
Nayla menghela nafasnya berat setelah menceritakan pada suaminya tentang keberadaannya saat ini.
Tentu saja Bayu sangat marah mendengar bahwa putrinya membolos sekolah dan kini sedang bersenang-senang bersama dengan mamanya.
Apalagi Bayu mendengar dari Nayla sendiri jika dia telah resign dari pekerjaannya mulai hari ini.
Bayu sangat marah hingga setelah mendengar perkataan dari istrinya, segera dimatikannya panggilan telepon tersebut.
"Kenapa Ma? Pasti itu telepon dari Papa ya?" tanya Calista sambil memakan es krimnya.
Nayla menoleh ke arah Calista yang sedang duduk di sampingnya. Kemudian dia menghela nafasnya dan berkata,
"Sepertinya Papamu sangat marah."
"Sudah pasti itu Ma. Lalu, apa yang akan Mama perbuat?" tanya Calista kembali.
Nayla tampak berpikir. Setelah itu senyumnya mengembang dan berkata,
"Mama sudah tidak peduli dengan omelan Papa. Jika dia menghukum kita, lebih baik kita melarikan diri saja seperti hari ini. Kita senang-senang seharian."
Calista tertawa mendengar perkataan mamanya. Baru kali ini dia melihat mamanya seberani itu. Biasanya mamanya itu hanya menurut saja setiap papanya memerintahkannya.
"Wah… Mama keren," ucap Calista seraya mengacungkan jempolnya pada mamanya.
Nayla terkekeh mendengar pujian dari Calista yang terkesan lucu menurutnya. Kemudian dia berkata,
"Setelah ini kita mau ke mana?"
Mata Calista berputar memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh mamanya. Kemudian dia berkata,
"Mmm… Bagaimana kalau kita naik wahana yang lain sampai tempat ini tutup Ma? Setelah itu kita ke rumah sakit menjenguk Nenek."
Nayla pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar keinginan dari anaknya. Dia pun merasa lebih bebas dan lepas dari tekanan yang selama ini dirasakannya.
Sedangkan Bayu yang sedang menjenguk ibunya di rumah sakit, dia merasa sangat kesal dengan istri dan anaknya. Hingga tak henti-hentinya dia mengomel dan menyalahkan semuanya pada istrinya.
"Ada apa Bayu? Kenapa kamu terlihat sangat kesal seperti itu?" tanya Bu Ratmi pada Bayu yang baru saja duduk di sebelah tempat tidurnya.
Bayu terlihat sangat kesal. Dia menghela nafasnya dan berkata,
__ADS_1
"Nayla resign dari pekerjaannya. Dan sekarang dia sedang berjalan-jalan dengan Caca tanpa ijin di sekolahnya."
"Caca bolos sekolah?" tanya Bu Ratmi yang terlihat terkejut mendengar apa yang disampaikan Bayu padanya.
Bayu menganggukkan kepalanya. Wajahnya yang terlihat kesal itu membuat ibunya tau jika anaknya itu sedang marah dengan anak dan istrinya.
Bu Ratmi menghela nafasnya. Dia tidak mengira jika menantunya itu sangat ceroboh.
"Aku berangkat sekarang Bu. Ibu tidak perlu khawatir. Operasi Ibu bukan operasi besar. Ibu akan baik-baik saja," ucap Bayu sambil beranjak dari duduknya.
Bu Ratmi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap putranya dan keluarganya yang tidak henti-hentinya meributkan tentang sekolah Calista.
Setelah puas menaiki semua wahana permainan di taman hiburan tersebut, akhirnya Calista memutuskan untuk mengajak Nayla menjenguk neneknya.
Di sinilah mereka berada, di sebuah ruangan rumah sakit tempat Bu Ratmi dirawat.
Mereka berdua duduk di hadapan Bu Ratmi yang menatap mereka dengan tatapan horor.
Sama seperti Bayu, Bu Ratmi pun menanyakan pada Nayla tentang keputusannya untuk resign dari pekerjaannya. Bukan hanya itu saja, Bu Ratmi pun mengomeli Nayla dan Calista yang berani membolos dari sekolah.
Bu Ratmi melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia menatap kecewa pada Nayla dan Calista secara bergantian sambil berkata,
Seketika Nayla dan Calista menundukkan kepalanya secara bersamaan. Mereka tidak berani membantah ataupun menyela perkataan dan omelan dari Bu Ratmi.
Bagaimanapun Bu Ratmi adalah orang yang lebih tua dari mereka dan harus mereka hormati.
"Hufffttt… satu jam lagi kita berada di dalam sana Ma, pasti kita akan pingsan di tempat. Rasanya udara di sana pengap sekali," ucap Calista ketika berjalan keluar dari rumah sakit.
Nayla terkekeh mendengar perkataan dari Calista. Dia mengusap rambut putrinya itu dengan lembut dan berkata,
"Rasanya Mama ingin keluar saat itu juga."
Mereka berdua tertawa bersama. Baru kali ini Nayla merasa menjadi sangat dekat layaknya teman bagi Calista. Biasanya dia hanya dianggap seperti layaknya ibu oleh Calista.
Namun, hari ini dia merasakan semuanya. Dia merasa sangat nyaman mendengarkan cerita dan keluh kesah dari Calista. Dan dia juga bisa merasakan bagaimana kesepiannya Calista tidak memiliki teman dekat serta teman berbagi cerita dan keluh kesah selama ini.
Hanya Keyla yang bisa menjadi teman dekatnya untuk saling berbagi cerita dan keluh kesahnya saat itu. Dan baru beberapa bulan saja mereka bersama, Keyla meninggalkannya.
Sudah pasti rasa kehilangan yang begitu besar dirasakan oleh Calista. Mulai dari situlah dia enggan lagi sekolah di tempat yang mengharuskan tinggal di asrama.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang saja sekarang, Mama belum mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Nayla sambil menggandeng tangan Calista.
"Mama takut dimarahi Nenek ya kalau Nenek sudah pulang ke rumah?" tanya Calista sambil terkekeh.
Nayla menganggukkan kepalanya. Dan mereka berdua tertawa lepas seiring langkah kaki mereka menuju jalan raya.
Sesampainya di rumah, Calista segera menyiapkan buku pelajarannya untuk bersekolah besok. Setelah itu dia belajar pelajaran yang diajarkan hari ini.
Sedangkan Nayla, dia segera membereskan rumah dan mencuci semua pakaian kotor yang ada di keranjang cucian.
Di ruang laundry, Nayla memasukkan semua pakaian kotor itu ke dalam mesin cuci. Kemudian dia duduk di depan mesin cuci tersebut sambil menikmati secangkir kopi yang baru saja dibuatnya.
Rasa lelah dan penat yang dirasakannya seharian ini terasa sedikit berkurang. Dia menghirup perlahan aroma kopi untuk menenangkannya.
Tiba-tiba suara dering telepon terdengar dari ponselnya. Segera diambil dari saku celananya ponsel tersebut.
Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat nama penelepon yang tertera pada layar ponselnya.
Dia segera menerima panggilan tersebut seolah tidak sabar mendengarkan suara si penelpon itu.
"Halo Dev," ucap Nayla mengawali percakapan mereka.
Nay, bagaimana kabarmu hari ini? Apa pekerjaanmu melelahkan? Aku tidak yakin bisa bertahan selama tujuh hari untuk tidak bertemu denganmu. Apa aku egois? Suara Devan terdengar sedih di telepon.
Nayla tersenyum kecut mendengar perkataan dari Devan. Kemudian dia berkata,
"Aku tidak jadi berangkat Dev. Aku resign dari pekerjaanku. Seharian tadi aku menghabiskan waktu bersama dengan Caca di taman hiburan."
Seketika wajah Devan berseri. Dia seperti telah mendapatkan energinya kembali saat ini. Lalu dia berkata,
Apakah kita bisa bertemu sekarang?
"Emmm… aku rasa tidak Dev. Aku lelah, lebih baik kita mengobrol di telepon saja," jawab Nayla dengan cepatnya.
Devan yang sudah berdiri dengan membawa kunci mobilnya, seketika duduk kembali setelah mendengar penolakan dari Nayla. Kemudian dia berkata,
Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?
"Aku sedang mencuci pakaian sambil menikmati kopi," jawab Nayla sambil terkekeh.
__ADS_1
Emmm… Nay, apa kamu pernah berpikir untuk berpisah dari suamimu? tanya Devan yang terdengar ragu di telepon.