Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 38 Perpisahan dan pertemuan


__ADS_3

Pagi ini Devan sangat bersemangat sekali. Dia sudah bersiap untuk mengantarkan Calista mencoba sekolah di sekolah yang ada di desa tersebut.


Langkahnya sangat ringan ketika keluar dari kamarnya. Sayangnya, senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya seketika memudar tatkala dia melihat seseorang yang sangat dihindarinya sedang duduk di ruang tamu.


"Sayang…," sapa seorang wanita tersebut ketika melihat Devan.


Devan menghela nafasnya. Sungguh dia tidak mengira jika wanita yang ada di hadapannya kini akan menyusulnya ke rumah pamannya.


Dia berjalan mendekati wanita tersebut dan duduk di kursi yang ada di hadapan wanita itu. Kemudian dia berkata,


"Tau dari mana kamu jika aku ada di sini?" 


"Aku istrimu, jadi tidak akan sulit jika aku mencarimu," jawab Liana sambil tersenyum manis.


Devan beranjak dari duduknya seraya berkata,


" Ayo aku antar."


"Ke mana?" tanya Liana dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Mengunjungi Keyla," jawab Devan dengan tegas.


Seketika Liana mengalihkan pandangannya ke lain arah seraya berkata,


"Nanti saja aku ke sana."


Devan kembali menghela nafasnya. Dia tidak habis pikir dengan sikap istrinya itu. Duduklah dia kembali di kursinya seraya berkata,


"Bukannya Keyla anak kandungmu? Kenapa kamu bisa sekejam itu dengannya?" 


Sontak saja Liana menoleh ke arah suaminya. Dia menatap suaminya dengan wajah yang dipenuhi amarah dia berkata,


"Apa maksudmu?"


"Berhenti mengelak dan bersandiwara di hadapanku. Segera pergilah jika kamu tidak ingin mengunjungi makam Keyla," tegas Devan seraya beranjak dari duduknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu berkata seperti itu padaku? Apa salahku?" Liana memberondong Devan dengan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


Devan berjalan masuk menuju kamarnya. Setelah beberapa saat, dia kembali keluar dari kamarnya dengan membawa sesuatu.


Rupanya dia membawa ponsel milik Keyla dan memutar rekaman telepon terakhir Keyla bersama dengan Liana.


Mata Liana terbelalak mendengar rekaman yang sedang diputar oleh suaminya berasal dari ponsel Keyla.  


Terlihat sekali nafas Liana yang memburu dan dadanya naik turun menahan amarahnya. Bahkan kedua tangannya kini sedang mencengkeram kursi yang didudukinya.


"Sekarang, apa yang akan kamu sampaikan?" tanya Devan dengan menatap tegas wajah istrinya.


Dengan gerakan cepatnya Liana mengambil ponsel Keyla yang diletakkan di atas meja.


Braaak!


Liana membanting ponsel tersebut dengan kerasnya hingga hancur berkeping-keping.


"Liana! Keterlaluan kamu!" seru Devan yang sudah beranjak dari duduknya dengan menatap tajam pada istrinya.


"Apa? Kenapa? Keyla sudah meninggal dan kenapa dia selalu menjadi penghalang di antara kita? Kamu selalu mengutamakan Keyla dibandingkan denganku. Aku benci dia," ucap Liana dengan penuh kebencian.


"Dan kamu membencinya karena dia menghalangi masa depanmu. Benar kan?" sambung Devan dengan tatapan sinisnya pada Liana.


Seketika mata Liana terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kemudian dia berkata,


"A-apa? Apa maksudmu?"


"Aku sudah tau tentang masa lalumu. Perlu kamu ingat, aku tidak membencimu karena masa lalumu. Aku membencimu karena kebohongan dan kemunafikanmu. Dan aku membencimu karena telah menyia-nyiakan anak kandungmu sendiri yang baiknya seperti malaikat," tegas Devan sebelum dia beranjak dari duduknya.


"Sayang, aku mohon, mengertilah aku," ucap Liana mengiba pada Devan.


"Selama ini aku selalu mengerti keadaanmu. Tapi sekarang, aku tidak bisa lagi menahannya. Akan aku kirimkan surat perceraian kita. Segera tandatangani dan janganlah berbelit-belit," tutur Devan dengan menahan emosinya.


Merasa sudah tidak tahan berhadapan dengan istrinya, Devan segera keluar dari rumah tersebut meninggalkan Liana yang masih tertegun dengan air matanya yang sedikit menetes.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Rumahku ini tidak menerima orang macam dirimu."


Tiba-tiba suara seorang pria paruh baya mengagetkan Liana. Paman Devan yang sejak tadi hanya mendengarkan dari ruang sebelah, kini keluar dan mengusir Liana dari rumahnya.

__ADS_1


Tanpa berpamitan dan mengucap salam, Liana segera beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah itu dengan perasaan kesal serta amarahnya yang masih melekat di hatinya.


Dia berjalan tanpa arah hingga sampai pada sungai yang ada di desa itu. Suara aliran sungai itu membuatnya tenang. Tanpa sadar dia duduk di batu besar yang ada di sungai tersebut dan memikirkan tentang apa yang akan dilakukannya untuk menggagalkan perceraian yang diajukan Devan padanya.


Tanpa terasa, dia menghabiskan waktunya di sana. Hingga matahari pun tidak lagi terlihat di sana.


"Sudah sore. Berapa lama aku di sini? Kenapa aku tidak sadar dan melewatkan banyak waktu?" ucap Liana seraya bangkit dari duduknya.


Dia kembali berjalan untuk sampai ke jalanan. Berkali-kali dia bertanya pada penduduk untuk memberitahunya arah menuju jalan raya. 


Tiba-tiba kaki Liana berhenti. Dia melihat sesuatu yang memicu kemarahannya. Kedua tangan Liana mengepal, rahangnya mengeras, giginya bergemelatuk, dan dadanya naik turun dengan nafas yang tidak beraturan ketika melihat pemandangan yang tidak jauh darinya.


Tanpa sengaja Nayla dan Devan bertemu di jalan. Mereka kini sedang berbicara dan saling tersenyum ketika Nayla bercerita tentang Calista di sekolah barunya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari jarak yang tidak jauh.


Tidak bisa tahan lagi menahan emosinya melihat senyuman suaminya dengan Nayla, Liana berjalan cepat menghampiri mereka.


Plaaak!


Tamparan keras yang berasal dari tangan Liana mendarat di pipi Nayla.


"Beraninya kalian bertemu di belakangku! Wanita sialan! Wanita perebut suami orang! Mati kau!" seru Liana dengan kedua tangannya yang sudah berada di leher Nayla untuk mencekiknya.


Badan Nayla gemetar. Dia malu telah dituduh seperti itu oleh Liana. Bahkan dia tidak bisa membela dirinya sendiri saat ini. Dia hanya memegang pipinya yang terasa panas oleh tamparan keras yang diberikan oleh Liana padanya.


Dengan segera tangan Devan meraih kedua tangan Liana dan membawanya menjauh dari Nayla. Untung saja suasana di jalan saat itu sedang sepi, sehingga tidak ada yang mengetahui apa yang sedang terjadi dengan mereka bertiga.


"Apa? Kenapa? Kenapa aku tidak boleh membunuhnya? Apa karena wanita ini kamu ingin menceraikanku?" tanya Liana dengan berapi-api.


"Diam kamu Liana! Perceraian kita tidak ada hubungannya dengan mamanya Calista. Kami hanya kebetulan bertemu di sini. Jangan menyalahkan dia atas gagalnya rumah tangga kita!" ucap Devan dengan menegaskan setiap katanya.


"Mamanya Calista? Kebetulan bertemu? Apa ini? Sangat tidak masuk akal sekali. Kamu pikir aku bisa percaya begitu saja?" sahut Liana sambil tersenyum sinis pada Devan dan Nayla.


Devan memegang kedua pundak Liana dan Liana mencoba menghempaskan tangan Devan, sehingga Devan mencengkeram pundak Liana dengan sangat erat dan menatap tajam mata istrinya seraya berkata,


"Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Karena memang seperti itu yang terjadi sebenarnya. Mungkin itu cara Tuhan mempertemukan kami."

__ADS_1


__ADS_2