Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 50 Trauma


__ADS_3

Bayu menerima telepon dari maskapai penerbangannya. Dia bergegas menuju kantornya saat itu juga.


Tangannya memencet tombol pada lift untuk membuka pintunya. Tapi ketika Bayu akan masuk ke dalam lift tersebut, dia mundur kembali. Tiba-tiba dia merasa takut untuk masuk ke dalam lift tersebut.


Bayangan Nayla yang berbicara dengannya kala itu dan suara Nayla yang mengatakan tentang perceraian membuat rasa percaya diri Bayu pudar. Bahkan dia terbayang akan percakapannya bersama dengan Devan yang seolah merendahkan dirinya karena emosi dan amarahnya kala itu.


Bayu mencoba masuk kembali ke dalam lift, tapi gagal. Dia tetap tidak bisa melakukannya. Traumanya kini kembali lagi. Trauma yang sudah bertahun-tahun lalu itu hilang, kini datang kembali.


Bayu merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. Dia merasa gemetaran dan berkeringat dingin saat ini. Dia segera menghubungi kantor dan mengatakan alasan untuk tidak bisa datang saat ini.


Dia sakit, dia benar-benar sakit dan harus segera ditangani. Trauma itu sangat menyakitkan baginya, sehingga dia harus berusaha bertahan dan melawan rasa takutnya untuk bisa keluar dari trauma yang sedang dihadapinya.


Bayu mengendarai mobilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetaran menuju rumahnya.


"Bayu, kok sudah pulang? Cepat sekali?" tanya Bu Ratmi ketika melihat Bayu masuk ke dalam rumah dengan penampilannya yang berantakan.


Bayu mengacuhkan ibunya. Dia tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia hanya berjalan masuk ke dalam rumah dengan berjalan gontai dan penampilannya sedikit berantakan, tidak serapi pada saat berangkat tadi.


Bu Ratmi menarik tangan Bayu yang sedang berjalan sedikit sempoyongan sehingga badan Bayu terhuyung menghadap ibunya.


"Bayu, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bu Ratmi yang merasa khawatir melihat keadaan putranya saat ini.


Bayu menghempaskan tangan ibunya dan berjalan ke arah sofa. Dia duduk di sofa tersebut dan menundukkan kepalanya, serta kedua tangannya berada di kepalanya, menjambak rambutnya. Kemudian dia berkata,


"Traumaku kembali Bu."


"Apa?!" seru Bu Ratmi sembari beranjak berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Tiba-tiba aku tidak bisa masuk ke dalam lift. Aku takut. Aku sudah berusaha, tapi gagal," ucap Bayu yang kini sudah terisak menangisi kondisinya.


Bu Ratmi duduk di sebelah Bayu dan mengusap lembut punggungnya seraya berkata,


"Kenapa bisa begitu?" 


Helaan nafas panjang dari Bayu terdengar sangat memprihatinkan bagi Bu Ratmi.


"Nayla ingin bercerai dariku. Tiba-tiba rasa percaya diriku hilang seketika. Aku tidak bisa masuk lift. Aku yakin jika aku tidak bisa terbang untuk sementara ini," jawab Bayu dengan lesu dan menjambak rambutnya layaknya orang yang sedang frustasi.


"Apa? Bercerai? Nayla minta bercerai? Ada apa ini sebenarnya?" tanya Bu Ratmi sembari beranjak dari duduknya karena kaget mendengar tentang keinginan menantunya untuk berpisah dengan putranya.


Bayu kembali menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Kini dia menyadari arti Nayla dalam hidupnya. Bahkan ucapan Nayla tentang perceraian mereka yang belum terjadi pun sangat berefek dalam dirinya.


Namun, harga diri Bayu masih sangat tinggi. Dia tidak mau memohon pada Nayla agar tidak meninggalkannya. Dia lebih mementingkan harga dirinya yang nantinya pasti akan terinjak-injak jika dia memohon pada istrinya.


Bayu yakin jika dia menahan Calista bersamanya, maka Nayla akan kembali bersamanya. Bayu sudah melupakan Nayla yang sudah merubah sikapnya. Dia lupa jika Nayla sudah bertekad untuk tidak menurut padanya dan hanya mementingkan kebahagiaan anaknya saja.


"Lebih baik kamu berobat dulu Bayu. Usahakan agar kamu bisa cepat pulih dan bisa kembali bekerja," tutur Bu Ratmi seraya mengusap lembut punggung putranya.


Tanpa mereka ketahui, Calista mendengarkan pembicaraan papanya dan neneknya. Matanya berkaca-kaca ketika mendengar tentang perceraian kedua orang tuanya. 


Namun, dia tetap mendengarkan semua pembicaraan tersebut agar dia tahu apa yang akan dilakukannya.


Sepertinya semua ini terjadi karena ku, Calista berkata dalam hatinya.


Setelah percakapan antara papanya dan neneknya selesai, Calista bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia kembali berpikir tentang kehidupannya dan keluarganya.

__ADS_1


Bukan kali pertama ini saja Calista dituntut untuk berpikir tentang hal ini. Anak sekecil dia sudah harus dituntut untuk mengerti kehidupan dan mengerti akan pentingnya pekerjaan kedua orang tuanya.


Kini dia kembali harus memikirkannya. Sayangnya kali ini dia harus berpikir lebih bijak karena kedua orang tua mereka tidak akan tinggal bersama lagi. Dan dia yakin jika kedua orang tuanya akan memperebutkannya.


"Caca akan tetap bersama dengan kita Bu. Jangan biarkan Nayla mengambilnya. Dia harus mau tinggal bersama dengan kita di sini dan membatalkan keinginannya untuk bercerai," tutur Bayu dengan tegas pada ibunya.


Bu Ratmi pun mengangguk. Dia memegang tangan putranya untuk menguatkannya. Dia hanya bisa melakukan itu untuk saat ini, karena dia tidak bisa banyak berkata. Dia yakin akan menambah masalah jika dia ikut campur dalam masalah putranya dengan istrinya.


Hari pun berganti. Nayla sibuk mencari tahu yang diinginkan oleh hatinya. Dia juga sibuk mencari cara agar bisa berkomunikasi dengan Calista, putrinya.


Sedangkan Bayu, dia tetap dengan pendiriannya. Dia tidak bisa menerima keputusan Nayla untuk bercerai dengannya. Dia menunggu kedatangan Nayla ke tempat tinggal mereka saat ini.


Benar saja, Nayla tidak datang ke tempat mereka. Saat ini Nayla sangat kebingungan karena tidak bisa menghubungi suaminya. 


Ponsel Bayu sengaja dimatikan. Dia ingin fokus pada pengobatan. Dia tidak ingin terpuruk dan ditertawakan Nayla serta Devan karena berakhir seperti itu.


"Nek, kenapa Mama tidak datang ke sini?" tanya Calista pada Bu Ratmi.


Bu Ratmi memandang iba pada cucunya. Bu Ratmi tidak pernah mengira jika Bayu dan Nayla akan bercerai. Dia memang keras dan seolah cuek pada menantunya, tapi dia tidak pernah mempunyai pikiran jika mereka akan bercerai.


"Lebih baik kamu hubungi saja mamamu," jawab Bu Ratmi yang tidak tega mengatakan tentang perceraian kedua orang tuanya pada Calista.


Calista pun mengulurkan tangannya pada neneknya untuk meminta ponselnya agar bisa menghubungi mamanya. Bu Ratmi pun segera memberikan ponselnya pada Calista.


Bu Ratmi tidak meninggalkan Calista, dia duduk sedikit menjauh darinya. Dia ingin mendengarkan percakapan antara Calista bersama dengan mamanya.


"Halo, Mama. Kapan Mama ke sini?" tanya Calista ketika Nayla baru saja menjawab panggilan teleponnya.

__ADS_1


Ca, Mama akan menjemputmu untuk tinggal bersama dengan Mama. Kita akan hidup di tempat yang kamu inginkan. Apa kamu tetap ingin tinggal dan bersekolah di desa itu? tanya Nayla melalui telepon pada Calista.


"Ma, apa Mama akan bercerai dengan Papa?" tanya Calista dengan serius pada mamanya.


__ADS_2