Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Kediaman yang Menggangu


__ADS_3

Sejak kejadian waktu itu Anesya dan juga Tuan Gerald tak banyak bicara-ralat Tuan Gerald memang tak pernah banyak bicara, lelaki itu hanya membuka suara jika ada hal penting yang saja. Selebihnya hanya memilih diam dan juga mengamati situasi.


Pagi hari ini Anesya dan juga Tuan Gerald sedang menikmati hidangan di piring masing-masing, tak ada perbicangan yang keluar dari bibir keduanya, Anesya juga lebih memilih untuk fokus menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya. Sesekali Tuan Gerald melihat ke arah Anesya yang menundukkan kepala sejak dari tadi, lelaki itu hanya bisa mendesahkan nafasnya kasar di udara.


“Kenapa juga aku terlalu perduli dengannya, aku tak seharusnya perduli dengan wanita itu, aku menganggapnya hanya sebatas mainan saja dan tidak lebih,” kata Tuan Gerald.


“Hari ini aku berangkat bersama dengan pengawal saja, aku tak akan datang ke perusahaan, ada urusan lain yang harus segera aku selesaikan,” ujar Tuan Gerald.


“Baik,” jawab Anesya singkat. Wanita itu mengangkat kepalanya sekilas untuk menjawab ucapan Tuan Gerald, kemudian kembali menundukkan kepalanya lagi.


“Aku sudah susah payah untuk mencairkan suasana dan dia hanya menjawab sesingkat itu,” gerutu Tuan Gerald di dalam hatinya. Tuan Gerald tidak tahu kenapa ia begitu peduli dengan Anesya, kenapa ia harus mengajak wanita itu berbicara sedangkan selama ini semua wanita selalu saja mencoba untuk memanjakannya dengan tubuh molek mereka, tapi Anesya bahkan menjaga jarak dengannya, inikah yang dinamakan dengan karma? Ya, sepertinya begitu.


“Tuan, saya akan berangkat sekarang,” pamit Anesya pada Tuan Gerald.

__ADS_1


“Hem.” Tuan Gerald melahap sarapan paginya seakan tak perduli dengan Anesya padahal di dalam hati lelaki itu sedang menahan emosi karena melihat sikap wanitanya  yang terkesan acu padanya.


Tuan Gerald melemparkan sendok dan juga garpunya begitu saja ke atas meja kemudian beranjak berdiri dari posisi duduknya. Lelaki itu benar-benar tak tahan jika melihat sikap diam Anesya yang seperti ini.


Di sisi lain.


“Anesya kamu tak boleh terlihat lemah, kamu tak boleh mencintainya, dia bukan untuk kamu, buang perasaan cinta itu sejauh mungkin agar kau tak merasa sakit hati ketika Tuan Gerald memilih untuk melepaskan kamu,” batin Anesya mencoba untuk memberikan motifasi pada dirinya sendiri agar tidak jatuh ke dalam lembah penderitaan yang berama cinta.


“Tu-tuan ada apa?” tanya Anesya pada Tuan Gerald.


“Apakah kau marah padaku karena waktu itu?” tanya Tuan Gerald pada Anesya dengan suara yang setengah tertahan di tenggorokannya.


“Tidak,” jawab Anesya singkat.

__ADS_1


“Aku sudah menurunkan egoku dengan bertanya padanya, tapi wanita ini  justru menjawab dengan begitu singkat sekali,” batin Tuan Gerald di dalam hatinya. Tuan Gerald pasti tidak sadar jika selama ini sikap semacam itulah yang seringkali ia tunjukkan pada orang lain yang ada di sekitarnya.


“Lalu kenapa diam saja?” tanya Tuan Gerald.


“Karena saya takut salah bicara dan nanti akan membuat Anda marah,” jawab Anesya jujur dengan kepala yang tertunduk.


“Apakah aku terlalu kasar padanya ketika mencengkram rahangnya waktu itu? Aku pernah melakukan hal serupa pada wanita-wanita lain, tapi mereka tak pernah merasa keberatan bahkan selalu mendatangi aku setiap waktu, hanya saja aku yang sudah bosan dengan mereka semua. Wanita yang memberikan tubuhnya secara suka rela padaku sungguh tidak menarik,” batin Tuan Gerald di dalam hatinya.


“Tuan, bolehkah saya berangkat kerja sekarang?” tanya Anesya pada Tuan Gerald.


“Ayo berangkat bersama,”  ajak Tuan Gerald. Dan untuk kali pertama lelaki itu menggandeng tangan seorang wanita dan itu adalah Anesya.


Anesya melihat ke arah tangannya yang sedang digandeng oleh Tuan Gerald.

__ADS_1


__ADS_2