Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 25 Sebuah perasaan


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang terdapat di lantai dua. Seorang wanita dewasa sedang duduk di sebuah sofa menghadap ke arah jendela kaca menikmati indahnya matahari yang sedang terbit.


Seorang pria dewasa menghampirinya dengan membawa dua cangkir kopi dan duduk di sebelah wanita cantik tersebut.


Pria tersebut memberikan secangkir kopi pada wanita cantik itu sambil berkata,


“Minumlah.”


Duduklah pria tersebut di sebelah wanita cantik itu. Mereka menikmati indahnya matahari yang terlihat malu-malu ketika akan terbit. Pemandangan itu terlihat sangat indah dari tempat itu. Ruangan yang dipenuhi dengan jendela kaca itu dapat melihat begitu jelas suasana pagi kota tersebut.


Wanita cantik tersebut menerima cangkir kopi itu dan tersenyum manis padanya. Kemudian dia berkata,


“Terima kasih.”


Pria tersebut membalas senyuman manis wanita cantik tersebut. Kemudian dia menatap lurus ke depan sambil berkata,


“Sangat indah bukan?”


Wanita tersebut menoleh ke samping kirinya, di mana pria itu duduk dengan menikmati secangkir kopi dan menikmati pemandangan pagi itu.


“Sangat indah Dev,” jawab Nayla.


“Jangan lupakan saat ini Nay. Simpanlah kenangan ini sebagai kenangan yang sangat berharga,” tutur Devan dengan melemparkan senyuman manisnya pada wanita yang kini menempati ruangan tersendiri dalam hatinya.


Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui apa yang dikatakan Devan padanya.


Devan melingkarkan tangan kanannya pada pundak Nayla. Diraihnya pudak Nayla dan dibawanya mendekat padanya.


Nayla meletakkan kepalanya pada pundak Devan dan dalam hati dia berkata,


Pemandangan mentari pagi yang terbit dari lantai dua ini tidak akan bisa aku lupakan.


Beberapa saat mereka terlena oleh suasana pagi itu. Hingga Nayla teringat akan Calista yang sedang membutuhkannya.


Nayla menarik kepalanya dari sandaran pundak Devan dan dia berkata,

__ADS_1


“Dev, aku harus pulang sekarang. Caca sedang sakit semalam.”


Devan mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari wanita yang terlihat sedang cemas itu. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


“Caca sedang sakit dan kamu semalam berlari ke sini menemuiku?”


Nayla yang sedang cemas kini gugup mendengar pertanyaan dari Devan. Dia menghela nafasnya dengan berat dan berkata,


“Aku juga tidak tau, kenapa aku bisa berlari menemuimu setelah mendapat pesan darimu.”


Devan tersenyum mendengar jawaban dari Nayla yang terlihat polos dari wajahnya. Tangan Devan mengusap lembut rambut Nayla sambil berkata,


“Itu perasaanmu yang sesungguhnya.”


Kemudian Devan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Nayla untuk membantunya beranjak dari duduknya.


“Ayo aku antar pulang,” ucap Devan sambil tersenyum manis pada Nayla.


Nayla melihat uluran tangan Devan dan menerima uluran tangan itu. Mereka berjalan keluar dari kantor tersebut sambil bergandengan tangan. Dalam hati Nayla berkata,


Seandainya bisa, aku tidak ingin melepas tangan ini.


“Aku antar ke mana Nay? Ke rumahmu waktu itu atau ke rumah mertua kamu?” tanya Devan sambil mengemudikan mobilnya.


“Ke rumahku yang waktu itu saja Dev,” jawab Nayla yang terlihat cemas.


Devan sedikit melirik Nayla yang duduk di sampingnya. Dia tahu betul keresahan Nayla. dia meletakkan tangannya pada tangan Nayla dan menggenggamnya sambil tersenyum dan berkata,


“Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.”


Nayla tersenyum pada Devan dan berkata dalam hatinya,


Perkataan ini yang selalu ingin aku dengar ketika aku sedang cemas dan khawatir. Sayangnya aku tidak mendapatkannya dari suamiku.


Setelah beberapa saat, mobil Devan berhenti tepat di depan rumah Nayla. Keadaan sekitar masih sangat sepi karena masih terlalu pagi untuk beraktivitas.

__ADS_1


“Terima kasih Dev,” ucap Nayla sambil melepaskan sabuk pengamannya.


“Aku yang harus berterimakasih padamu. Kamu selalu bisa membuatku nyaman dan melepaskan semua kesedihanku,” ucap Devan dengan tatapan mata yang menyiratkan ketulusannya.


Nayla pun turun dari mobil tersebut dan dia melepaskan kepergian Devan hingga mobilnya tidak terlihat lagi olehnya.


Nayla menghirup dalam-dalam udara dan menghela nafasnya secara perlahan. Berkali-kali dia melakukan itu agar kegundahan dalam hatinya bisa berkurang.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang ditujukan padanya. Nayla menoleh ke belakang di mana mobil tersebut telah berhenti.


Keluarlah seorang laki-laki dari mobil tersebut yang berwajah datar menghampirinya. Kemudian dia berkata,


“Apa kamu menungguku semalaman di sini? Kenapa kamu tidak pulang saja? Aku di rumah Ibu menunggu Caca yang sedang sakit. Teganya kamu pergi meninggalkan anak ketika dia sedang sakit. Pulanglah, dia selalu memanggil namamu.”


Setelah mengatakan itu, Bayu berjalan masuk ke dalam rumah. Nayla kembali menghela nafasnya. Kemudian dia berjalan meninggalkan rumah tersebut untuk kembali ke rumah ibu mertuanya.


Bayu menatap pintu rumahnya selama beberapa detik. Dia mengernyitkan dahinya sambil berkata,


“Kenapa dia lama sekali? Apa dia tidak masuk ke dalam rumah?”


Bayu kembali berjalan keluar rumahnya. Matanya mencari sosok istrinya yang menurutnya akan mengikutinya masuk ke dalam rumahnya. Sayangnya dia tidak mendapatkan sosok istrinya itu di mana pun.


“Apa dia benar-benar sudah pergi? Harusnya dia tetap masuk ke dalam rumah meskipun aku menyuruhnya untuk cepat kembali pulang ke sana. Bodoh sekali dia. Bukannya dia datang ke sini untuk mencariku?” Bayu menggerutu ketika tidak mendapati istrinya di depan rumahnya.


Sedangkan Nayla, dia memerintahkan pada taksinya agar secepatnya bisa sampai di rumah ibu mertuanya. Dia sangat cemas pada keadaan Calista. Dan dia menyalahkan dirinya yang dengan cerobohnya bisa begitu saja meninggalkan Calista yang sedang sakit untuk menemui laki-laki yang bukan suaminya.


Ya Tuhan… apa yang ku lakukan? Kenapa aku bisa seceroboh ini? Kenapa aku bisa dengan mudahnya berlari menemuinya dan meninggalkan Caca yang sedang sakit? Nayla berkata dalam hatinya.


Seketika dia terlintas bayangan malam itu. Dia dan Devan menghabiskan malam bersama di ruangan kantornya. Nayla kembali menghela nafasnya. Dadanya terasa sesak dan matanya berkaca-kaca mengingat perbuatannya semalam. Dalam hati dia berkata,


Aku tau ini salah. Sangat salah. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku sangat mencintainya dan aku membutuhkannya. Aku tidak pernah merasakan perasaan cinta yang sebesar dan sekuat ini. Aku… aku ingin bersamanya. Seandainya saja aku bertemu dia sebelum Mas Bayu melamarku…


“Sudah sampai Bu,” ucap sopir taksi ketika mobilnya sudah berhenti di depan rumah ibu mertua Nayla.


Ucapan sopir tersebut menyadarkan Nayla akan lamunannya. Segera dia membayar ongkos taksi tersebut dan dia segera berlari masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Nayla kembali menghela nafasnya ketika membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Dia kembali kecewa dengan suaminya yang meninggalkan anaknya begitu saja tanpa mengunci pintunya.


Namun, kekecewaannya itu segera hilang tatkala dia mengingat kesalahannya semalam yang juga meninggalkan anaknya dan berlari menemui lelaki lain yang sedang menunggunya


__ADS_2