
Di dalam taksi, Nayla sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Dia hanya bisa memikirkan Devan. Entah mengapa, membaca pesan darinya membuat Nayla terbayang akan air mata Devan yang suara tangisnya sangat menyayat hatinya.
Bukannya dia tidak memikirkan Calista yang menjadi prioritas utamanya, bahkan dia sedang sakit saat ini. Hanya saja keadaan Calista sudah membaik dan Nayla yakin jika Calista akan baik-baik saja. Dia yakin jika Calista akan tertidur dengan nyenyak hingga dia pulang nanti.
Setelah beberapa saat, taksi yang dinaiki oleh Nayla sampai di depan restoran Devan. Dengan segera dia berlari menuju restoran setelah membayar taksi tersebut.
Restoran sudah terkunci. Bahkan Nayla tidak bisa membuka pintu restoran tersebut meskipun dia berusaha sekuat tenaganya dengan menggerak-gerakkan handle pintu tersebut.
Untung saja ada sebuah tangga di samping restoran yang tertuju pada lantai atas.
Dilihatnya ruangan di lantai atas itu yang masih menyala. Kemudian dia berkata,
"Sepertinya itu kantornya. Pasti Devan ada di dalam sana."
Tanpa menunggu lama lagi, Nayla menaiki tangga tersebut untuk bisa mencapai ruangan di lantai atas yang lampunya masih menyala.
Tok… tok… tok…
"Masuk. Pintunya tidak dikunci, buka saja," seru Devan dari dalam ruangan.
Dia larut dalam pikiran dan kesedihannya hingga tidak menyadari jika pada saat itu restoran sudah tutup. Dia mengira jika yang mengetuk pintunya adalah salah satu karyawan yang ada di cafenya.
Dia memang sadar telah mengirim pesan pada Nayla, tapi dia tidak berharap banyak Nayla akan datang. Dia tahu jika Nayla pasti akan menggunakan alasan Calista untuk tidak datang menemuinya. Karena dia tahu jika Nayla seorang ibu yang baik.
Tok… tok… tok…
Pintu ruangan Devan kembali diketuk dari luar.
Dengan terpaksa Devan berjalan menuju pintu tersebut untuk membukakan pintunya.
Matanya terbelalak ketika mendapati sosok wanita yang sedang ingin ditemuinya.
Secepat kilat tangan Devan menarik tangan Nayla dan dibawanya masuk ke dalam ruangan tersebut.
Pintu ruangan itu pun tertutup. Devan memeluk erat tubuh Nayla dan tangan Nayla pun membalas pelukan Devan. Mereka saling berpelukan dengan eratnya.
Merasa wanita yang ada dalam pelukannya itu tidak menolaknya, Devan mengurai sedikit pelukannya dan dia mendaratkan bibirnya pada bibir Nayla.
Nayla tidak menolak ciuman tersebut. Bibir mereka saling bertautan, seolah menyalurkan perasaan mereka.
__ADS_1
Ciuman itu berlangsung lama dan sangat panas. Sepertinya mereka lupa jika mereka mempunyai pasangan yang ada di tempat lain.
Pikiran mereka sudah dipenuhi dengan hati dan perasaan mereka. Nayla dan Devan sama-sama kecewa akan pasangannya masing-masing. Kini mereka telah menemukan orang yang membuat mereka nyaman dan mengerti akan diri mereka.
Mereka berdua sangat menikmati ciuman itu, hingga mereka tidak memikirkan yang lainnya. Mereka dua orang dewasa yang juga butuh seseorang untuk mengerti perasaan mereka.
Di tempat lain, tepatnya di rumah ibu Bayu, Alvian menunggu Calista di dalam kamarnya. Dia sibuk memainkan game sepak bola yang ada di ponselnya.
Calista benar-benar tidur dengan nyenyak. Bahkan dia tidak tahu jika Alvian ada di dekatnya.
Biasanya dia akan sangat senang sekali jika bertemu dengan Alvian. Dan tentunya dia akan mengajak omnya itu untuk bermain bola bersamanya, serta memintanya untuk mengajarkan teknik-teknik bermain sepak bola.
Setelah beberapa saat Alvian menunggu di dalam kamar Calista, ada suara pintu yang terbuka.
"Itu pasti Kak Nayla," ucap Alvian setelah menghentikan permainan game nya.
Segeralah Alvian keluar dari kamar Calista untuk menemui kakaknya yang menurutnya baru datang.
Tiba-tiba saja langkah Alvian terhenti dan raut wajahnya berubah menjadi tegang ketika melihat seseorang yang ada di hadapannya.
"Iya. Kak Nayla memintaku untuk menjaga Caca," jawab Alvian sedikit gugup.
"Memangnya ke mana Kakakmu itu malam-malam begini?" tanya orang tersebut sambil mengernyitkan dahinya.
"Emmm… sepertinya Kak Nayla sedang ke rumahnya. Mungkin dia mengambil sesuatu," jawab Alvian yang semakin gugup.
"Ya sudah, aku akan kembali ke rumah untuk menemui Kakakmu," ucap orang tersebut sambil membalikkan badannya.
"Kak Bayu. Sebaiknya Kakak di sini saja untuk menjaga Caca. Dia sedang sakit, pasti dia lebih membutuhkan papanya dibandingkan omnya," sahut Alvian berusaha menghentikan Bayu yang akan pergi dari rumah itu.
Seketika Bayu menghentikan langkahnya. Dia kembali membalikkan badannya untuk menghadap ke arah adik iparnya.
"Kalau Caca sedang sakit, harusnya mamanya yang ada di dekatnya. Kenapa dia malah pergi malam-malam begini?" ucap Bayu yang bermaksud menolak untuk menunggu Calista.
"Kak Nayla ada di rumah kalian. Mungkin dia mengambil barang-barang yang dibutuhkannya. Lebih baik Kak Bayu di sini saja bersama dengan Calista sambil menunggu Kak Nayla pulang kembali ke sini," tukas Alvian sambil bergegas berjalan menuju pintu.
"Alvian, kamu di sini saja. Biar Kakak yang menjemput Kakakmu di rumah sana," ucap Bayu yang terdengar sangat keberatan berada di rumah itu.
__ADS_1
Sayangnya Alvian berpura-pura tidak mendengarnya. Dia segera keluar dari rumah itu dan mencoba menghubungi kakaknya.
"Kak Nay, cepat angkat. Kakak di mana? Kak Bayu ada di sini. Dia terlihat marah mendengar Kakak tidak ada di rumah," ucap Alvian sambil mencoba menghubungi Nayla.
Berkali-kali dia menghubungi kakaknya, sayangnya semua panggilan teleponnya itu hanya menjadi panggilan tak terjawab saja.
Alvian menghela nafasnya melihat puluhan kali dia menghubungi Nayla tapi semua panggilan teleponnya itu tidak ada yang dijawab oleh kakaknya.
Dalam perjalanannya pulang, sambil berjalan kaki dia mengirimkan pesan pada kakaknya.
Tentu saja kakaknya itu tidak membalasnya. Hingga dia berdoa agar kakaknya itu tidak lagi mendapatkan omelan dari Bayu.
Di rumah ibunya, Bayu kini menunggu Calista sambil menonton televisi di ruang tengah. Samar-samar dia mendengar suara merintih.
"Air… air… Mama… air…," ucap Calista tanpa sadar.
Bayu berjalan mendekati kamar Calista dan dia melihat putrinya itu sedang mengigau meminta air pada mamanya.
Dengan malasnya Bayu mengambilkan air untuk putrinya itu.
"Ca, Caca… bangun. Ini minumnya," ucap Bayu datar sambil memberikan segelas air putih di depan wajah putrinya.
"Air… Mama… Om Alvin… Mama… air…," Calista kembali mengigau.
"Ini airnya, minumlah," ucap Bayu di depan wajah Calista sambil memperlihatkan gelas minuman yang dibawanya.
"Mama… air… Mama… Om Alvin… air," ucap Calista yang sedang mengigau kembali di depa papanya.
"Bagaimana dengan Papa? Ini Papa yang mengambilkan minuman," tanya Bayu yang berusaha memprotes Calista karena namanya tidak disebutkan.
"Mama… Om Alvin…-"
"Papa. Bagaimana dengan Papa?" tanya Bayu menyela Calista yang sedang mengigau.
"Mama… Om Alvin… Kak Keyla… Nenek…," ucap Calista yang masih mengigau.
"Kamu bercanda ya? Kamu pasti tidak tidur. Kamu tidak menyebutkan Papa karena kamu mendengar Papa bukan?" ucap Bayu dengan kesalnya.
"Mama… Om Alvin… Nenek… Kak Keyla… air…," ucap Calista kembali mengigau membuat Bayu bertambah kesal karena namanya tidak disebutkan oleh putrinya ketika sedang mengigau.
__ADS_1