
Pagi ini Nayla tidak bisa membujuk Calista untuk kembali bersekolah. Pintu kamarnya dikunci dari dalam, hingga membuat Nayla sangat khawatir dan dia bergegas mengambil kunci cadangan di laci tempat penyimpanan semua kunci cadangan rumah tersebut disimpan.
Nayla menghela nafasnya ketika membuka pintu kamar dan mendapati Calista sedang tidur dengan nyenyaknya. Dia menatap wajah damai putrinya yang membuatnya merasa sangat bersalah padanya.
Ditutupnya kembali pintu kamar tersebut. Sejenak dia berpikir sambil melakukan pekerjaannya untuk memasak di dapur. Setelah beberapa saat dia berpikir, dia bergegas meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Segera dia mengambil tasnya dan bergegas keluar rumah untuk melakukan apa yang sedari tadi sudah dipikirkannya. Langkahnya yang penuh rasa bersalah membuatnya ingin cepat sampai dan menyelesaikan semuanya.
Di sinilah dia sekarang berada. Nala duduk di depan wali kelas Calista. Dia meminta ijin untuk Calista tidak masuk hari ini dan dia ingin menyelesaikan masalah tentang perlakuan teman-teman Calista yang memperlakukannya dengan buruk.
“Terima kasih Ibu sudah datang secara langsung untuk menemui saya dan mengabarkan ini pada saya. Tapi perlu Ibu ingat jika Ibu harus memberikan surat dokter pada saya. Jika tidak, poin Calista akan tetap dipotong sebagai pelanggaran,” tutur seorang wanita yang menjadi guru wali kelas Calista.
“Baik Bu. Saya akan memberikan surat keterangan dari dokter,” ucap Nayla sambil tersenyum sopan pada guru tersebut.
Nayla menggerakkan kursinya agar lebih dekat dengan guru tersebut. Dia menatap guru tersebut dengan tatapan penuh harap seraya berkata,
“Emmm… maaf Bu, saya ingin bertanya tentang teman-teman Calista yang waktu itu. Apa Bu Guru tidak bisa menghukum mereka agar mereka tidak mengganggu putri saya lagi? Menurut pernyataan Calista, mereka selalu saja merundung dan mengganggu putri saya. Setiap hari mereka melakukan itu. Saya kira itu bukan lagi disebut sebagai candaan saja Bu. Kemarin saya mengetahuinya sendiri dan saya menegur mereka dari jauh.”
Guru tersebut menghela nafasnya. Dia menatap Nayla dengan tatapan tegasnya sambil berkata,
“Maaf Bu, jika Ibu ingin menghukum mereka, bukan dengan cara seperti itu. Mereka tidak akan takut jika Ibu menegurnya secara langsung. Bahkan mereka akan mengulanginya lagi dengan merundungnya di tempat lain yang sepi. Bahkan saya tidak berani menegur mereka karena anak tersebut akan disangka mengadu pada saya. Setelah itu mereka pasti akan merundungnya lagi. Jika Ibu ingin benar-benar menghukum mereka, pastikan Ibu menemukan bukti yang kuat untuk memojokkan mereka agar mereka bisa dihukum. Bawakan pada kami rekaman video mereka pada saat mereka sedang merundungnya. Atau bisa juga Ibu bawakan pada saya bukti screenshoot chat mereka yang sedang mengancam atau merundungnya. Maka orang tua mereka tidak akan lagi bisa mengelaknya. Asal Ibu tau, di setiap sudut sekolah ini terpasang CCTV. Jika kami tidak menangkap adanya perundungan yang mereka lakukan, maka mungkin saja mereka lakukan di lain tempat seperti di luar sekolah misalnya.”
__ADS_1
Mendengar penuturan yang panjang dari guru yang menjadi wali kelas Calista itu, Nayla merasakan rasa sakit hati dan kecewa yang sudah pasti dirasakan oleh Calista selama ini.
Dia segera berjalan cepat dan setengah berlari kecil agar cepat sampai di rumah. Sesampainya di rumah, dia segera masuk ke dalam kamar Calista. Nafasnya yang terengah-engah itu, kini diselingi nafas leganya karena melihat putrinya yang masih tertidur dengan pulasnya.
“Caca, bangun Sayang. Kita pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaanmu. Kita harus meminta surat dokter untuk diberikan ke sekolah,” ucap Nayla sambil meletakkan tangannya pada dahi Calista.
Perlahan Calista membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
“Mama… apa badanku panas lagi?” tanya Calista dengan suara lirih dan terdengar sangat berat.
Nayla tersenyum getir seraya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan yang diajukan Calista padanya. Kemudian dia berkata,
“Ayo kita periksa ke dokter dan meminta surat keterangan sakit untuk diberikan pada pihak sekolah.”
“Apa Caca bisa bertahan di sekolah itu? Mama harap Caca bisa melakukannya. Papa bilang jika itu sekolahan terakhir sebelum kamu masuk SMP.”
Calista hanya diam dan menundukkan kepalanya. Terlihat jelas jika Calista sangat enggan berada di sekolah tersebut. Nayla tahu itu. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Semua keputusan sudah dibuat suaminya. dan dia hanya bisa menurutinya karena kekuasaan tertinggi ada pada kepala keluarga yaitu suaminya.
Beberapa pesan dan telepon dari Devan telah diabaikannya sejak dari semalam. Sebenarnya dari hatinya yang paling dalam, dia ingin sekali membalas pesan dan menjawab panggilan telepon tersebut. Tapi dia mengingat perkataan Calista yang mengingatkan akan kecerobohannya pada saat malam itu dia meninggalkan Calista dengan Alvian untuk menemui Devan.
Dia sangat merutuki kebodohannya itu, memang dia merasakan perasaan cinta yang mendalam pada Devan, hanya saja dia tidak bisa mengabaikan Calista yang sangat membutuhkannya dan menjadi prioritas utamanya.
__ADS_1
Wajah Nayla kini terlihat sangat tertekan dan frustasi. Dia merasa hidup yang dijalaninya saat ini begitu berat. Dia tersenyum getir seraya berkata dalam hatinya,
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku selalu berlari dalam hidupku? Tidak bisakah aku sejenak bersantai menikmati hidupku? Aku mempunyai suami, tapi kenapa seolah semua beban ada di pundakku? Bukankah dia partner yang ku miliki untuk menjalankan rumah tangga ini? Kenapa harus selalu aku yang berjuang dan dia hanya memerintah seolah dia seorang raja yang harus selalu dituruti semua perintahnya?
Setelah mereka menyelesaikan sarapannya, Nayla benar-benar mengantarkan Calista untuk memeriksakan ke dokter. Mereka pergi ke rumah sakit yang sama dengan tempat dirawatnya Bu Ratmi. Mereka pun mengunjungi Bu Ratmi yang seang melakukan terapi pada kakinya dengan seorang terapis sesuai dengan arahan dokter.
Hari itu berlalu begitu saja. Nayla yang masih menghindari Devan dan merasakan rindu yang terdalam padanya itu tidak bisa melakukan apa pun. Dia hanya bisa menikmati kerinduannya saat ini. Entah sampai kapan dia menghindarinya, Nayla pun tidak mengerti itu.
Keesokan paginya, Nayla mengantarkan Calista ke sekolah karena badannya sudah tidak panas lagi. Tentunya dia juga membawakan surat keterangan dari dokter untuk diberikan pada wali kelasnya.
Setelah beberapa saat berlalu, terdengar suara dering telepon pada ponsel Nayla. dia menghela nafasnya dengan berat karena yang ada dalam pikirannya hanya Devan yang menghubunginya. Dia memang tidak membaca semua pesan dan mengangkat semua telepon dari Devan karena dia takut jika Devan mengatakan sedang membutuhkan, maka tanpa pikir panjang lagi dia akan berlari padanya.
Setelah panggilan pertama berakhir, ponsel Nayla kembali berdering. Diambilnya ponsel itu dari atas meja yang tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.
Saat ini Nayla sedang menata ulang dua lemari es yang mempunyai empat pintu. Sengaja dia melakukan itu agar dia bisa melupakan pikirannya dari Devan.
Dahi Nayla mengernyit melihat nama si penelepon yang tertera pada layar ponselnya. Segera dia menekan tombol hijau pada layar ponselnya dan menjawab telepon tersebut.
“Halo, selamat pagi,” sapa Nayla untuk mengawali percakapan mereka.
Selamat pagi Bu, kami hanya ingin memberitahukan bahwa Calista tidak ada di kelasnya. Menurut CCTV yang kami lihat, dia keluar dari sekolah beberapa saat yang lalu, ucap guru wali kelas Calista dari seberang sana.
__ADS_1
Dengan segera Nayla mematikan telepon tersebut dan segera mengambil tasnya. Kemudian dia berjalan cepat setengah berlari menuju sekolah Calista sembari menghubungi nomor ponsel putrinya itu.
Pikiran Nayla kini sangat kalut. Lagi-lagi putrinya itu membolos dan berada di suatu tempat. Kini dia hanya bisa berharap untuk menemukannya dan mendengarkan apa yang menjadi kemauannya.