
Devan segera datang ke rumah yang menjadi tempat tinggal Nayla dan Calista di desa itu.
"Nay, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Devan ketika sudah sampai di rumah tersebut.
Nayla terlihat gelisah dan cemas saat ini. Dia tidak bisa berpikir dengan baik. Bahkan dia tidak berganti baju setelah bekerja dari perkebunan teh tadi.
"Caca Dev, Caca dibawa papanya pulang ke kota. Aku harus ke sana sekarang. Sepertinya dia sangat marah. Pasti Caca sangat ketakutan sekarang ini. Dia membutuhkan aku Dev. Aku akan ke sana sekarang. Aku harus pulang sekarang," ucap Nayla yang terlihat sangat cemas.
Devan meraih tangan Nayla dan memegang kedua tangannya untuk menenangkannya. Dia menatap lekat manik mata Nayla seraya berkata,
"Nay, tenang. Semua akan baik-baik saja. Aku akan mengantarkan kamu ke kota sekarang juga."
Mata Nayla yang berkaca-kaca membuat Devan semakin iba padanya. Dia ingin sekali memeluk dan menenangkannya, sayangnya dia sadar jika dia tidak boleh egois.
Nayla menganggukkan kepalanya dan segera mengambil tas miliknya dan milik Calista untuk dibawa kembali pulang ke kota.
Dalam perjalanan menuju ke kota, Nayla hanya diam saja. Dia tampak gelisah dan tidak bisa tenang.
Devan mengerti kegelisahan Nayla. Dia lebih mempercepat laju mobilnya agar mereka bisa cepat sampai di kota.
Berkali-kali Nayla mencoba menghubungi Calista, sayangnya ponsel Calista tidak dapat dihubungi. Nayla bertambah cemas karenanya. Dia mencoba menghubungi ponsel Bayu, tapi semua panggilannya hanya menjadi panggilan tak terjawab saja.
"Nay, tenanglah. Sebentar lagi kita sampai," tutur Devan mencoba untuk menenangkan Nayla.
Nayla hanya menoleh ke arah Devan dan dia berkata,
"Aku hanya khawatir pada Caca Dev."
Devan tersenyum tanpa menoleh ke arah Nayla. Dia tetap memandang ke arah depan, fokus pada kemudi dan jalanan seraya berkata,
"Aku sudah tau itu Nay. Kamu pasti akan mengkhawatirkan Caca meskipun dia sedang bersama orang terdekatnya. Kamu memang ibu yang baik. Aku sangat tau itu."
Air mata yang menggenang di pelupuk mata Nayla pun akhirnya turun membasahi pipinya. Dia benar-benar teringat akan Calista ketika mendengar perkataan Devan. Bahkan dia kini menyalahkan takdir yang tidak mempertemukan mereka lebih cepat sehingga dia tidak menjadi istri dari seorang Bayu.
__ADS_1
Devan menepikan mobilnya. Dia mengusap lembut air mata Nayla yang membasahi pipinya seraya berkata,
"Jangan menangis Nay, aku mohon."
Nayla menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tidak menangis lagi.
Setelah itu Devan kembali melajukan mobilnya dengan lebih cepat agar cepat sampai di kota.
Mobil Devan berhenti tepat di depan rumahnya yang dihuni bersama dengan Bayu.
"Terima kasih Dev. Maaf aku tidak bisa menyuruhmu untuk mampir," ucap Nayla dengan terburu-buru.
Devan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Hubungi aku jika kamu butuh bantuan atau terjadi sesuatu. Aku pasti akan datang menemuimu saat itu juga."
Nayla pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perkataan Devan.
Setelah itu dia turun dari mobil dan dia mengambil barang-barangnya di bagasi mobil dengan dibantu oleh Devan.
Devan pun demikian. Dia tidak peduli jika Bayu mengetahuinya mengantarkan Nayla pulang ke rumah tersebut. Dia lebih peduli dengan keselamatan Nayla dan Calista.
Berkali-kali Nayla membuka pintu rumah tersebut, tapi sayangnya dia tidak bisa membukanya.
Dia mengambil kunci yang ada di tasnya dan membuka pintu rumah tersebut. Masuklah dia dengan tergesa-gesa ke dalam rumahnya.
Namun, rumah itu kosong seolah tidak berpenghuni. Dia meletakkan tas miliknya dan milik Calista di lantai. Dia segera berlari mencari Calista di setiap ruangan rumah itu.
Tapi semuanya sia-sia. Dia tidak menemukan Calista atau pun Bayu di dalam rumah itu.
Segeralah Nayla mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Dia sangat panik dan tidak sabar menunggu teleponnya dijawab oleh suaminya.
"Halo, di mana Caca? Aku sudah di rumah, kenapa kalian tidak ada di sini?" tanya Nayla bertubi-tubi ketika panggilan teleponnya dijawab oleh Bayu.
__ADS_1
Tunggu di sana. Aku akan segera ke sana, jawab Bayu singkat, setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya.
Badan Nayla serasa seperti tidak bertulang, dia terduduk lemas di lantai, merasa dipermainkan oleh suaminya.
Bahkan ponselnya berdering pun dia enggan untuk menjawabnya. Apalagi pada layar ponselnya tertera nama Devan. Dia tidak ingin menjawabnya karena dia tidak mau membebani Devan dengan keadaannya saat ini.
Ternyata Devan masih berada di dekat rumah Nayla. Dia merasa tidak tenang meninggalkan Nayla saat ini. Apalagi dia melihat Nayla yang membuka sendiri pintu rumah tersebut menggunakan kunci yang dibawanya. Dalam pikiran Devan saat ini, Bayu tidak ada dalam rumah tersebut.
Berkali-kali Devan menghubungi Nayla, tapi semua panggilan teleponnya hanya berakhir sebagai panggilan tak terjawab saja.
Hingga dia melihat ada sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut. Dia melihat Bayu yang keluar dari mobil tersebut seorang diri.
Devan masih saja berada di sana. Dia khawatir pada Nayla yang berada di dalam rumah itu. Bahkan dia melihat raut penuh amarah dan emosi pada wajah Bayu ketika turun dari mobilnya.
Nayla segera berdiri dari duduknya di lantai ketika melihat Bayu berjalan ke arahnya. Kemudian dia berkata,
"Mana Caca? Di mana dia? Aku ingin bertemu dengannya."
"Dia ada bersama dengan Ibu di rumah. Biarkan dia berada di sana dan kita selesaikan masalah kita sekarang juga," jawab Bayu dengan tegas seraya duduk di kursi.
Nayla mengikuti Bayu, dia pun duduk di kursi berhadapan dengan suaminya itu.
Bayu menatap tajam seolah menyelidik dan mencari tahu dari mata Nayla. Kemudian dia berkata,
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubunganmu dengan laki-laki itu. Apa yang kalian lakukan di desa itu bersama? Dan… apa benar kalian berselingkuh?"
Nayla menghela nafasnya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh suaminya padanya.
Dia benar-benar kecewa pada suaminya yang hanya mempermasalahkan hal tersebut. Hal-hal yang melukai harga dirinya tanpa menghargai istri dan anaknya.
Dia menatap intens manik mata suaminya seraya berkata,
"Apa hanya itu saja yang ada dalam pikiranmu? Apa kamu tidak menanyakan terlebih dahulu tentang Caca untuk kedepannya? Apa tidak bisa kamu dengarkan terlebih dahulu kemauan anakmu? Dia anak kita satu-satunya. Tidak bisakah kita hidup dengannya tanpa menjauhkannya dari kita meskipun dengan alasan pendidikan yang lebih bagus?"
__ADS_1
Bayu menatap tajam pada istrinya dan mengepalkan tangannya. Kemudian dia berkata,
"Lalu, apa maumu?"