Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Kedatangan Tuan Gerald


__ADS_3

Anesya sudah masuk ke dalam mobil, semua orang masih memperhatikan ke arah mobil mewah itu yang sudah mewah itu yang sudah mulai membela jalanan.


“Tuan kenapa datang ke perusahaan?” tanya Anesya. Ia takut jika lelaki di sampingnya ini akan merasa tersinggung jadi ia berhati-hati dalam bertutur kata.


“Kau tak suka jika aku datang?” tanya Tuan Gerald. Pertanyaan itu terdengar mengancam di telinga anesya.


“Bu-bukan seperti itu, Tuan,” jawab Anesya mulai gugup. Wanita itu menggenggam kedua tangannya yang kini sudah mulai di selimuti oleh keringat dingin.


“Lalu apa.” Sembur Tuan Gerald.


“Saya takut jika nanti akan tersebar berita yang bukan-bukan, saya hanya rakyat biasa yang tak memiliki kedudukan di mata masyarakat, tapi berbeda dengan Anda,” kata Anesya pada Tuan gerald. Semoga saja ia tak salah dalam bicara, atau iblis gila di sampingnya akan bertambah murka.


Tatapan tajam dan jug wajar datar itu mulai melebur perlahan, tergantikan dengan senyuman tipis yang kini sedang terukir di bibir Tuan Gerald.


“Dia sedang mencemaskan aku,” batin Tuan Gerald. Entah mengapa hatinya merasa begitu bahagia sekali hanya karena Anesya mencemaskannya, padahal selama ini ia tak pernah merasakan sebahagia ini sebelumnya meskipun memenangkan begitu banyak tender besar sekalipun.


“Van jelaskan padanya!” titah Tuan Geral. Kini lelaki itu kembali memasang wajah datar lagi bak jalanan beraspal tanpa lubang.


Van melirik ke arah belakang sekilas kemudian kembali menatap lurus ke depan karena ia tetap harus fokus mengemudi kalau tak ingin pergi ke pemakaman massal.


“Tak akan pernah ada orang yang menyebarkan rumor tentang Tuan Gerald karena mereka semua tahu apa akibatnya,” kata Van dengan tegas dan juga lugas


“Memang apa akibatnya?” tanya Anesya berpura polos. Padahal ia sudah tahu semuanya.


“Mereka akan kehilangan nyawa atau tetapi hidup tapi mati jauh lebih baik lagi,” kata Van.


Anesya tercengang mendengarnya, meskipun ia sudah tahu tentang kenyataan ini tapi entah mengapa jantung bodohnya masih saja berdetak dengan tidak stabil sekarang.

__ADS_1


Tuan Gerald menaruh salah satu tangannya di bahu Anesya dan hal itu sampai membuatnya berteriak kaget. Anesya kembali teringat jika malam ini adalah pernikahan Elsa dan juga Zico, tapi ia belum mengatakan apapun pada Tuan gerald semoga saja lelaki sedang sibuk.


“Tu-tuan,” kata anesya. Kedua tangannya menggenggam kuat pakaian kerjanya mencoba untuk menekan rasa takutnya.


“Hem,” jawab Tuan Gerald sembari melirik ke arah Anesya. “Dia ini begitu unik sekali, kadang berani kadang juga sisi penakutnya mulai muncul, sikapnya yang berubah-ubah sungguh membuat aku tak pernah merasa bosan,” batin Tuan Gerald dengan tangan yang mengusap pipi halus wanitanya.


“Nanti malam adalah pernikahan Elsa-Kakak tiri saya, bisakah Anda ikut dengan saya? Karena sejak dari awal saya mencari seorang lelaki hanya untuk menemani saya ke pernikahannya,” jelas Anesya jujur. Meskipun ia merasa takut tapi kebenaran itu harus di ungkapkan.


“Aku tahu,” jawab Tuan Gerald.


“Apakah Anda bisa menemani saya?” tanya Anesya.


“Hem,” jawan Tuan Gerald.


Van langsung menoleh ke arah belakang. “Tu-tuan, makan ini kita masih ada meeting dengan pemilik perusahaan dari luar negri,” kata Van memberanikan diri berbicara. Melhat sorot mata Tuan Gerald yang napak menajam membuat keringat jantung langsung memenuhi kening Van seketika.


"Batalkan saja! Kau jadwalkan ulang!” titah Tuan Gerald.


Anesya hanya bisa diam. Ia bingung harus melakukan apa. “Itu pasti tender yang besar, jika dia masih memaksa untuk mengantarkan aku, maka aku takut setelah ini aku tak akan memiliki kesempatan untuk lepas darinya,” pikir Anesya.


“Tu-tuan, saya bisa pergi sendiri, Anda hadiri saja meeting itu,” kata Anesya dengan suara yang sudah bergetar di ujung lidahnya.


Tuan Gerald melihat ke arah Anesya, jari telunjuknya terangkat menarik dagu wanitanya hingga kini pandangan mereka bertemu, "Apakah kau akan pergi bersama dengan lelaki lain.” Tebak Tuan Gerald.


“Ti-tidak,” jawab Anesya berdusta.


“Kau pikir aku tak tahu, jika waktu itu kau menemui lelaki yang berprofesi sebagai Dokter itu karena ingin memintanya menemanimu pergi ke pernikahan terkutuk ini.” Tebakan Tuan Gerald benar dan Anesya hanya bisa membisu. “jangan berhubungan dengan lelaki itu atau aku akan menghancurkan keluarganya tanpa peduli jika kakaknya adalah sahabatku.” Ancaman itu terdengar ngeri di telinga Anesya sampai membuat tubuhnya bergetar.

__ADS_1


“Apakah dia adik dari Dokter Samuel?” tanya Anesya mencoba memastikan.


Tuan Gerald menarik salah satu seringai pada bibirnya, “Tak aku sangka hanya satu kali bertemu dnegan lelak itu kau sudah mengingat wajahnya, sungguh menyebalkan sekali.” Tuan Gerald merasakan nyeri di bagian dadanya ketika mengetahui jika wanitanya mengingat wajah lelaki lain. Ini baru pertama kali terjadi padanya.


“Saya sudah menjauhinya,” jawab Anesya.


“bagus!” jawab Tuan Gerald puas. “Satu langkah yang kau ambil ketika keluar dari kediamanku, maka aku akan mengetahuinya jadi jangan mencoba untuk menemui lelaki itu!” ancam Tuan Gerald.


“Ba-baik Tuan,” jawab Anesya.


***


“Lia, kenapa kau datang sendiri, di mana adikku tercinta?” tanya Elsa yang sudah cantik dnegan mengenakan gaun pengantin yang kini sudah menempel sempurna pada tubuh langsingnya.


“Dia akan segera datang,” jawab lia.


“Pasti Anesya tak akan berani datang karena dia tak memiliki teman lelaki, siapa juga yang akan mau bersama dengannya, dia tidak cantik dan juga sok jual mahal,” kata Zico. Zico masih merasa geram ketika ia ingat kalau Anesya menolak berkali-kali saat hendak ia ajak untuk melakukan hubungan terlarang. Dasar wanita munafik.


Lia mengulas senyuman manis, mengambil satu gelas minuman ketika ada pelayan yang lewat, lalu meneguk minuman itu sampai tandas dalam gelasnya.


“Apakah karena sebab itu kau meninggalkan Anesya? Dan memilihnya?" tanya Lia dengan melirik ke arah Elsa yang kini tersenyum bangga sebab ia bisa merebut pacar adik tirinya. Zico kaya dan hidupnya juga mapan, karena sebab itu Elsa merebutnya.


“Ya tentu saja,” jawab Zico.


“Berarti menurut kamu, Elsa ini wanita yangs uka jual murah pada setiap lelaki, mangkannya kau memilihnya,” hardik Lia dengan menganggukkan kepala. “Lalu kau meninggalkan Anesya yang merupakan wanita jual mahal dan tak pernah terjamah oleh siapapun.”


Rahang Elsa langsung mengeras ketika mendengarkan apa yang barusan Lia katakan. Ia tak bisa tinggal diam. Ketika Elsa hendak buka suara terlihat semua tamu undangan yang ada di dalam rumah ini nampak heboh dan melihat ke arah pintu masuk.

__ADS_1


Lia, Elsa dan juga Zico ikut menatap ke arah pintu masuk. Elsa menjatuhkan gelas di tangannya saat ia mengetahui siapa itu yang datang.


yang mau lihat visual Anesya dan juga Tuan Gerald bisa follow IG Khairin_junior.


__ADS_2