
Bayu dan Calista saling membelalakkan matanya ketika pandangan mata mereka beradu.
"Papa?!" celetuk Calista tanpa sadar ketika melihat papanya berada tepat di hadapannya.
"Caca, seragam kamu… Kamu sekolah di…," Bayu tidak bisa meneruskan ucapannya, dia merasa dibohongi oleh anak dan istrinya.
Calista melihat sekitarnya yang banyak sekali teman-teman sekolahnya. Dia tidak mau merasa malu, dengan memberanikan dirinya, Calista mendekati papanya dan menarik tangannya menuju tempat yang sepi.
Teman-teman Calista merasa bingung dengan apa yang dilihatnya, tapi karena mereka semua laki-laki, mereka tidak ambil pusing dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Maaf Pa, Caca bisa jelaskan semuanya," ucap Calista ketika sudah berada di tempat yang sepi bersama dengan papanya.
Bayu menatap tajam pada Calista. Dia memutar tubuh putrinya untuk melihat seragam yang dipakai oleh Calista dan terdapat nama sekolahnya pada seragam tersebut.
Bayu menghela nafasnya dengan kasar. Dia meletakkan kedua tangannya pada pinggangnya dan menatap Calista penuh dengan amarah.
"Kamu keluar dari sekolah yang lebih bagus hanya ingin bersekolah di sekolah jelek seperti itu?" tanya Bayu dengan nafasnya yang naik turun karena amarahnya
Calista menundukkan kepalanya karena ketakutan dengan papanya yang sedang marah padanya. Kedua tangannya saling bertautan dan badannya sedikit gemetar mendengar amarah papanya.
"Di mana Mamamu? Kalian tinggal di mana? Cepat bawa Papa ke tempat tinggal kalian," tegas Bayu sambil meraih tangan Calista agar berjalan bersamanya untuk menunjukkan jalannya.
"Tapi Pa, biasanya jam segini Mama baru saja berangkat bekerja," ucap Calista dengan suara bergetar.
Bayu menghentikan langkahnya sehingga Calista pun ikut menghentikan langkahnya.
"Bekerja? Di mana? Bekerja apa dia di desa seperti ini?" tanya Bayu dengan rasa ingin tahunya.
Nyali Calista semakin menciut. Dia tidak berani mengatakan pada papanya mengenai pekerjaan mamanya.
Dengan cepatnya Calista memberanikan dirinya untuk menarik tangan papanya dan membawanya ke tempat tinggal mereka.
"Caca! Jawab pertanyaan Papa! Kita mau ke mana?" ucap Bayu seraya berjalan mengikuti Calista yang menarik tangannya.
__ADS_1
Calista hanya diam saja. Dia tidak menjawab pertanyaan papanya. Dengan cepatnya dia berjalan menuju rumahnya dengan harapan mamanya masih berada di rumah.
Calista menghentikan langkahnya ketika sudah berada dekat dari rumahnya. Di hadapannya kini sudah ada mamanya yang sedang berbicara dengan Devan. Mereka sedang tertawa kecil sambil berjalan keluar dari terasnya.
Calista menggigit bibir bawahnya setelah papanya menghempaskan tangannya. Dia bisa merasakan jika papanya sedang marah saat ini.
Merasa tidak bisa menahan amarahnya lagi, Bayu berjalan mendekati Nayla dan Devan yang sedang berjalan serta asyik mengobrol.
"Nayla! Apa-apaan ini?!" seru Bayu ketika sudah berada di hadapan mereka.
Seketika Nayla terkejut melihat suaminya yang sudah ada di hadapannya. Tenggorokannya terasa tercekat, lidahnya kelu, bahkan kakinya pun tidak bisa bergerak untuk saat ini.
"Kamu, bukannya kamu yang kemarin bertemu dengan saya di cafe? Istri kamu memberitahuku hubungan kalian. Apa kalian tinggal bersama di sini?" tanya Bayu pada Devan dengan tatapan tajamnya dan menunjuk wajah Devan.
Nayla berusaha keras untuk bisa menggerakkan kakinya. Dengan sekuat tenaganya dia menarik tangan suaminya dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.
Calista mengikuti mama dan papanya masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Devan masih berada di luar. Dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar Bayu tidak termakan hasutan Liana.
Devan mendekat ke arah pintu untuk mendengarkan percakapan Nayla bersama dengan suaminya yang berada di dalam rumah tersebut.
"Caca, kamu pergi ke sekolah saja," perintah Nayla pada Calista.
"Masuk kamar Ca!" seru Bayu menyahuti perintah Nayla.
Calista tidak mau jika papanya bertambah marah. Dengan segera dia menuruti perintah papanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Nayla menghela nafasnya, dia menyembunyikan ketakutannya dalam hatinya agar dia bisa menghadapi suaminya untuk mempertahankan keinginan Calista yang ingin bersekolah di desa ini serta kebahagiaannya untuk bisa bermain sepak bola bersama teman-temannya.
"Apa maksudmu membohongiku dengan tinggal di tempat seperti ini bersama dengan Caca? Apa ini semua agar perselingkuhanmu tidak terkuak?" tanya Bayu dengan penuh emosi.
"Kami hanya tidak sengaja bertemu di desa ini. Dia juga tidak tinggal di desa ini. Dia hanya ingin bertemu dengan Caca karena ingat dengan Keyla, putrinya yang merupakan teman sekamar Caca di asrama waktu itu yang meninggal beberapa waktu yang lalu," jawab Nayla dengan menutupi rasa gugupnya.
Bayu berjalan mendekati istrinya. Dengan tatapan penuh emosinya dia berkata,
__ADS_1
"Kamu pikir aku percaya?! Bahkan istrinya memberitahukan padaku tentang hubungan kalian. Dan dia memberikanku alamat ini untuk memergoki kalian yang sedang bersama. Ternyata memang benar bukan?"
"Baiklah. Anggap saja jika itu benar. Lalu, bagaimana denganmu yang bersama wanita lain dalam kamar hotelmu ketika kamu bekerja?" tanya Nayla dengan meninggikan suaranya.
"Kamar hotel? Siapa? Kapan?" tanya Bayu yang seolah dirinya merasa benar dan tidak melakukan kesalahan.
"Sebelum aku pulang untuk mengurus surat kepindahan sekolah Caca, aku meneleponku dan yang mengangkatnya adalah seorang wanita. Bahkan aku mendengar suaramu yang baru saja keluar dari kamar mandi memanggil wanita itu. Sepertinya kalian semalaman berada di dalam kamar yang sama. Lalu, apa pikiranku salah jika mengatakan kalian berselingkuh?" tanya Nayla berapi-api.
Terlihat jelas wajah kaget Bayu ketika mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dadanya bergemuruh dan merutuki wanita tersebut dalam hatinya.
"Kamu salah. Kami hanya mengobrol saja. Sama seperti denganmu waktu itu," ucap Bayu membela dirinya.
Hati Nayla sakit, rasanya dadanya sangat sesak hingga dia memukul-mukul dadanya.
"Kamu jahat Mas!" ucap Nayla dengan suara yang bergetar di sela tangisannya.
"Kamu yang salah paham. Kami hanya mengobrol. Kami hanya berbicara saja. Ya memang semalaman, tapi kami tidak melakukan apa pun," sahut Bayu membela dirinya.
"Waktu itu pun kita tidak ada ikatan apa-apa, tapi setelah itu kita menikah. Lalu, apa kamu juga akan menikah dengannya? Jika itu sudah menjadi kebiasaanmu di setiap penerbanganmu, lalu berapa banyak wanita yang telah bersamamu? Apa mereka semua akan kamu nikahi?" tanya Nayla di sela isakan tangisnya.
"Itu… aku–"
"Sudahlah. Biarkan kami tinggal di sini sesuai dengan keinginan Caca. Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku akan berangkat kerja," ucap Nayla sambil mengusap kasar air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"Pergi! Pergi ku bilang! Pergi!!!" teriak Nayla mengusir suaminya.
Bayu pun merasa takut melihat Nayla yang tidak pernah marah, kini berteriak di hadapannya. Dengan segera Bayu membuka pintunya. Dia terkejut melihat Devan yang berdiri di depan pintu tersebut.
Dada Bayu bergemuruh dengan tatapan tajam seolah menghunus pada Devan. Kedua tangannya mengepal. Dia meninggalkan rumah itu untuk menenangkan pikirannya. Sayangnya, hati kecilnya berkata lain.
Tangan Bayu meraih kerah baju Devan dan menariknya sehingga Devan terhuyung dan berjalan mengikuti Bayu.
Dari jauh ada sepasang mata yang melihat mereka berdua dengan senyum sinisnya dan berkata,
__ADS_1
"Akan aku balas perbuatanmu Devan. Akan aku buat kamu dan wanita itu menderita."