-ayunkan gandengan tangan mereka seperti biasanya.
Seusai membersihkan badannya, Calista duduk di dekat mamanya dan berkata,
"Ma, tadi Papa mengirim pesan padaku. Papa menanyakan alamat tempat tinggal kita saat ini. Bagaimana Ma? Apa yang harus kita lakukan? Caca yakin Papa akan marah jika mengetahui kita berdua tinggal di desa dan rumah yang seperti ini. Terlebih lagi sekolah Caca yang hanya sekolah biasa saja di desa."
Nayla yang sedang mengambil nasi untuk Calista, kini menghentikan gerakannya. Dia menatap ke arah putrinya seraya berkata,
"Lalu, apa yang kamu katakan pada Papamu?"
"Caca tidak menjawab apa pun Ma. Caca matikan saja HP nya," jawab Calista sambil tersenyum lebar pada mamanya.
Nayla tersenyum dan mengusap lembut rambut Calista. Kemudian dia berkata,
"Sebenarnya Mama tadi juga mendapatkan pesan dari Papa. Papamu menanyakan hal yang sama dengan yang ditanyakan padamu. Dan Mama juga tidak menjawabnya. Bahkan HP Mama saja masih mati sampai sekarang."
__ADS_1
"Jadi Mama juga mematikan HP Mama?" tanya Calista yang seolah tidak percaya dengan pendengarannya.
Nayla menganggukkan kepalanya serta tersenyum pada putrinya dan berkata,
"Mau bagaimana lagi? Mama tidak tau harus menjawab apa."
Mereka pun tertawa bersama membayangkan Bayu yang sedang marah karena tidak bisa menghubungi mereka berdua.
...----------------...
Keesokan harinya, Bayu yang baru saja keluar dari bandara melihat ponsel yang ada dalam sakunya. Dia menghela nafasnya karena tidak ada balasan dari anak dan istrinya untuk pesan yang dikirimnya kemarin.
"Kenapa mereka berdua kompak sekali tidak membalas pesanku? Apa mereka berdua kembali berulah? Atau mungkin apa yang dikatakan oleh wanita kemarin semuanya benar? Tapi sangat tidak mungkin sekali seorang Nayla bisa selingkuh," ucap Bayu sambil tersenyum di akhir ucapannya.
Namun, senyum Bayu terasa getir tatkala terlintas kembali ucapan Liana kemarin tentang perselingkuhan Nayla dengan Devan.
"Lebih baik aku ke sana saja. Aku akan mendatangi alamat yang diberikan wanita itu," gumam Bayu seraya menarik kopernya menuju mobilnya.
Sesampainya di rumah, dia segera membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya.
Dia berjalan menuju dapur untuk mencari makanan. Dibukanya lemari es untuk melihat apa saja yang bisa dimakannya. Sayangnya tidak ada apa pun yang bisa dimakan olehnya.
"Lebih baik aku makan di jalan saja," ucap Bayu seraya tangannya menutup lemari es tersebut.
Bayu mengendarai mobilnya sesuai dengan arah GPS yang menunjukkan arah menuju alamat yang diberikan oleh Liana.
Dia menggerutu di sepanjang perjalanannya. Jalanan di sana tidak semulus di kota. Bahkan banyak ternak yang mengganggu jalanan masuk ke desa itu.
Sampailah Bayu pada titik lokasi yang ditunjukkan oleh GPS tersebut.
"Aku harus mencarinya ke mana?" tanya Bayu dengan kesalnya.
Tiba-tiba dia melihat beberapa anak yang berjalan dengan memakai seragam sekolah dan membawa tas sekolahnya.
"Aku tanya mereka saja di mana letak sekolah yang bertaraf internasional," Bayu bermonolog pada dirinya sendiri.
Dia keluar dari mobilnya yang sedang diparkirkan di tepi jalan tersebut.
"Permisi adek-adek, saya mau tanya," ucap Bayu menghentikan anak-anak sekolah yang berjalan di depannya.
Seketika mereka semua menoleh ke belakang untuk menghadap orang yang bertanya pada mereka.
__ADS_1
"Papa?!" celetuk Calista tanpa sadar.