
Pagi ini terasa beda untuk ibu dan putrinya yang melarikan diri dari kota ke desa dengan alasan untuk menenangkan diri.
Calista merasa sangat senang sekali dan sangat bersemangat untuk mencoba bersekolah di sekolahan yang ada di desa tersebut.
Nayla pun sangat senang melihat Calista sangat antusias dalam kelas ketika menerima pelajaran. Terlebih ketika Calista sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya.
Di sekolah itu, semuanya menyambut hangat Calista sebagai murid baru. Bahkan mereka senang ketika Calista bergabung bersama dengan mereka untuk bermain sepak bola.
Memang Calista tidak memakai seragam hari ini. Dia hanya mencoba kelas saja. Dan ternyata dia sangat senang berada di desa itu.
Kini Nayla yang menjadi semakin dilema. Dia harus berani melawan keputusan suaminya. Dia harus memperjuangkan kebahagiaan putrinya.
Calista berlari menghampiri Nayla yang berdiri di tepi lapangan sepak bola. Mamanya itu sedari tadi memperhatikan semua yang dikerjakan putrinya di sekolah.
"Ma, Caca sangat suka sekolah di sini. Memang di sini jauh dari Mall dan sebagainya. Tapi Caca sangat senang hidup di sini," ucap Calista sambil terengah-engah menghampiri Nayla.
Nayla tersenyum dan mengusap lembut rambut Calista seraya berkata,
"Caca suka tinggal di sini?"
Calista tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Apa Caca suka sekolah di sini?" tanya Nayla kembali.
"Suka Ma. Tapi sayangnya Caca gak mungkin bisa sekolah di sini," jawab Calista dengan wajah sedihnya.
Melihat wajah sedih Calista, Nayla tidak tega. Dia merasa iba pada putrinya yang selalu dirundung teman-temannya.
"Caca, apa Caca mau tinggal dan bersekolah di sini saja?" tanya Nayla bersungguh-sungguh.
Dengan cepatnya Calista menganggukkan kepalanya. Dia sangat berharap bisa tinggal di tempat itu.
Namun, seketika raut wajahnya berubah saat mengingat papanya. Bayangan wajah papanya ketika marah membuat senyum Calista memudar.
Nayla memperhatikan ekspresi wajah Calista yang berubah. Dia merasa heran dengan perubahan ekspresi putrinya itu. Kemudian dia berkata,
"Kenapa Ca? Bukannya kamu suka di sini? Kenapa wajahmu jadi sedih seperti itu? Mama akan urus kepindahan sekolah kamu di sini."
__ADS_1
"Tapi Ma, itu sepertinya gak mungkin terjadi. Papa pasti akan keberatan dan marah jika tau Caca sekolah di sekolahan yang biasa dan terlebih lagi sekolah ini berada di desa," sahut Calista yang terlihat sedih.
Nayla memegang kedua tangan putrinya dan berkata,
"Kamu tenang saja, Mama akan mencari jalan keluarnya. Caca tidak usah mengkhawatirkan itu lagi. Percayakan semuanya pada Mama."
Nayla berusaha meyakinkan putrinya. Dia ingin membuat putrinya tersenyum bahagia seperti saat bersama dengan Keyla.
"Apa bisa Ma?" tanya Calista ragu.
"Mama akan usahakan agar Papa menyetujuinya," jawab Nayla sambil tersenyum berusaha menenangkan putrinya.
"Benar Ma?" tanya Calista dengan antusias.
Dengan cepatnya Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Yeay… aku akan sekolah di sini… Ma, Caca ke sana dulu ya, mau main bola lagi sama teman-teman," seru Calista yang sedang melonjak kegirangan.
Nayla menganggukkan kepalanya. Dia sangat senang melihat putrinya bahagia.
"Hufffttt… Sepertinya aku harus mulai memperjuangkannya sekarang," ucap Nayla setelah menghela nafasnya.
Pihak sekolah menerima dengan senang hati kepindahan Calista di sekolah tersebut. Mereka juga sangat mengharapkan agar Calista bisa betah bersekolah di sana.
Namun, mereka meminta surat kepindahan dan dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftarannya.
Keluar dari kantor kepala sekolah, Nayla duduk di bawah pohon yang ada di sekitar sekolah tersebut. Dia memikirkan apa saja yang akan dikatakannya pada suaminya tentang kepindahan sekolah putri mereka.
Perlahan dia keluarkan ponsel dari tasnya. Dia ragu-ragu untuk memberitahukan pada suaminya tentang rencananya.
"Aku tidak bisa mundur lagi. Aku harus bisa melewatinya. Ini keputusanku dan aku harus berani mempertanggung jawabkannya," ucap Nayla seraya tangannya mencari nomor kontak suaminya.
Jantungnya berdegup sangat cepat ketika dia menekan nomor suaminya untuk menghubunginya.
"Halo, Mas. Aku dan Caca ada di suatu tempat. Kami menemukan sekolah yang sangat cocok untuk Caca. Aku akan memproses kepindahannya hari ini," ucap Nayla yang terdengar sedikit gugup.
Maaf, Bayu sedang berada di kamar mandi sekarang. Nanti akan saya sampaikan padanya.
__ADS_1
Suara perempuan yang menjawab panggilan telepon Nayla itu membuat Nayla tidak bisa berkata-kata.
Tenggorokan Nayla terasa tercekat dan lidahnya kelu sehingga dia tidak bisa mengatakan apa pun saat ini.
Kenapa kamu masih ada di sini? Kenapa kamu tidak kembali ke kamarmu?
Kali ini Nayla mendengar suara Bayu yang sepertinya sudah keluar dari dalam kamar mandi.
Dengan segera Nayla mematikan panggilan teleponnya. Dia tidak bisa berpikir saat ini. Semua yang didengarnya membuat dirinya terkejut dan syok.
Siapa wanita itu? Apa yang dilakukan Mas Bayu dengan wanita itu? Nayla bertanya-tanya dalam hatinya.
Namun, lama kelamaan hatinya terasa sakit tatkala suara wanita tersebut dan suara Bayu terngiang di telinganya.
Matanya berkaca-kaca memikirkan kemungkinan yang terjadi. Dan ingatannya kembali pada saat dia menemukan benda pelindung dalam koper suaminya dan aroma parfum wanita pada baju suaminya.
Tiba-tiba air matanya menetes tanpa disadarinya. Segera diusapnya air matanya itu. Dia berjanji dalam hatinya tidak ingin menjadi wanita lemah saat ini.
Nayla segera beranjak dari duduknya. Dia menuju kelas Calista dan meminta ijin untuk berbicara padanya.
"Ca, Mama akan pergi ke kota sekarang. Mama akan mengambil dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran sekolah kamu di sini. Dan Mama juga akan pergi ke sekolah kamu untuk meminta surat kepindahan sekolah kamu. Apa Caca mau ikut Mama? Atau Caca tetap sekolah dan bermain bersama teman-teman?"
Nayla berpamitan pada Calista. Sebenarnya dia tidak tega untuk meninggalkan Calista sendiri di tempat yang asing untuknya saat ini. Dia juga tidak meminta bantuan pada Devan karena menurutnya Devan pasti sudah kembali ke kota saat ini.
"Caca di sini saja ya Ma. Caca bukan anak kecil. Caca bisa mengatasinya sendiri. Mama pergi saja sekarang agar tidak terlalu sore kembali ke sini," jawab Calista dengan senyum lebarnya.
Senyum Calista itu sangat menyejukkan hati Nayla. Dia seperti mendapatkan penawar atas luka hatinya yang disebabkan oleh suaminya.
"Baiklah, Mama akan pergi sekarang. Jika Mama belum pulang, lebih baik Caca datang ke rumah Ibu pemilik rumah. Katakan padanya Ibu yang menyuruhmu datang ke sana. Dan jika terjadi hal apa pun, kamu wajib memberitahukan pada Mama. Teleponlah Mama untuk selalu memberi kabar pada Mama, hal sekecil apa pun itu," tutur Nayla dengan menatap sungguh-sungguh pada putrinya.
Calista tersenyum dan memegang kedua tangan mamanya. Kemudian dia berkata,
"Mama tenang saja. Caca sudah terbiasa sendirian tanpa Mama dan Papa. Caca juga tau apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu. Sekarang Mama cepatlah pergi, agar Caca tidak terlalu lama ditinggal."
Nayla memeluk tubuh Calista dan mengusap rambutnya seraya berkata,
"Mama pergi dulu. Mama akan segera kembali."
__ADS_1
Setelah Nayla mengurai pelukannya, Calista segera berlari masuk ke dalam kelasnya. Dan saat itu pula Nayla bergegas pergi ke kota untuk menyelesaikan rencananya.