
Devan menarik tangan Nayla dan membawanya pergi dari hadapan Liana. Dia tidak akan membiarkan Liana menyalahkan Nayla untuk perceraian mereka. Bahkan Devan sangat marah ketika Liana menampar pipi Nayla. Dia merasa kecolongan dan merasa sangat bersalah pada Nayla.
"Nay, maaf atas sikap Liana. Dia memang tidak bisa menahan emosinya. Dia selalu mendahulukan emosinya dan tidak mau tau akan kebenaran yang ada," tutur Devan yang sedang berjalan bersama dengan Nayla menuju tempat tinggal Nayla dan Calista.
Nayla tersenyum tipis mendengar permintaan maaf dari Devan dan berkata,
"Tidak apa Dev. Mungkin memang aku harus ditampar agar aku bisa sadar."
Devan menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Nayla. Dia memegang kedua pundak Nayla dan menghadapkan ke arahnya.
"Dia yang harus sadar Nay, bukan kamu. Dia menyalahkan Keyla karena merebut semua perhatianku padanya. Dan sekarang dia menuduhmu sebagai penyebab perceraian kami. Sepertinya dia tidak bisa begitu saja sadar meskipun sudah aku jelaskan berulang kali," tutur Devan yang terlihat frustasi menghadapi istrinya.
Nayla menghentikan langkah kakinya. Kemudian dia menghadap ke arah Devan dan berkata,
"Dev, apa tidak sebaiknya kamu antarkan istrimu pulang. Ini sudah menjelang malam. Pasti istrimu akan pulang larut sampai di kota."
Devan terkekeh mendengar perkataan Nayla. Alam situasi seperti saat ini pun Nayla masih mengkhawatirkan orang yang sudah menampar pipinya.
Devan menatap intens mata Nayla dan berkata,
"Nay, Liana tidak selemah itu. Dan dia tidak pernah ke mana pun meminta padaku untuk diantar. Dia lebih suka membawa mobilnya sendiri."
"Tapi Dev, ini kan–"
"Percayalah padaku Nay. Dia akan baik-baik saja," sahut Devan yang berusaha membuat Nayla percaya padanya.
Nayla tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk meyakinkan Devan agar mengantarkan istrinya kembali ke kota.
Jujur saja jika perasaan Nayla saat ini sangat malu dan sakit hati mendapatkan perlakuan buruk dari Liana. Tapi dia tidak menyalahkannya. Nayla menyalahkan dirinya sendiri sehingga seorang istri seperti Liana mencurigainya dan melabraknya.
Sesampainya di depan rumah yang ditinggali sementara oleh Nayla dan calista, Devan melepas Nayla masuk ke dalam rumah tersebut.
"Nay, hubungi aku jika kamu memerlukan sesuatu," tukas Devan sambil tersenyum ketika Nayla akan menutup pintu rumahnya.
Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dari Devan. Kemudian dia menutup pintu rumah tersebut dan bersandar di belakang pintu itu seraya memegang dadanya serta berkata dalam hatinya,
Sebenarnya apa yang aku lakukan sekarang? Kenapa aku jadi seperti perusak rumah tangga Devan dan istrinya?
__ADS_1
Lamunan Nayla terhenti oleh dering telepon yang berasal dari ponselnya. Segera diambilnya ponsel tersebut dari tas yang dibawanya.
"Caca?!" ucap Nayla ketika melihat nama si penelepon pada layar ponselnya.
Segera diangkatnya panggilan telepon tersebut sambil membuka kembali pintu rumahnya.
"Halo, Caca ada di mana sekarang? Mama baru saja sampai di rumah," ucap Nayla sambil mengunci kembali pintu rumahnya.
"Baik, tunggu di sana. Mama sedang perjalanan menuju rumah si Mbok," tutur Nayla yang sudah berjalan menuju rumah si pemilik tempat tinggalnya.
Hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat tinggalnya saat ini, Nayla menjemput Calista dan mengajaknya untuk segera pulang.
"Bagaimana Ma berkas-berkasnya? Apa semuanya sudah Mama bawa?" tanya Calista yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan mamanya.
"Mama sudah mendapatkan semuanya. Bahkan Mama sudah meminta ijin pada Papamu," jawab Nayla sambil berjalan bersama dengan Calista.
Calista terkejut dengan perkataan mamanya. Dengan sangat antusiasnya dia bertanya pada mamanya,
"Bagaimana Ma? Apa Papa mengijinkan Caca sekolah di sini? Apa Papa mengijinkan kita untuk tinggal di sini?"
"Papa mengira jika kamu sekolah di sekolahan internasional," jawab Nayla dengan senyum kakunya.
"Apa Papa akan percaya begitu saja?"
"Papamu tidak tau kita sedang berada di mana. Dan Mama yakin jika Papamu tidak akan datang ke sini," jawab Nayla dengan yakin.
"Jadi, Caca harus berpura-pura untuk bersekolah di sekolah internasional jika Papa menghubungiku?" tanya Calista pada mamanya.
"Iya benar Ca. Gunakan bahasa inggris agar Papamu percaya. Bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Nayla yang merasa sedikit ragu pada putrinya.
Sebenarnya dia tidak ingin mengajari putrinya untuk berbohong. Hanya saja keadaan mereka yang mengharuskannya untuk melakukan itu.
Calista menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar menyetujui apa yang dikatakan oleh mamanya.
Keesokan harinya, Calista sudah bersiap dengan seragam barunya. Dia sangat antusias sekali untuk bersekolah di sekolah barunya itu.
Dalam perjalanannya setelah mengantarkan Calista ke sekolah, Nayla memikirkan tentang keuangannya saat ini.
__ADS_1
Uang dalam tabungannya semakin lama semakin menipis. Dia tidak bisa begitu saja berdiam diri seharian tanpa bekerja.
Nayla melihat banyak ibu-ibu sedang berbelanja di sebuah warung sayur yang ada di sekitar jalan menuju tempat tinggalnya.
"Sebaiknya mulai sekarang aku memasak sendiri agar bisa lebih hemat," gumam Nayla yang sedang memperhatikan beberapa ibu-ibu sedang berbelanja.
Mendekatlah Nayla pada warung sayur tersebut. Dia mulai memilih sayur dan lauk yang akan dimasaknya hari ini.
Nayla terkejut ketika si penjual sayur mengatakan jumlah yang harus dibayarnya. Dalam hati dia berkata,
Ini sangat murah sekali. Apa karena di sini desa, jadi bahan makanan sangat murah? Aku bisa lebih hemat sekarang.
"Bu, apa ada masalah? Apa saya salah menghitungnya?" tanya ibu penjual sayur dengan tatapan heran ketika melihat Nayla sedang melamun.
Nayla pun tersadar dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan si penjual sayur yang ditujukan padanya.
"Eh, tidak Bu. Ini uangnya," jawab Nayla seraya memberikan selembar uang lima puluh ribu.
Ibu penjual sayur tersebut menerima uang itu dan memberikan kembaliannya pada Nayla.
"Ibu orang baru ya di sini? Apa Ibu baru pindah di daerah sini?" tanya ibu penjual sayur tersebut yang menatap Nayla dari atas hingga bawah.
Merasa tidak nyaman dengan tatapan si penjual sayur tersebut, Nayla segera mengambil kantong plastik yang berisi belanjaannya tadi seraya berkata,
"Iya Bu. Permisi."
Setelah itu Nayla bergegas meninggalkan warung sayur tersebut menuju tempat tinggalnya untuk segera memasak bahan-bahan makanan yang sudah dibelinya.
"Semua ini aku dapatkan hanya dengan harga yang sangat murah. Bahkan dengan uang lima puluh ribu saja, masih ada kembaliannya," ucap Nayla dengan senyum cerianya sambil mengeluarkan semua bahan makanan yang dibelinya dari kantong plastik.
Tiba-tiba gerakan tangan Nayla berhenti ketika dia sudah selesai mengeluarkan semua bahan makanan tersebut. Kemudian dia berkata,
"Tapi, uang tabunganku juga pasti akan segera habis jika aku tidak bekerja. Apa yang bisa aku kerjakan di desa seperti ini? Ah, sepertinya nanti aku harus berkeliling untuk mencari pekerjaan."
Setelah beberapa saat Nayla sibuk di dapur, dia segera bersiap-siap untuk mencari pekerjaan di desa tersebut.
Dia berjalan dengan mengamati suasana sekitar. Helaan nafasnya yang dilakukan hampir di setiap langkahnya itu membuat orang mengerti jika dia sedang mempunyai masalah.
__ADS_1
"Di sini hanya ada sawah dan kebun. Apa aku harus bekerja di sawah dan kebun?"