
Nayla segera berlari keluar rumah sakit. Dalam kebingungannya dia segera memesan taksi dan menunggunya di luar rumah sakit tersebut.
Dengan cemasnya dia menghubungi nomor ponsel Calista untuk bertanya keberadaannya. Sayangnya berkali-kali dia menghubungi putrinya itu, tidak ada satu pun panggilan yang dijawabnya.
Helaan nafas Nayla yang dilakukannya berkali-kali terdengar sangat lelah dan frustasi. Selama ini dia tidak menyangka jika putrinya itu akan melakukan hal seperti sekarang ini.
Membolos. Satu kata yang sangat diharamkan oleh Bayu. Bahkan Bayu belum memberikan hukuman pada mereka ketika Calista membolos untuk pergi ke taman hiburan bersama dengan Nayla.
Tiba-tiba panggilan telepon dari Nayla kali ini diangkat oleh Calista. Dengan suara lemahnya dia menyapa mamanya melalui telepon.
Halo, sapa Calista dengan suara lemahnya.
“Caca, di mana kamu sekarang Sayang?” tanya Nayla yang terdengar sangat cemas di telepon.
Aku berada di taman dekat sekolah Ma, jawab Calista yang terdengar lemas dari seberang sana.
“Tunggu Mama dan jangan ke mana-mana,” tukas Nayla untuk memerintahkan pada anaknya.
Kebetulan sekali saat itu taksi pesanan Nayla sudah tiba. Bergegas dia masuk ke dalam taksi tersebut dan memberitahukan tujuannya pada sopir taksi yang duduk di depannya.
Nayla segera berlari menuju taman yang ada di dekat sekolah Calista. Dengan tergesa-gesa dia berlari tanpa memperhatikan sekitarnya.
Pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan Calista. Rasa bersalahnya itu bertambah ketika mendengar ucapan Calista sebelum berangkat ke sekolah.
“Caca!” seru Nayla ketika melihat putrinya sedang duduk termenung di bangku taman.
Nayla berlari mendekati Calista yang sedang duduk dan menoleh padanya. Dengan segera dia memeluk putrinya itu dengan erat dan berkata,
“Kamu kenapa Sayang? Ada apa? Kenapa kamu tidak masuk sekolah?”
__ADS_1
Nayla mengurai pelukannya ketika mendengar helaan nafas Calista yang terdengar seperti orang yang sedang banyak masalah. Ditatapnya wajah putrinya itu dengan penuh kasih sayang dan penuh tanya padanya.
“Caca malas bertemu dengan mereka Ma. Mereka semua jahat. Bahkan mereka tidak segan-segan memukulku,” jawab Calista dengan wajah sedihnya.
Seketika Nayla marah mendengar penuturan dari anaknya. Dia mengusap lembut rambut putrinya itu sambil berkata,
“Memukulmu? Apa mereka benar-benar berani memukulmu?”
Calista menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan mamanya padanya. Sebenarnya dia enggan bercerita pada orang tuanya karena dia tidak ingin membebani kedua orang tuanya yang sibuk bekerja dengan masalahnya. Bahkan papanya selalu mengajarkannya untuk berani menghadapi apa pun meskipun dia seorang perempuan.
Nayla kembali memeluk erat putrinya dan mengusap lembut rambutnya sambil berkata,
“Untuk sekarang lebih baik kamu meminta ijin pada gurumu untuk pulang ke rumah karena tidak enak badan. Setelah itu kita pulang.”
Calista menganggukkan kepalanya dalam pelukan Nayla. Setelah itu melepaskan pelukannya dan berjalan menuju sekolah.
“Mama tunggu di sini ya,” ucap Nayla ketika melepaskan tangan Calista untuk masuk ke dalam sekolahnya.
Calista berjalan di sepanjang koridor kelasnya menuju ruang guru. Tanpa diketahui oleh Calista, empat orang teman laki-laki yang biasa mengerjainya sedang duduk di sudut koridor yang tidak diketahui oleh Calista.
Mereka berempat berjalan perlahan di belakang Calista. Setelah berada tepat di belakang Calista, mereka secara brutal mengerjai Calista kembali seperti biasanya.
Di antara mereka ada yang menyenggol tubuh Calista dari samping hingga Calista terhuyung. Ada pula yang menoyor kepala Calista dengan sangat keras hingga Calista hendak terjatuh ke depan mengikuti kepalanya yang ditoyor sangat keras oleh temannya itu. Ada juga yang mengambil tas Calista dan membuangnya dengan keras di lantai. Dan seorang lagi menjambak dengan kerasnya rambut Calista ke belakang dengan kerasnya, hingga kepalanya bergerak ke belakang mengikuti arah jambakan rambutnya.
“Hei kalian! Beraninya kalian mengganggu dan memukul anakku!” teriak Nayla yang sedang berdiri tidak jauh di belakang mereka.
Sontak saja mereka berlari tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Calista, dia hanya diam saja seperti biasanya. Itu semua dilakukannya agar dia tidak memiliki lagi masalah di sekolah yang berakibat akan dikeluarkannya dari sekolah tersebut.
Nayla segera berlari dan memeluk Calista yang masih berdiri dengan pasrah di sana. Hati Nayla sangat sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu oleh temannya sendiri. Bahkan anaknya tidak melawan sedikit pun. Tidak seperti Calista yang biasanya.
__ADS_1
“Selamat pagi Bu,” sapa seorang wanita yang berjalan seraya mengembangkan senyumnya pada Nayla.
“Bu, Bu Guru lihat kan tadi anak-anak itu semua memukul Calista? Bahkan mereka setiap hati seperti itu. Apa Ibu tidak bisa mendisiplinkan mereka?” tanya Nayla dengan amarahnya yang menggebu-gebu.
Guru tersebut yang kini sudah berdiri di hadapan Nayla sedang tersenyum pada Nayla untuk menenangkannya. Kemudian dia berkata,
“Mereka semua hanya bercanda Bu.”
Dahi Nayla mengernyit seolah dia tidak mengerti maksud dari perkataan guru tersebut. Setelah itu dia berkata,
“Bercanda? Yang benar saja. Mereka memukul kepala anak saya.”
Sayangnya kemarahan Nayla hanya direspon begitu saja oleh guru tersebut. Calista sudah tahu akan hal itu. Oleh sebab itu dia tidak pernah mengadukan mereka pada siapa pun.
Nayla yang masih sangat kesal pada kejadian itu, dia segera meminta ijin pada guru tersebut untuk membawa Calista pulang.
“Tenanglah Sayang, semuanya akan berlalu. Kamu akan dengan cepat tumbuh dewasa ,” ucap Nayla pada Calista yang sedang berjalan bersamanya.
Gandengan tangan Nayla pada Calista sangat dibutuhkan oleh Calista saat ini. Bagaimanapun Calista berjuang untuk tidak lemah, tetap saja dia masih membutuhkan peran kedua orang tuanya untuk melindunginya.
Sesampainya di rumah, Calista segera masuk ke dalam kamarnya dan segera tidur untuk mengistirahatkan badannya. Nayla menatap iba dan penuh rasa bersalah pada putrinya.
Tiba-tiba dia mengingat sesuatu. Segera diambil ponselnya dari dalam tas yang sedang dibawanya. Dia menghubungi nomor ponsel suaminya, tapi nomor tersebut masih tidak dapat dihubungi.
Nayla menghela nafasnya yang terasa berat sekali di dalam dadanya. Setelah itu dia segera mengirimkan pesan pada suaminya agar suaminya tidak mendengar masalah Calista dari gurunya.
Caca sedang mempunyai masalah. Dia tidak bisa masuk sekolah hari ini. Jika punya waktu, tolong hubungi kami.
Malam harinya Nayla menerima pesan dari suaminya. Dia merasakan dadanya sangat berat seperti terhimpit sesuatu setelah membaca pesan tersebut. Tangan kanannya memukul-mukul dadanya untuk meredakan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
__ADS_1
Semua orang punya masalah. Jangan biasakan dia manja dan menjadi pemalas. Tidak ada alasan untuk tidak bersekolah. Itu sekolah terakhir untuknya. Aku tidak mau dia membuat masalah dan dikeluarkan dari sekolah itu.