
Setelah beberapa langkah, Devan berhenti tepat di tengah-tengah cafe tersebut. Dia membuka map tersebut untuk melihat surat perceraian yang telah ditandatangani oleh Liana.
Mata Devan terbelalak ketika melihat isi dari map tersebut. Dengan segera dia menoleh ke belakang untuk melihat kembali pria yang memberikan map padanya tadi.
Dalam hati dia mengutuk istrinya yang telah tega mempermainkannya. Dipandanginya kembali isi dari map tadi dengan nafasnya yang memburu.
Pria yang memberikan map ini adalah papa dari Calista. Suami dari Nayla. Silahkan berkenalan dengannya!
Pesan yang tertulis pada kertas di dalam map tersebut membuat Devan sangat kecewa pada istrinya. Dalam hati dia berkata,
Ternyata dia hanya membodohiku. Dia menyia-nyiakan waktuku. Dan kini dia mempertemukan aku dengan suami Nayla. Sayangnya aku hanya menurut saja seperti orang bodoh.
Drrrttt… drrrttt… drrrtttt…
Ponsel Devan bergetar dalam saku celananya.
Devan segera mengambil ponsel dari saku celananya dan dia melihat nama Liana pada layar ponselnya.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan?" tanya Devan dengan suara lirih dan menekankan semua katanya.
Aku hanya ingin memperkenalkanmu dengan suami Nayla. Aku yakin kamu belum pernah bertemu dengannya. Bahkan dia saja tidak tau siapa kamu dan nama kamu. Sepertinya istrinya tidak pernah menceritakan apa pun tentang kamu dan Keyla yang sangat dekat dengan anak juga istrinya, jawab Liana dengan sinis dan menggebu-gebu.
Devan menahan amarahnya mendengar perkataan Liana. Kini dia sungguh tidak mengenal wanita yang sedang berbicara dengannya melalui telepon itu. Wanita yang akan menjadi mantan istrinya itu telah mempermainkan hati, waktu dan tenaganya.
Dengan segera Devan berjalan keluar dari cafe itu. Setelah berada di luar cafe, dia berkata,
"Apa maumu? Mana surat cerainya?" tanya Devan dengan geram.
__ADS_1
Aku akan mengantarkannya padamu, jawab Liana, setelah itu dia mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.
Devan mengeram menahan amarahnya. Dengan hati yang penuh kekesalan, Devan segera mengendarai mobilnya meninggalkan cafe tersebut.
Liana tersenyum sinis melihat Devan yang masuk dalam jebakannya. Kini dia memperhatikan Bayu yang masih berada di dalam cafe tersebut.
Bayu tampak beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju kasir untuk membayar pesanannya.
Setelah membayar bill tagihannya, Bayu dihentikan oleh kasir tersebut ketika akan beranjak dari depan kasir.
"Maaf Pak. Tadi ada seorang wanita yang menitipkan ini untuk Bapak," ucap seorang kasir pada Bayu seraya memberikan sebuah amplop coklat.
Dahi Bayu mengernyit melihat amplop coklat yang diulurkan kasir tersebut di hadapannya. Dengan ragu-ragu dia menerima amplop coklat tersebut dari tangan kasir itu.
Dia membolak-balikkan amplop coklat tersebut yang tidak ada tulisan apa pun. Sebenarnya dia enggan menerima dan membuka amplop itu, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa enggannya.
Matanya terbelalak membaca tulisan yang tertera pada kertas tersebut. Sontak saja dia menoleh ke seluruh ruangan untuk mencari seseorang.
Di dalam cafe tersebut masih tidak ada pengunjung lain sehingga dengan mudahnya Bayu bisa mencari sosok orang yang dicarinya.
Merasa orang tersebut tidak ada di dalam cafe itu, Bayu segera keluar cafe tersebut dan mencari orang yang sedang dicarinya di tempat parkir yang ada di luar cafe.
Bayu merasa seperti dipermainkan, dia kembali melihat kertas tersebut dan kembali membacanya.
Pria yang bernama Devan tadi adalah selingkuhan istrimu, Nayla.
Membaca tulisan itu kembali membuat Bayu terkekeh dan berkata,
__ADS_1
"Nayla selingkuh? Tidak mungkin. Dia wanita yang tidak akan melakukan hal seperti itu."
Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar. Diambilnya ponsel dari dalam saku celananya. Panggilan telepon itu tidak langsung diangkatnya karena dia melihat nomor asing pada layar ponselnya.
Lagi-lagi rasa penasarannya mengalahkannya. Diangkatnya panggilan telepon itu untuk mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.
"Halo," sapa Bayu dengan tegas.
Perkenalkan, saya Liana, istri dari Devan, orang yang baru saja kamu temui. Bagaimana menurut anda Pak Bayu? Apa anda akan terima begitu saja perselingkuhan antara istri anda dengan suami saya? Suara Liana terdengar melalui telepon.
"Apa maksudnya? Saya sama sekali tidak mengerti. Dan istri saya tidak mungkin selingkuh," sahut Bayu dengan tegas.
Terdengar tawa Liana yang terdengar mengejek di telinga Bayu. Tentu saja Bayu sangat kesal. Dia hendak menyudahi panggilan telepon tersebut, sayangnya suara Liana menghentikannya.
Jika kamu tidak percaya, datanglah ke sana, tempat di mana istrimu dan suamiku saling bertemu dan mungkin saja mereka hidup bersama di sana, tutur Liana mencoba meyakinkan Bayu.
Setelah itu Liana mematikan panggilan teleponnya, sehingga membuat Bayu merasa semakin penasaran.
Sedetik kemudian terdengar suara notifikasi dari ponsel Bayu. Dibukalah pesan yang baru saja dikirim oleh Liana.
"Desa? Apa wanita ini tidak salah orang? Nayla dan Calista tidak mungkin hidup di desa," gumam Bayu sambil terkekeh membaca alamat yang dikirimkan oleh Liana.
Terdengar kembali suara notifikasi pesan dari ponselnya. Dibukanya kembali pesan tersebut.
Jika kamu tidak ke sana sekarang juga, maka kamu akan menyesal karena tidak mengetahui istrimu yang sedang berselingkuh dengan suamiku.
"Apa aku harus ke sana?" gumam Bayu sambil berpikir.
__ADS_1