Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 35 Fakta baru


__ADS_3

Malam ini malam yang sangat membahagiakan bagi Devan dan Nayla. Mereka memang pernah mempunyai malam terindah bersama, tapi untuk malam ini terasa berbeda dengan malam itu.


Malam ini mereka merasa layaknya keluarga utuh yang sangat bahagia. Terutama dengan melihat senyum serta tawa Calista saat itu.


Tidak dipungkiri juga jika Devan dan Nayla menyukai situasi saat ini. Mereka bisa lebih tenang dan tentunya sangat bahagia berada di tempat yang tepat dengan orang yang sangat membuat mereka nyaman.


"Kalian menginap di mana? Biar aku antarkan kalian pulang," ucap Devan ketika mereka berjalan meninggalkan pasar malam tersebut.


Nayla memandang Devan dengan tatapan keberatan. Sungguh dia tidak ingin Devan mengetahui tempat tinggalnya saat ini. Dia takut jika dia tidak bisa menghindar lagi darinya.


Devan tersenyum mengetahui Nayla yang keberatan akan keinginannya. Kemudian dia berkata,


"Aku hanya ingin mengantarkan kalian pulang saja. Sungguh aku tidak ada niatan apa-apa."


"Benar Ma, apa Mama tidak takut hanya kita berdua saja yang berjalan di jalanan yang sepi seperti itu?" tanya Calista sambil menunjuk jalanan yang ada di hadapan mereka.


Nayla tersenyum kaku. Dia tidak bisa mengelak lagi. Tidak dipungkiri jika dia juga takut hanya berdua saja dengan Calista melewati jalanan yang sepi. Apalagi mereka hanya pendatang dari kota yang tidak tahu apa-apa tentang desa tersebut.


Tanpa menunggu persetujuan dari Nayla, Devan menggandeng tangan Calista dan mengajaknya berjalan beriringan.


Mereka bertiga kembali berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju tempat penginapan Nayla dan Calista.


"Maaf Dev merepotkanmu," ucap Nayla yang merasa sungkan pada Devan.


Devan menoleh ke arah Nayla yang ada di sampingnya. Dia tersenyum seraya berkata,


"Itu sudah menjadi tugas pria Nay. Seorang pria sejati harus bisa menjaga dan melindungi perempuan."


Entah mengapa ucapan dari Devan membuat hati Nayla tergerak. Dia merasa sangat bersyukur dengan adanya Devan bersama mereka saat ini.


"Itu dia tempat tinggal kami untuk sementara di sini Om," seru Calista sambil menunjuk sebuah rumah kecil dan sederhana.


Devan mengernyitkan dahinya. Dia tidak menyangka jika Nayla dan Calista bisa tinggal di sebuah rumah yang jauh dari kata bagus. Hanya saja rumah tersebut terawat dan bersih.

__ADS_1


"Kalian benar tinggal di rumah itu?" tanya Devan yang memandang tidak percaya pada rumah tersebut.


"Iya, benar Dev. Saat ini kami tinggal di sana," jawab Nayla membenarkan pertanyaan Devan.


"Kalian bisa tinggal di sana?" tanya Devan kembali seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nayla padanya.


Nayla tersenyum mendengar pertanyaan dari Devan. Dia tahu jika Devan tidak akan bisa percaya jika dia dan Calista tinggal di sebuah rumah yang kondisinya jauh dari rumah mereka di kota.


"Rumah itu nyaman Dev. Meskipun kecil, rumah itu bersih dan bisa membuat kita betah di sana," tutur Nayla dengan memberikan senyumnya yang bisa menenangkan hati Devan.


Devan tersenyum mendengar perkataan Nayla. Dia bertambah kagum pada sosok wanita yang diam-diam sudah bersarang dalam hatinya.


Devan berpindah ke tengah. Kini dia berdiri di antara Nayla dan Calista. Tangan kanannya berada di pundak Nayla dan tangan kirinya berada di pundak Calista. 


Kemudian Devan mendorong pelan tubuh ibu dan anak itu seraya berkata,


"Sudah malam, masuklah. Aku akan melihat kalian hingga kalian masuk ke dalam rumah. Setelah itu aku akan pergi."


Nayla dan Calista hanya bisa menurut, mereka tidak bisa menolaknya. Tangan Nayla enggan menutup pintu rumah tersebut. Dia masih menatap Devan dari celah pintu yang masih belum ditutup olehnya.


"Cepatlah tidur. Ingat, besok pagi Caca akan mencoba ikut sekolah di sekolah yang ada di desa ini."


"Terima kasih Dev," ucap Nayla dari dalam rumah.


Suara Nayla itu membuat Devan merasa ingin memeluknya. Tidak dipungkirinya jika dia sangat merindukan Nayla. Bahkan dia ingin memeluknya jika tadi tidak ada Calista di antara mereka.


Bukan hanya Devan, Nayla pun demikian. Rasa nyaman bersama dengan Devan membuat Nayla selalu ingin bersamanya.


Setelah beberapa saat Devan berada di depan rumah tersebut. Dia kembali ke rumah pamannya.


Tadinya dia akan pulang tadi. Tapi kenyataannya dia tidak bisa begitu saja menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersama dengan Nayla dan Calista.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Devan. Segera diambilnya ponsel yang tergeletak di meja kamarnya, berharap yang menghubunginya adalah Nayla.

__ADS_1


Namun, harapannya telah pupus. Bukan nama Nayla yang tertera di layarnya. 


Dengan rasa malasnya dia menjawab panggilan telepon tersebut.


"Halo."


Sayang, kamu di mana? Kenapa kamu tidak ada di kantor? Apa kamu sudah berada di rumah? Aku sedang berada di kantormu sekarang, terdengar suara wanita dari seberang sana.


Devan memejamkan matanya. Dia mencoba sebisa mungkin untuk bersikap biasa pada istrinya. Semakin hari, hubungan mereka semakin renggang dikarenakan keegoisan Liana.


"Aku menjenguk Keyla," jawab Devan singkat.


Keyla? Lagi-lagi Keyla. Kamu hanya peduli pada Keyla. Dan kamu menikahiku hanya karena Keyla, seru Liana yang terdengar marah dan tidak terima ketika mendengar nama Keyla keluar dari bibir Devan.


"Kamu salah. Aku menikahimu karena aku memang tertarik padamu saat itu. Dan Keyla, aku memang menyayanginya seperti anakku sendiri," tutur Devan dengan sangat tegas.


Lagi-lagi Liana menyulut emosi Devan. Malam ini Devan kembali marah pada istrinya.


Ditutupnya panggilan telepon tersebut tanpa menunggu perkataan dari istrinya. Devan merasa benar-benar lelah sekarang. Dia lelah menghadapi istrinya dan lelah mengetahui satu persatu kenyataan tentang istrinya.


Tanpa disadari oleh Liana, Devan bertemu dengan teman-teman Liana. Mereka menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Devan.


Devan benar-benar terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya. Mereka mengatakan bahwa Liana mempunyai hubungan dengan seniornya. Mereka berdua hidup bersama hingga Liana mengandung anak mereka.


Setelah Liana melahirkan, dia meninggalkan anak tersebut pada ayah dari anaknya itu. Liana tetap ingin mengejar karirnya, dan dia menyalahkan Keyla yang hadir dalam hidupnya karena memperlambat karirnya.


Tidak hanya satu orang saja yang mengatakan itu. Bahkan Devan menemui orang yang berbeda dan orang tersebut pun menceritakan hal yang sama padanya.


"Hufffttt.. baru saja satu fakta yang aku temukan, tapi sudah membuatku membencinya," ucap Devan sambil mengusap-usap wajahnya dengan frustasi.


Tiba-tiba Devan teringat akan ponsel Keyla dan rekaman telepon terakhir Keyla bersama dengan Liana. Kemudian dia berkata,


"Ah… ternyata aku melupakan sesuatu yang sangat penting."

__ADS_1


Segera dia mengambil tasnya dan memeriksa dalam tas tersebut. Dia menghela nafas lega ketika barang yang dicarinya masih ada di dalamnya. Dan dia berkata,


"Syukurlah benda ini masih ada di sini."


__ADS_2