
Bayu keluar dari bandara dengan menggeret kopernya. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponselnya. Segera diambil ponselnya itu dari saku celananya.
Dibukanya pesan tersebut dan wajahnya seketika menjadi kesal. Sekali lagi pesan masuk dari pengirim yang sama.
Sontak saja Bayu menoleh ke belakang dan menatap kesal pada seorang wanita yang berdiri sambil tersenyum manis padanya.
Bayu berjalan ke arahnya dan mengajaknya menepi. Kini mereka berdiri di depan bandara yang sedikit sepi. Bayu menatap kesal pada wanita tersebut dan ingin berbicara pada wanita tersebut. Sayangnya wanita tersebut lebih dulu mengeluarkan suaranya.
“Tidak bisakah kita berbicara di tempat lain?” tanya wanita tersebut pada Bayu yang terlihat sedang membuka mulutnya karena akan berbicara.
“Aku harus pulang cepat,” jawab Bayu sambil matanya berkelana seperti tidak nyaman, takut ada orang yang mengenali mereka.
“Nayla wanita yang baik,” ucap wanita tersebut yang terlihat ragu ketika mengatakannya.
Bayu menatapnya sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya dan dia berkata,
“Apa hanya itu saja yang ingin kamu bicarakan?”
Wanita cantik itu menghela nafasnya dan berkata,
“Tidak. Tidak Kapten.”
Bayu menyeringai mendengar jawaban wanita yang ada di hadapannya. Dia sungguh tidak percaya akan berhadapan dengan wanita tersebut. Kemudian dia berkata,
“Kamu pasti menahan amarah terhadapku. Mari kita luruskan semuanya. Aku bertemu denganmu di pub waktu itu dan kita mengobrol sebentar. Setelah itu keesokan harinya kita bertemu lagi dan saling menyapa. Apa ada hal yang tidak aku ketahui? Keesokan harinya saat kita bertemu, kamu bertanya padaku, apa kita bisa bertemu lagi? Oh iya aku lupa, kamu membawakanku kopi saat itu.”
Ellena, wanita yang sedang berbicara dengan Bayu itu merasa malu mendengar apa yang dikatakan Bayu saat ini. Dengan menahan rasa kesalnya yang bercampur malu, dia berkata,
“Aku pasti sudah salah paham karena kita berdua berbicara sepanjang malam. Saat wanita terjaga sepanjang malam bersama pria, kami para wanita bisa bingung mengartikannya. Meskipun kami bersama dengan pria yang sudah menikah. Aku tidak yakin apa kamu mengingatnya, tapi kamu juga membicarakan tentang istrimu, Nayla.”
Bayu mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Ellena. Kini dia berwajah serius di hadapan wanita itu.
__ADS_1
“Kamu bilang jika istrimu adalah perhiasan di rumah,” ucap Ellena sambil menatap intens wajah Bayu.
“Benar sekali. Dia perhiasan di rumah. Berbeda dengan perhiasan yang dipajang di toko. Aku tidak bisa tidur di ranjang rumahku, tapi di pesawat tidak terlalu nyaman untuk tidur. Sungguh aneh bukan?” tukas Bayu dengan penuh percaya dirinya.
“Jadi karena itu kamu bisa tidur dengan berisik di hotel? Asal kamu tau jika aku berada di sisimu sampai kamu tertidur. Dan kamu menyuruhku untuk mematikan lampu saat aku keluar. Sepertinya kamu tidak ingat,” ucap Ellena sambil tersenyum licik.
Ellena melipat kedua tangannya di depan dadanya, dia melihat Bayu yang melihat ke lain arah dengan gelisah. Kemudian dia kembali berkata,
“Nayla terlihat sangat baik. Sepertinya dia sangat percaya sekali padamu sehingga dia tidak akan memata-mataimu.”
Bayu menatap Ellena dan menyeringai sambil berkata,
“Dia orang yang baik. Sangat baik malah. Dan dia juga ceroboh. Karena itulah aku menyukainya. Apa hanya itu saja yang ingin kamu bicarakan?”
Kemudian Bayu menarik kopernya meninggalkan Ellena tanpa mendengar perkataannya terlebih dahulu.
“Ah aku lupa. Aku bertemu dengan Nayla pada saat dia bersama dengan rombongannya. Dia terlihat sangat dekat sekali dengan salah satu dari mereka. Entahlah, dia rekan kerjanya atau mungkin salah satu dari rombongannya. Pria itu terlihat sedang berbicara seolah mereka sudah kenal dekat,” ucap Ellena yang berniat untuk menghentikan langkah Bayu.
“Lalu kenapa?” tanya Bayu sambil menatap tajam pada Ellena.
“Aku hanya mengatakannya saja,” jawab Ellena dengan sedikit ketakutan.
Setelah mendengar jawaban dari Ellena, Bayu segera berjalan kembali dengan menggeret kopernya meninggalkan Ellena yang masih berdiri sendiri di sana.
Di dalam mobilnya, Bayu sangat resah. Dia ingin mencari tahu tentang pria yang dekat dengan istrinya. Dia memang sangat percaya diri, tapi dia tidak suka jika ada yang menyentuh barang miliknya.
Merasa lelah dengan penerbangannya dan ditambah pula dengan ucapan Ellena mengenai istrinya, dia merasa ingin segera sampai di rumah. Tanpa menunda waktu, dia segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, dia masih memikirkan tentang ucapan Ellena. Segera diambil ponselnya dari saku celananya dan menghubungi nomor istrinya.
Sore hari menjelang malam, Nayla sedang bermain bola bersama dengan Calista di lapangan bola yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dia sibuk mengalihkan perasaannya yang selalu terbayang saat di danau bersama dengan Devan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja terdengar dering telepon dari ponsel Nayla. dengan segera Nayla menghentikan permainannya dan keluar dari lapangan.
“Apa itu telepon dari Papa Ma?” tanya Calista yang baru saja berlari menghampiri Nayla.
Nayla menganggukkan kepalanya setelah melihat nama penelepon yang tertera di layar ponselnya. Kemudian dia berkata,
“Bagaimana kamu bisa tau?”
“Terlihat jelas dari wajah Mama yang terlihat depresi,” jawab Calista sambil tersenyum lebar.
Dengan segera dia mengangkat telepon tersebut setelah Calista berlari kembali ke tengah lapangan.
“Halo,” sapa Nayla pada suaminya melalui telepon.
Sedang berada di mana kamu sekarang? tanya Bayu dari seberang sana.
“Di dekat rumah. Apa kamu sudah pulang Mas?” Nayla bertanya balik pada suaminya.
Kenapa aku mendengar cerita dari orang lain tentang kamu dekat dengan seorang pria? Apa kamu tidak tau bagaimana pramugari lain bergosip. Apalagi kamu istriku. Siapa pria itu? Apa dia salah satu dari rombonganmu? Atau mungkin dia rekan kerjamu? ucap Bayu yang terdengar menyalahkan istrinya.
“Pria? Yang mana? Ada banyak pria dalam rombongan dan rekan kerjaku juga banyak yang pria. Apa kamu sekhawatir itu?” tanya Nayla sambil mencoba mengingat-ingat siapa yang kemungkinan dibicarakan oleh suaminya.
Tidak. Aku hanya bicara. Lagi pula aku tau jika kamu tidak mungkin melepaskan pria hebat sepertiku, ucap Bayu dengan percaya dirinya.
“Ma… tanyakan pada Papa, kapan akan datang ke sini?” seru Calista dari tengah lapangan.
“Caca bertanya padamu, kapan kamu akan datang ke sini untuk menemuinya?” tanya Nayla pada suaminya melalui telepon.
Aku sekarang sedang ada di rumah. Aku lelah dan aku akan beristirahat, jawab Bayu dengan sedikit gugup.
“Sempatkanlah menemui Caca sebelum penerbanganmu selanjutnya. Dia ingin bertemu denganmu dan kita juga harus membahas rencana selanjutnya. Schedule ku berantakan karena Ibu sedang sakit,” ucap Nayla yang terdengar memohon pada suaminya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja telepon itu terputus. Nayla menghela nafasnya setelah suaminya memutuskan panggilan itu tanpa menjawab permohonannya.