
Terdengar helaan nafas yang sangat berat dari Nayla. Calista bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh mamanya. Kemudian dia berkata,
"Ma, Caca tau bagaimana perjuangan Mama selama ini. Caca tau semuanya Ma. Jika Mama sudah memutuskan untuk berpisah dengan Papa, Caca tidak keberatan. Mama harus bahagia dan tidak hanya memikirkan kebahagiaan kami. Caca tidak keberatan Ma. Mama tidak perlu khawatirkan Caca," tutur Calista dengan bijaknya.
Bu Ratmi memandang iba pada cucunya. Dia tahu persis jika Calista berusaha sebijak mungkin untuk membuat keputusan itu.
Nayla tidak bisa berkata-kata, dia menangis dan isakan tangisnya terdengar menyayat hati Calista yang sedang berbicara melalui telepon padanya.
"Ma, Papa sedang sakit. Untuk sementara, Caca tinggal bersama dengan Papa saja. Caca sudah mendapatkan sekolah di sini. Sekolah dan teman-teman Caca di sini sama baiknya seperti di desa waktu itu. Mama tidak perlu mengkhawatirkan Caca dan Papa. Caca baik-baik saja dan senang di sini. Dan Caca akan merawat Papa. Sekarang Mama harus mengkhawatirkan diri Mama sendiri. Mama harus melakukan apa pun yang Mama inginkan. Caca tau Mama punya banyak sekali keinginan yang belum pernah Mama lakukan karena tanggung jawab Mama sebagai seorang Ibu dan istri. Sekarang Mama harus menyenangkan diri Mama sendiri."
Begitu bijaknya perkataan Calista pada mamanya. Dia banyak belajar dari Keyla saat sekamar bersamanya. Kini dia bisa menerapkannya dalam masalahnya.
Isakan tangis Nayla bertambah keras. Nayla merasa dirinya sangat egois saat ini. Tapi apa yang dikatakan oleh Calista sangat benar. Dia sudah lelah menjalani semuanya. Dan kini saatnya dia memikirkan kebahagiaannya sendiri.
Ca, apa kamu tidak ingin tinggal bersama dengan Mama? tanya Nayla di sela isakan tangisnya.
"Siapa bilang Caca tidak ingin tinggal bersama dengan Mama? Caca ingin tinggal bersama dengan Mama dan kita bisa bermain sepuasnya seperti waktu itu. Tapi, tidak sekarang Ma. Caca sudah bersekolah di sini. Caca akan menamatkan sekolah Caca di sini. Hanya kurang beberapa tahun saja Ma. Setelah itu Caca akan tinggal bersama dengan Mama. Lagi pula Papa sedang sakit sekarang, jadi Caca akan menggantikan Mama untuk menjaga Papa," ujar Calista menenangkan mamanya.
Nayla kembali menghela nafasnya, kemudian dia berkata,
Ca, apa boleh Mama berbicara dengan Nenek?
"Sebentar Ma," jawab Calista sembari memberikan ponsel tersebut pada neneknya.
Bu Ratmi mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Calista. Kemudian dia berbicara pada Nayla.
"Halo Nay, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu meminta untuk bercerai?"
Maaf Bu, Nayla tidak bisa mengatakannya sekarang. Nayla hanya ingin tau tentang keadaan Mas Bayu, tukas Nayla pada ibu mertuanya.
Bu Ratmi menghela nafasnya. Dia tidak bisa memaksa Nayla dan Bayu untuk bercerita padanya.
"Trauma Bayu kembali. Dia tidak bisa terbang saat ini. Bahkan dia tidak bisa masuk ke dalam lift," ucap Bu Ratmi pada Nayla melalui telepon.
Nayla terkejut mendengar keadaan suaminya. Dia menyalahkan dirinya saat ini.
Lalu, bagaimana keadaan Mas Bayu sekarang Bu? tanya Nayla kembali.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin melihatnya? Dia rajin konsultasi dan berobat ke dokter. Semoga saja dia cepat pulih seperti waktu itu. Huffft… sebenarnya waktu itu dia bisa sembuh karena kamu. Setelah bertemu denganmu, traumanya hilang seketika. Sekarang, ketika kamu meminta bercerai, trauma itu kembali lagi," ujar Bu Ratmi.
Kini Nayla bertambah merasa bersalah. Dia bingung harus bagaimana. Kebahagiaan dan kebebasan yang diinginkannya tinggal selangkah. Tapi sayangnya dia kembali merasa egois saat ini.
Baiklah Bu, saya akan ke sana besok, ucap Nayla.
Setelah itu mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Bu Ratmi tersenyum pada Calista dan mengusap lembut rambutnya.
Bu Ratmi memberitahukan pada Bayu tentang rencana kedatangan Nayla untuk menemuinya. Bayu dengan tegas menolaknya. Dia hanya mau menemui Nayla jika Nayla kembali padanya dan mengurungkan niatnya untuk meminta cerai darinya.
Bukan karena Bayu benci pada Nayla, tapi tiba-tiba saja dia merasa tidak percaya diri di hadapan Nayla. Jika Nayla membatalkan perceraian mereka, Bayu masih bisa percaya diri di hadapannya. Tapi jika Nayla tetap dengan keinginannya untuk bercerai, dia benar-benar tidak percaya diri menemuinya.
Akhirnya Bu Ratmi tidak bisa membujuk Bayu. Dia memberitahukan pada Nayla tentang keputusan Bayu mengenai kedatangan Nayla ke sana.
Sayangnya, keputusan Nayla sudah bulat. Dia membenarkan perkataan Calista. Dan dia menuruti apa yang dikatakan oleh putrinya itu. Dengan itu dia memutuskan untuk tidak berkunjung ke tempat tinggal Bayu, Calista dan Bu Ratmi.
Hari-hari pun berganti. Proses perceraian Nayla dan bayu sudah selesai. Kini mereka sudah resmi bercerai.
Selama itu, Nayla selalu menghindari Devan. Dia tahu jika Devan sudah bercerai dengan Liana dengan tuntutan harta yang melimpah dari Liana. Devan menuruti permintaan Liana dengan perjanjian dia tidak akan mengganggu hidup Devan lagi.
Dan selama ini pula Nayla kembali bekerja di lain tempat dengan profesi yang sama. Sudah berbulan-bulan sejak perceraian mereka, Nayla dan Devan hanya sesekali berkomunikasi melalui pesan.
Pagi ini Nayla libur dari bekerja. Dia menatap langit yang cerah. Dan itu membuatnya teringat akan Devan.
Segera diambilnya ponsel di sakunya dan mengirim pesan pada Devan.
Kita berangkat sekarang.
Tidak berapa lama, terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Nayla. Dilihatnya pesan tersebut yang merupakan balasan dari Devan.
Kita bertemu di mana?
Nayla pun tersenyum dan mengirimkan balasan pesannya.
Bandara.
Setelah itu mereka berdua bersiap-siap untuk bepergian sesuai dengan janji mereka.
__ADS_1
Nayla memang tidak mau bertemu dengan Devan. Dia ingin meyakinkan hatinya akan perasaannya. Jika dia merasakan yakin pada hatinya, dia akan mengajak Devan bertemu dan bepergian bersama.
Dan kini Nayla sudah merasakan dengan jelas perasaannya. Dia memilih Devan dan menolak untuk kembali rujuk bersama dengan Bayu.
Selama ini Nayla dan Calista setiap hari selalu berkomunikasi melalui telepon dan pesan. Bu Ratmi pun ikut membujuk Nayla agar mau kembali rujuk bersama dengan Bayu.
Semakin hari Calista semakin sulit dihubungi karena sibuknya dia dengan aktifitasnya. Apalagi dia sudah bergabung dengan tim sepak bola sekolah. Nayla dapat melihat kebahagiaan dari wajah Calista ketika mereka sedang melakukan video call.
Bayu pun sudah bisa terbang kembali. Dia berhasil mengatasi traumanya tanpa Nayla di dekatnya.
Kini Nayla sudah tidak menyalahkan dirinya lagi. Keadaan sudah kembali membaik. Dan kini saatnya dia memutuskan hatinya untuk memilih.
Nayla dan Devan berada di sebuah pedesaan yang berada di daerah pegunungan. Mereka sangat menikmati perjalanan dan kebersamaan mereka.
Tiba-tiba Devan berlutut di hadapan Nayla dan mengeluarkan sebuah box kecil yang di dalamnya terdapat sebuah cincin seraya berkata,
"Nay, apa kamu mau menikah denganku?"
Nayla terperangah melihat apa yang dilakukan oleh Devan saat ini. Matanya berkaca-kaca mendapatkan perlakuan Devan yang juga terlihat keseriusan di matanya.
Nayla menganggukkan kepalanya seraya menjawab,
"Ya, aku mau."
Devan tersenyum bahagia. Dia berdiri dan memakaikan cincin tersebut pada jari Nayla. Dia memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Kemudian dia berkata,
"Aku mencintaimu Nayla."
Nayla membalas pelukan Devan dengan erat seraya berkata,
"Aku juga mencintaimu Devan."
Mereka berdua telah menemukan cintanya. Perasaan yang mereka rasakan saat bersama tidak pernah mereka rasakan ketika bersama dengan mantan pasangannya.
Dan satu hal yang membuat Nayla yakin untuk menerima Devan. Calista tidak akan menolak Devan untuk menjadi papa sambungnya. Nayla tahu jika Devan adalah sosok papa yang ideal di mata Calista. Dan Calista pernah mengatakan hal itu padanya.
Kini mereka telah memulai babak baru dalam kehidupan mereka dengan harapan kebahagiaan yang akan selalu menyertai keluarga mereka.
__ADS_1
Nayla dan Devan akan menjadi pasangan yang sangat bahagia dan berlimpah akan cinta serta kasih sayang.
...TAMAT...