Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 23 Dilema


__ADS_3

"Mama… air… air… Mama…."


Calista mengigau mencari Nayla untuk memberinya minum.


Kini Calista berada di tempat tidurnya dengan kompres yang menempel di dahinya.


"Ca, ini Mama Sayang. Ini minumnya," ucap Nayla sambil memberikan sedotan ke dalam mulutnya.


Mata Calista perlahan terbuka, bibirnya yang kering menandakan tidak berdayanya dia saat ini.


"Masih panas badannya," ucap Nayla sambil meletakkan telapak tangannya pada dahi Calista.


Calista mengangguk dan meminum air putih tersebut melalui sedotan yang diberikan Nayla padanya.


"Minum obat dulu ya," ucap Nayla sambil memegangi tengkuk Calista untuk membantunya meminum air.


Calista pun mengangguk setuju. Dengan segera Nayla memberikan obat penurun panas dengan memberikannya obat ke dalam mulutnya dan kembali memberinya air minum.


Setelah menelan obatnya, Calista kembali memejamkan matanya. Dengan telatennya Nayla merawat anaknya yang sedang sakit. 


Kini pikiran Nayla semakin resah. Dia bimbang karena pekerjaan yang mengharuskannya untuk tidak pulang dalam beberapa hari berikutnya.


Mengingat pekerjaannya, Nayla pun kembali mengingat jika dia belum ijin pulang tadi siang. Segera diambilnya ponsel yang ada di atas meja Calista dan dia segera menghubungi Dimas yang merupakan atasannya dalam bekerja.


"Halo, maaf Pak, saya tadi siang harus segera meninggalkan kantor karena anak saya sedang sakit. Maaf saya tidak ijin tadi siang," ucap Nayla melalui telepon.


Kamu memang seorang ibu dan selalu saja anakmu yang menjadi alasanmu. Kamu tau konsekuensinya kan Nayla? omel Dimas dari seberang sana.


"Maaf Pak. Memang keadaannya seperti ini. Saya tidak tau harus bagaimana lagi Pak," jawab Nayla dengan penuh penyesalan.


Sepertinya kamu harus sadar jika kamu sudah waktunya resign Nayla. Besok kamu akan digantikan oleh yang lainnya. Dan saya tunggu surat pengunduran diri kamu di kantor, suara Dimas terdengar marah di telepon.


"Baik Pak," ucap Nayla lirih.


Setelah itu dia menyudahi panggilan teleponnya dan dia menghela nafasnya.


Helaan nafas Nayla terdengar sangat frustasi. Dia benar-benar dilema saat ini. Tapi memang dia berniat untuk tidak melakukan pekerjaan itu besok, mengingat Calista tidak ada yang menemani.

__ADS_1


Matanya menatap Calista yang sedang tidur dengan nyenyak setelah meminum obatnya. 


Dia tidak menyangka jika putrinya itu sudah bertambah besar. Dan dia menyadari kesibukannya yang hampir tidak bisa menemani putrinya itu di saat tersulitnya.


Kini penyesalan itu kembali hadir setelah beberapa waktu lalu selalu menghantui pikirannya.


Aku terlalu sibuk untuk mencari uang tanpa mengerti kemauan Caca. Mungkin beginilah cara dia memprotes agar aku bisa selalu ada untuknya. Aku sudah putuskan untuk resign dari kerja. Dan aku tidak boleh menyesalinya, Nayla berkata dalam hatinya sambil memperhatikan wajah Calista yang sedang tertidur.


...----------------...


Di tempat lainnya, sepasang suami istri sedang duduk berhadapan di meja makan. 


"Makanlah terlebih dahulu. Setelah itu kita bicara," ucap Devan pada Liana yang sedang duduk di depannya.


Liana hanya menatap makanan yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang tidak biasa. 


"Aku baru pulang Sayang, apa tidak sebaiknya kita berbicara besok saja? Sekarang sudah malam, sebaiknya kita istirahat saja setelah makan," ucap Liana sambil tersenyum menggoda suaminya.


Devan menghentikan makannya. Diletakkannya sendok dan garpunya pada piringnya. Kemudian dia berkata,


"Apa kamu tidak ingin bertanya tentang Keyla?"


"Apa ada yang perlu aku ketahui selain kematiannya?" 


Devan menatap mata istrinya itu dengan tatapan kesal. Dia menahannya selama beberapa hari setelah kepergian Keyla dan ucapan istrinya itu kali ini telah membangkitkan kemarahannya.


"Dia anakmu. Apa kamu tidak sedikitpun merasa ingin tau tentangnya? Tentang kematiannya?" tanya Devan dengan suara yang terdengar menahan kemarahannya.


"Tidak. Aku tidak mau dengar. Aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa berada dekat dengannya pada saat terakhirnya. Apa aku tidak boleh mengatasi rasa bersalahku?" sahut Liana dengan tatapan amarahnya.


"Tapi tidak dengan cara menghindarinya. Keyla anakmu dan sudah seharusnya kamu menangisi kepergiannya. Tapi ini apa? Bahkan kamu tidak menginginkan pemakamannya. Dan…."


Devan berapi-api mengatakannya, tapi dia tidak bisa meneruskan perkataannya. Dia tidak ingin mengungkit kembali rasa sakitnya ketika mengetahui apa yang terjadi sebelum kecelakaan Keyla.


Merasa kemarahannya semakin terpancing, Devan segera meninggalkan istrinya yang masih duduk di kursinya.


Di ruang makan itu Liana mengeluarkan air matanya. Dia mencoba kuat untuk mencapai obsesinya, sayangnya dia juga masih punya hati yang bisa merasakan kesedihan, sehingga kini dia menangis.

__ADS_1


Air mata itu pertama kalinya keluar setelah kematian Keyla. Dia sibuk untuk mencapai obsesinya dan menyingkirkan segala yang menjadi halangan untuk meraih keinginannya.


Devan sangat marah, dia tidak bisa lagi menahan amarah di depan istrinya. Cukup sudah dia memahami sikap istrinya yang bertindak seenaknya tanpa memperhatikan sekitarnya.


Air matanya tak tertahankan ketika dia mengingat tentang Keyla. Dia merasa sedih mendengar percakapan di telepon sebelum dia mengalami kecelakaan.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada tempat lagi yang ada dalam pikirannya kecuali kantornya.


Di dalam kantornya itu, Devan menumpahkan semua kemarahannya. Dia mengeluarkan air matanya yang menyesakkan dadanya.


Dalam kesedihannya itu dia mengingat Nayla yang dengan kelembutan dan kasih sayangnya itu dia bisa memeluk Devan dan menenangkannya ketika sedang bersedih seperti sekarang ini.


Segera diambilnya ponsel dalam saku celananya. Dia mencari nomor Nayla dan mengirimkan pesan untuknya.


......................


Dalam kamar Calista, Nayla sibuk mengganti kompres dan memeriksa suhu badan putrinya itu. 


Dia menghela nafasnya, lega mendapati suhu badan putrinya yang sudah turun dan sudah tidak mengigau lagi.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Nayla. Segera diambilnya ponsel tersebut dari meja yang terletak tidak jauh dari tempat tidur Calista.


Datanglah. Aku sangat membutuhkanmu saat ini. Aku berada di kantor restoran jalan XWZ.


Pesan dari Devan itu membuat Nayla menjadi gusar. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia mencemaskan keadaan Devan yang sangat rapuh saat ini.


Mengetahui permasalahan Devan membuat Nayla masuk ke dalam lingkaran perasaan yang mengaitkan antara mereka berdua.


Nayla melihat Calista yang tidur dengan nyenyak. Dia menempelkan telapak tangannya untuk memeriksa suhu badan Calista.


Tanpa berpikir panjang, tangannya mencari nomor kontak Alvin. Dia menyuruh adiknya untuk datang ke rumah ibu mertuanya dan menunggu Calista yang sedang tidur.


Hanya dalam beberapa menit saja Alvin datang ke rumah itu. Kebetulan saat itu juga taksi pesanan Nayla baru datang. 


"Alvin, tolong jaga Caca sebentar. Dia sedang demam, tapi suhu badannya sudah turun. Dia sedang tidur nyenyak sekarang," ucap Nayla sambil terburu-buru berjalan cepat keluar rumah.


"Kak, Kakak mau ke mana?" tanya Alvin menyertai kepergian Nayla.

__ADS_1


Tentu saja dia tidak mendapatkan jawaban dari Nayla. Kakaknya itu sudah masuk ke dalam taksi dan dengan cepatnya taksi tersebut melaju sesuai dengan perintah dari Nayla.


__ADS_2