Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 48 Keputusan Bayu


__ADS_3

"Apa maksudmu Bayu? Pindah? Kenapa harus pindah?" tanya Bu Ratmi yang merasa bingung dengan situasi saat ini.


"Ternyata selama ini Nayla dan Caca berada di suatu desa. Mereka tinggal di rumah yang kecil dan usang. Nayla masih saja ingin membawanya kembali ke sana. Lebih baik kita pindah saja. Aku akan meminta kepindahanku ke sana. Kebetulan ada rekrutmen untuk di daerah itu," tutur Bayu dengan serius.


"Ada apa ini? Kenapa mendadak sekali? Ibu sudah sehat dan ibu bisa menjaga Caca. Kalian bisa bekerja lagi," sahut Bu Ratmi seolah enggan pindah dari rumahnya.


"Bu, aku sudah memikirkannya baik-baik dan aku sudah memutuskan semuanya. Ini semua demi kebaikan kita," tutur Bayu mencoba meyakinkan ibunya.


Bu Ratmi melihat ke arah Calista yang sepertinya tidak nyaman di antara mereka.  Kemudian dia berkata,


"Caca masuk ke kamar dulu saja. Nenek sama Papa mau bicara."


Calista melihat ke arah papanya yang terlihat gelisah. Calista pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


Ingin sekali dia menghubungi mamanya dan memberitahukan tentang keputusan sepihak papanya.


Namun, ponsel milik Calista masih berada di tangan Bayu. Dia tidak bisa menghubungi ataupun mengirim pesan pada mamanya. Bahkan dia tidak bisa bermain game menggunakan ponselnya.


"Huuufffttt… Bagaimana ini? Aku gak bisa hubungi Mama. Aku juga bosen dari tadi belajar terus," gumam Calista yang terlihat lesu.


Sedangkan di ruang keluarga, Bu Ratmi masih mencoba meyakinkan Bayu agar tidak gegabah untuk pindah kerja dan pindah tempat tinggal.


Namun, Bayu masih saja dengan keputusannya. Dia tidak menerima pendapat siapa pun tak terkecuali.


Bu Ratmi tidak bisa apa-apa. Dia hanya mengikuti kemauan Bayu yang mengajaknya pindah bersamanya.


Dalam kamarnya, Bayu merenungi kembali keputusannya. Dia ingin menjadikan keluarganya utuh seperti semula. Dia tidak ingin Nayla membangkang padanya.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponselnya. Bayu segera melihat ponselnya untuk mengetahui siapa si penelepon yang menghubunginya saat ini.


"Halo. Aku akan pindah bersama dengan ibu dan Calista. Aku juga sudah mengajukan diri untuk pindah kerja di daerah itu. Jadi, persiapkan dirimu untuk menyusul kami ke sana. Aku akan memberikan alamatnya," ucap Bayu tanpa memberi kesempatan Nayla mengatakan apa pun padanya.


Setelah itu Bayu mematikan panggilan telepon tersebut tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya.


Di tempat lain, Nayla sedang gelisah. Dia cemas dan khawatir pada keadaan Calista.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengancam balik suaminya. Dia memiliki rencana sendiri untuk mengancam suaminya agar tidak membawa Calista pindah dari kota yang mereka tempati saat ini.


Tiba-tiba ponsel Nayla berdering. Tertera di sana nama Devan yang menjadi si pemanggil. Segera diterima oleh Nayla panggilan telepon tersebut.


"Halo, ada apa Dev?" tanya Nayla yang berusaha setenang mungkin.


Nay, apa kamu baik-baik saja? Apa perlu aku datang ke rumahmu? tanya Devan dari seberang sana.


"Aku baik-baik saja Dev. Aku bersama dengan Caca dan suamiku. Kamu tidak perlu khawatir. Sudah dulu ya Dev," Nayla memutuskan panggilan telepon tersebut secara sepihak.


Devan memang masih berada di depan rumah Nayla. Dia merasa tidak bisa meninggalkan Nayla seorang diri dalam kesedihan.


Hingga dia meninggalkan tempat itu karena Liana menghubunginya untuk meminta bertemu dengannya. Tadinya Devan menolak untuk bertemu dengannya, mengingat cara licik Liana mempertemukannya dengan Bayu. Tidak hanya itu saja, Devan juga mengetahui jika yang memberitahu Bayu tentang desa itu adalah Liana.


Namun, Liana mengatakan jika dia akan benar-benar memberikan surat perceraian mereka, karena itulah Devan mau menemuinya.


Nayla merenung dan berpikir dalam kamarnya. Dia memikirkan tentang rumah tangganya dan tentunya tentang Calista. Tanpa terasa dia tertidur di saat sedang mencari jalan keluar selain yang akan dikatakannya tadi pada Bayu.


Keesokan harinya, Bayu yang masih libur dari kerjanya, dia membawa Calista dan Bu Ratmi terbang menuju tempat yang direncanakannya.

__ADS_1


Di sinilah mereka sekarang berada. Di sebuah rumah besar yang sangat megah, tepatnya di sebuah pulau yang sangat tenang. Sangat berbeda sekali dengan kota yang mereka tinggali sebelumnya.


Pulau tersebut merupakan tempat kelahiran suami Bu Ratmi yang merupakan ayah dari Bayu.


Rumah yang mereka tempati saat ini adalah rumah milik ayah Bayu yang masih sangat bersih dan terawat. Bayu selalu membayar biaya perawatan rumah tersebut pada orang yang dipercaya untuk menjaga dan membersihkan rumah tersebut.


Bayu benar-benar telah pindah tugas di sana. Dia telah memantapkan dirinya untuk memboyong keluarganya hidup di suatu kota yang terletak di pulau tersebut.


Nayla yang tidak bisa menghubungi Calista merasa bingung. Apalagi ketika Nayla datang ke rumah ibu mertuanya, dia tidak mendapati mereka semua di sana. Rumah tersebut kosong seolah tidak berpenghuni.


Dengan paniknya, Nayla menghubungi suaminya. Berkali-kali dia menghubungi nomor ponsel Bayu, berharap agar Bayu memberitahukan di mana Calista berada.


Tiba-tiba saja panggilan telepon Nayla diangkat oleh Bayu.


"Halo, di mana Caca? Kenapa di rumah Ibu tidak ada siapa-siapa?" tanya Nayla dengan paniknya.


Caca sedang sekolah. Kami sudah pindah di rumah Ayah. Jika kamu menginginkan untuk bertemu dengan Caca, lebih baik kamu segera pindah ke sini dan kita memulai keluarga baru kita di sini, tutur Bayu pada Nayla melalui telepon.


"Kenapa? Kenapa Mas? Kenapa Mas Bayu mengambil keputusan sendiri? Kenapa tidak berbicara terlebih dahulu denganku?" tanya Nayla bertubi-tubi dengan mata yang berkaca-kaca.


Sudah aku putuskan dan cepatlah kemari. Di sini kita tidak akan lagi ada kesalahpahaman. Di sini kita jauh dari orang-orang yang mengancam rumah tangga kita. Cepatlah kemari karena aku sudah akan mulai bekerja beberapa hari lagi, ujar Bayu yang masih saja dengan keputusannya.


Setelah itu Bayu segera mematikan panggilan telepon tersebut tanpa menunggu jawaban dari Nayla. Dia mengirimkan alamat tempat tinggalnya yang sekarang pada Nayla melalui pesan.


Air mata Nayla kembali membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak membayangkan tidak akan bisa bertemu dengan putrinya.


Dia juga memikirkan putrinya yang merasa tertekan akan keputusan Bayu mengenai tempat tinggal mereka dan sekolahnya.

__ADS_1


"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan Caca selalu tertekan. Aku harus bisa mengembalikan senyum dan kebahagiaan Caca seperti kemarin ketika kami tinggal di desa," ucap Nayla di sela isakan tangisnya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


__ADS_2