
Pagi ini Nayla menyempatkan dirinya untuk mengantarkan Calista ke sekolahnya. Dia memandang sekilas café milik Devan yang berada di depan sekolah Calista.
“Mama, Caca akan ada tes masuk klub sepak bola nanti. Doakan Caca agar bisa masuk klub sepak bola sekolah ya,” ucap Calista sambil memegang kedua tangan Nayla.
Nayla tersenyum dan sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi badannya. Kemudian dia berkata,
“Mama yakin jika anak Mama ini pasti bisa menjadi anggota klub sepak bola sekolah. Anak Mama ini jago sekali bermain bola. Jadi, Caca tidak perlu khawatir dan yakin pada kemampuan Caca sendiri. Ok?!”
Calista tersenyum lebar mendengar ucapan Mamanya. Dia pun mencium kedua pipi Mamanya sebagai ungkapan sayang dan rasa terima kasihnya.
“Caca masuk sekolah dulu Ma. Mama hati-hati ya,” ucap Calista sambil melambaikan tangannya dan berjalan masuk ke dalam sekolahan.
Nayla melepas senyumnya mengiringi langkah kaki anaknya ke dalam sekolahan. Dia kembali menatap café milik Devan yang tentu saja tidak ada Devan di sana. Café milik Devan lebih dari satu dan kantor yang ditempatinya tiap hari ada di café utamanya.
Berulang kali Nayla menyingkirkan bayangan tentang wajah sedih Devan yang sedang memeluknya. Sayangnya, bayangan itu sering hadir di kala dia sedang sendiri.
“Hufffttt… apa yang sedang aku pikirkan?” ucap Nayla lirih setelah menghela nafasnya.
Entah mengapa langkah kakinya kini terasa berat, seolah dia tidak ingin meninggalkan tempat itu. Tapi dia tidak bisa begitu saja menuruti firasatnya. Pekerjaan yang menuntut tanggung jawabnya sedang menantinya. Dan dia tidak bisa begitu saja mengabaikan tanggung jawabnya itu.
Berkali-kali Nayla menghela nafasnya ketika berada di kantornya untuk mengurus dan menyiapkan perjalanannya besok. Rasanya dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang berat dalam dadanya.
“Nayla, perjalanan besok adalah ke luar negeri. Jadi kita akan pergi selama tujuh hari. Kamu mengerti bukan?” tanya Dimas dengan serius menatap Nayla.
“Iya Pak saya mengerti,” jawab Nayla sambil menganggukkan kepalanya.
“Usahakan kamu datang tepat waktu dan jangan lagi ada alasan untuk tidak datang. Jika itu terjadi, lebih baik kamu menyerahkan surat pengunduran diri saja,” ucap Dimas untuk memberi peringatan pada Nayla.
__ADS_1
Nayla tersenyum getir mendengar peringatan dari Dimas. Dia sadar jika akhir-akhir ini kehidupannya tidak sejalan dengan keinginannya. Banyak sekali hal yang terjadi hingga membuat Nayla ingin sekali resign dari pekerjaannya.
“Baik Pak,” ucap Nayla sambil menundukkan kepalanya seraya melepas kepergian Dimas dari hadapannya.
Nayla kembali menghela nafasnya. Bahkan saat ini hatinya tidak tenang. Entah apa yang terjadi, dia tidak mengerti. Yang dia tahu hanya hatinya tidak tenang dan pikirannya sedang kacau.
Apa memang seperti ini rasanya akan meninggalkan anak yang sangat butuh ibunya? Bisakah aku bekerja dengan tenang besok ketika ibu masih berada di rumah sakit dan Caca sendirian di rumah? Saat ini aku hanya bisa bergantung pada Alvian. Tapi dia juga tidak bisa sepenuhnya bersama dengan Caca. Mas Bayu? Apa yang bisa aku harapkan dari dia untuk saat ini? Yang dia tau hanya menjaga wibawanya saja.
Nayla berkata dalam hatinya sambil menghela nafasnya berkali-kali, persis sekali seperti orang yang sedang putus asa.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Nayla. Segera diambil ponselnya itu dari saku celananya. Kembali dia menghela nafasnya, berharap tidak terjadi hal yang buruk setelah melihat nama si penelepon pada layar ponselnya.
“Halo Alvian, ada apa?” tanya Nayla yang terdengar sangat cemas.
Alvian, adik Nayla itu kini sedang menjalankan perintah dari Nayla untuk menjemput Calista di sekolah.
Sedangkan Bu Ratmi, ibu mertua Nayla itu kini sedang di rawat di rumah sakit karena pergelangan kakinya cidera karena menendang bola yang saat itu dimainkan Calista dan bergulir padanya. Dan itu membuatnya harus melakukan operasi kecil dan beberapa hari harus berada di rumah sakit.
Seketika Nayla menyambar tasnya dan segera berlari keluar dari kantornya menuju sekolah Calista. Dengan paniknya Nayla menghentikan taksi dan menyuruhnya untuk segera berangkat setelah memberikan alamat yang ditujunya.
Pikiran Nayla kini kacau. Dia hanya memikirkan keadaan anaknya. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Bahkan pekerjaannya pun ditinggalkannya tanpa memberitahukan kepergiannya dari kantor pada rekan atau atasannya.
Dia segera berlari menuju lapangan sepak bola sekolah untuk mencari anaknya. Langkahnya terhenti ketika sudah berada di dekat Calista yang sedang dibujuk oleh Alvian.
Calista menangis sambil tiduran dan menggerak-gerakkan kakinya meneriakkan protesannya tentang hasil pemilihan anggota klub sepak bola. Dia merasa tidak adil dengan hasil tersebut. Nilai praktek Calista sangat memuaskan, akan tetapi dia tidak bisa dimasukkan menjadi anggota klub sepak bola sekolahnya hanya karena dia seorang perempuan.
Kekecewaan Calista sangat besar, hingga dia tidak bisa menerima keputusan tersebut. Dia berdemo seorang diri di lapangan sepak bola itu menuntut ketidak adilan yang telah diterimanya.
__ADS_1
“Caca, ayo pulang Sayang. Ini bukan akhir dari segalanya. Kita pulang sekarang ya,” ucap Nayla yang mencoba membujuk Calista menggantikan Alvian yang sedari tadi gagal membujuknya.
“Tidak mau. Ini tidak adil. Aku menuntut keadilan,” ucap Calista sambil menangis tersedu-sedu.
“Tuntut keadilan! Perempuan boleh masuk klub sepak bola!” teriak Calista menyuarakan tuntutannya.
Seketika Nayla memeluk Calista dan menangisinya. Sungguh malang nasib putrinya ini.
Yang membuat Calista selalu semangat adalah sepak bola. Bahkan nilai pelajarannya pun tergolong biasa saja. Satu-satunya keinginannya hanya ingin menjadi atlet sepak bola wanita.
“Ayo Sayang, kita pulang ya,” ucap Nayla kembali dengan air mata yang menetes di pipinya.
Dia tidak malu pada semua orang tua dan siswa yang memandangi mereka. Dia hanya merasa iba dan bersalah pada putrinya yang tidak ada di sisinya ketika dalam masa sulitnya.
“Sudahlah Kak, sepertinya dia ingin melampiaskan kekesalannya pada mereka saja. Biarkan dia berada di sini sampai dia merasa lelah dan cukup untuk memperjuangkan keinginannya. Setelah itu kita bawa dia pulang,” tutur Alvian pada Nayla.
Nayla pun menuruti apa yang dikatakan oleh adiknya. Tidak ada salahnya memang memberikan kesempatan pada Calista untuk melampiaskan kekesalannya.
Akhirnya Nayla dan Alvian menunggu Calista yang masih saja berjuang meneriakkan keinginannya di sela tangisannya.
Berjam-jam mereka menunggu Calista yang tidak henti-hentinya memperjuangkan haknya. Hingga hari berganti menjadi sore dan tidak ada siswa yang berada di sekolah.
“Sebaiknya kamu pulang saja. Biarkan Kakak yang menemani Caca di sini?” ucap Nayla sambil mengusap pundak adiknya.
“Kakak yakin? Sebentar lagi langit akan gelap dan Caca pasti sangat lelah. Apa Kakak bisa menggendongnya?” tanya Alvian yang terlihat cemas melihat keponakannya.
Nayla mengikuti arah pandang Alvian yang sedang melihat ke arah Calista. Seketika mereka berdua berlari mendekati Calista ketika melihat badan Calista terhuyung seperti kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Bruuuuk!
Tubuh Calista jatuh di atas rerumputan lapangan sepak bola tersebut. Dengan cepatnya Alvian menggendong tubuh Calista dan Nayla berlari berusaha mencari taksi untuk mereka.