Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 33 Pelarian


__ADS_3

Nayla mencoba menghubungi Calista berulang kali, sayangnya panggilannya hanya menjadi panggilan tidak terjawab. Dia berlari menuju taman tempat di mana Calista pada waktu itu berada.


Dengan nafas yang terengah-engah, Nayla memasuki taman. Dia melihat ke penjuru arah untuk mencari sosok putrinya, sayangnya dia tidak berada di sana.


Tidak percaya begitu saja, dia berlari mendekati setiap sudut taman tersebut, tapi hasilnya tetap sama, dia tidak menemukan Calista di sana.


Merasa sangat lelah dan sangat khawatir dengan putrinya, Nayla kembali menghubungi nomor ponsel Calista. Dering yang ketiga, panggilan telepon tersebut diangkat olehnya.


“Caca di mana? Mama akan datang ke sana menjemputmu,” ucap Nayla yang terdengar sangat cemas di telepon.


Calista menjawab dengan suara yang terdengar lemas dan tidak bersemangat. Mendengar suara putrinya yang seperti itu membuat Nayla semakin khawatir padanya.


“Caca tunggu saja di sana dan jangan ke mana-mana. Mama akan segera ke sana. Tunggu Mama,” tukas Nayla seiring langkah cepatnya menuju tempat yang diberitahukan oleh Calista.


Setelah beberapa saat Nayla berjalan cepat dengan setengah berlari kecil, kini dia berada di tempat tersebut.


Nayla menghela nafasnya ketika melihat seorang gadis yang sedang dicarinya sedang bermain bola di tengah lapangan hijau tempat mereka biasanya bermain bola.


Nayla segera berlari menghampirinya. Dia berulang kali menghela nafasnya untuk menetralkan kembali nafasnya yang terengah-engah karena berlari.


Calista terlihat kaget mendapati mamanya berada di sampingnya saat ini yang berusaha mengatur nafasnya setelah berlari. Kemudian dia berkata,


“Mama?! Mama kenapa?”


Nayla masih berusaha mengatur nafasnya. Setelah nafasnya kembali normal, dia berkata,


“Caca kenapa ada di sini? Bukannya tadi Caca sudah masuk ke dalam sekolahan?”


Calista menahan bola itu dengan menggunakan kakinya. Dia menghadap ke arah mamanya sambil berkata,


“Mereka kembali mengejekku karena tidak bisa masuk ke dalam tim sepak bola sekolah. Tidak hanya itu saja, mereka kembali merundungku.”


Nayla menghela nafasnya dengan kasar. Terlihat jelas wajah frustasinya saat ini. Ditengah lapangan yang panas itu, dia memejamkan matanya sejenak. Wajahnya yang terkena sinar matahari itu sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian mata Nayla terbuka. Dia kini sudah memutuskan sesuatu. Apa pun yang akan terjadi dia akan memprioritaskan Calista sebagai putrinya. Dia mendekati putrinya itu dan menggandeng tangannya seraya berkata,


“Caca, bagaimana jika kita liburan ke suatu tempat yang tenang? Di sana kita bisa mengistirahatkan tenaga dan pikiran kita.”


Secercah kebahagiaan tampak pada wajah Calista. Binar matanya menyatakan jika dia sangat bahagia saat ini. Bibirnya pun melengkung ke atas mendengar perkataan mamanya.


“Caca mau Ma,” seru Calista bersemangat.


Namun, sedetik kemudian senyumnya pudar. Calista teringat sesuatu yang menghalangi rencana liburan mereka. Kemudian dia berkata,


“Tapi Ma, bagaimana dengan Papa? Pasti Papa akan marah pada kita. Caca tidak suka jika Papa memarahi Mama. Apalagi selama ini Mama tidak pernah melawan perintah Papa.”


Wajah kesal Calista ketika mengatakan hal itu membuat Nayla terkekeh. Diraihnya tubuh putri kesayangannya itu dalam pelukannya. Kemudian dia berkata,


“Untuk sekarang ini, lebih baik kita bersenang-senang dan menenangkan diri saja. Kita matikan saja handphone kita. Untuk masalah besok, kita pikirkan saja nanti. Bagaimana?”


Calista tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui usulan mamanya. Dia menggenggam dengan erat gandengan tangan mamanya. Mereka berjalan dengan langkah ringan menuju rumahnya meskipun dalam hati Nayla sangat berat dan takut pada suaminya.


Sesampainya di rumah, Nayla dan Calista menyiapkan apa saja yang akan mereka bawa untuk pergi liburan kali ini.


Nayla menghentikan kegiatannya untuk menyiapkan bekal makan mereka. Dia terdiam sejenak untuk memikirkan tempat tujuan mereka. Kemudian dia berkata,


“Mama ingin pergi ke tempat yang tenang untuk sementara waktu. Apa Caca punya tempat yang ingin dikunjungi?”


Calista menganggukkan kepalanya. Dia berjalan mendekati mamanya dan berkata,


“Caca ingin mengunjungi Kak Keyla. Apa Mama mau mengantar Caca ke sana?”


Nayla tersenyum dan mengangguk setuju pada usulan putrinya. Tidak ada alasan untuk tidak mengantarkan Calista mengunjungi Keyla. Mereka bersahabat dekat, sudah pasti jika Calista merasa rindu akan sahabatnya itu.


Dan satu hal lagi yang membuat Nayla menyetujui keinginan Calista, dia tahu jika Devan tidak akan berada di sana. Devan orang yang sibuk, dia tidak akan ada waktu untuk pergi ke sana jika tidak pada momen tertentu.


“Kalau begitu Caca kemasi saja baju dan sebagainya yang sekiranya Caca butuhkan setiap saat,” tukas Nayla sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya.

__ADS_1


Dengan segera Calista pergi ke kamarnya dan memasukkan semua yang dibutuhkan ke dalam tas ranselnya. Dia terlihat sangat antusias dan bersemangat sekali saat ini.


Melihat semangat dan senyum dari putrinya itu, Nayla bertekad untuk menjadi berani dalam mengambil keputusan. Segera dia mengemasi barang-barang yang dibutuhkannya dalam sebuah ransel besar.


Kali ini mereka pergi tidak dengan menggunakan koper, melainkan menggunakan ransel yang bisa dengan mudah mereka bawa ke mana saja.


Selama beberapa jam mereka menggunakan taksi untuk bisa sampai di desa tempat di mana Keyla disemayamkan. Berawal dari desa itu pula Nayla dan Devan menjadi dekat.


Nayla menghela nafasnya berkali-kali untuk menghilangkan wajah Devan saat menangisi kepergian Keyla saat itu. Dalam hatinya dia berkata,


Tuhan… bantu aku untuk melupakannya saat ini. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, aku yakin engkau akan mempertemukan kami meskipun aku menghindarinya. Dan aku yakin itu tidak akan terjadi.


Taksi yang mereka naiki berhenti tepat di depan makam umum yang menjadi tempat bersemayamnya Keyla untuk selamanya. Nayla dan Keyla masuk ke dalam makam tersebut dengan membawa semua barang bawaan mereka.


Mereka hanya membawa tas ransel masing-masing dengan tambahan tas bekal yang dibawa oleh Nayla dan Calista membawa kantong plastik yang berisi bunga untuk ditaburkannya pada makam Keyla.


Calista berbicara banyak di depan makam Keyla. Dia bercerita tentang hari-hari buruknya tanpa Keyla dan kegagalannya masuk tim sepak bola sekolahnya. Selain itu mereka juga mendoakan Keyla agar tenang dan bahagia di sana.


Setelah puas berada di sana, Calista mengajak mamanya keluar dari makam tersebut. Mereka saling bergandengan tangan dan saling melempar senyum mereka saat mereka saling memandang.


“Kita akan ke mana Ma?” tanya Calista sambil mengayunkan tangan mereka yang saling bertautan.


“Emmm… Bagaimana jika kita berjalan-jalan di sekeliling daerah ini. Sepertinya di sini sangat menenangkan,” jawab Nayla sambil melihat sekeliling mereka.


Tiba-tiba mata Calista berbinar ketika mendengar gemericik suara air. Kemudian dia berkata,


“Sepertinya ada sungai di sekitar sini Ma. Bagaimana jika kita ke sana?”


Tanpa menjawab, Nayla menarik tangan Calista untuk mendekat ke arah sumber suara. Mereka tertawa lepas ketika melihat sungai dengan air yang sangat jernih di hadapan mereka.


Seketika mereka melepas ranselnya dan meletakkannya di atas batu besar yang ada di sana. Tawa mereka menyertai kegiatan mereka ketika bermain air di sungai itu.


“Ma, baju kita basah. Di mana kita akan mengganti pakaian?” tanya Calista setelah mereka puas bermain air di sungai tersebut.

__ADS_1


“Emmm… Bagaimana jika kita mencari tempat menginap di sini untuk beberapa hari?” tanya Nayla yang diangguki oleh Calista.


“Kalian ada di sini?”


__ADS_2