
Anesya menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang sudah terkepal dengan begitu kuat, air mata jatuh membasahi lantai ruangan ini. Selang beberapa waktu akhirnya Anesya bisa mengendalikan dirinya lagi, ia mulai mengangkat pandangannya perlahan kemudian melihat ke arah Lia yang saat ini juga sedang menatapnya.
“Lia, kenapa kau berubah? Kenapa kau jadi jahat padaku, memangnya apa kesalahanku padamu, Lia?” tanya Anesya dengan suara yang terdengar parau.
Lia melangkah mendekati Anesya, kemudian berjongkok di hadapan sahabatnya itu, wajah Lia terlihat teduh dengan manik yang sendu nampak bisa Anesya lihat dengan begitu jelas sekarang.
“Aku begitu menyayangi kau Anesya, aku bahkan sudah mengganggap kamu sama seperti saudaraku sendiri,” kata Lia dengan mengusap air mata yang jatuh di pipi sahabatnya itu dengan gerakan yang lembut, Lia menarik tangannya kembali dan seketika itu juga wajahnya berubah menjadi datar. “tapi semenjak aku tau jika Tuan Gerald mencintaimu, aku merasa iri dan marah,” kata Lia sembari menarik tubuhnya untuk berdiri.
“Lia, kau tahu aku tidak mencintai lelaki itu dan aku juga tidak ingin dekat dengannya,” kata Anesya mencoba untuk memberikan penjelasan agar sahabatnya itu tidak salah paham padanya.
“Kau bohong Anesya! Sudah berulang kali aku meminta kau untuk menjauhi lelaki itu, tapi kau masih saja bersama dengannya,” hardik Lia.
“Lelaki itu mengancam ku Lia, dia membuat aku tak bisa menjauh darinya. Dan sekarang aku ingin menjauh darinya, tapi kau merencanakan hal ini padaku,” jelas Anesya.
“Sekarang semua sudah terlambat! Kita tak akan pernah bisa menjadi sahabat lagi, lebih.” Lia menekankan semua kata yang keluar dari bibirnya kemudian melangkah mundur. “kalian boleh melakukan apapun padanya, tapi jangan biarkan dia keluar dari tempat ini, kurung dia seumur hidup dan kalian juga akan mendapatkan kenikmatan dari tubuhnya,” kata Lia dengan begitu kejam.
Lia memberikan amplop coklat yang berisikan yang pada salah satu lelaki. Lelaki itu langsung membuka isi yang ada didalam amplop coklat itu dan menghitungnya, lelaki itu langsung menganggukkan kepala setelah mengetahui jika isi uang yang ada didalam sana sesuai dengan kesepakatan awal mereka.
“Lia, tolong jangan lakukan ini padaku! Tidak bisakah jika kau membantu aku untuk menjauhi lelaki itu dan aku akan menganggap jika kejadian ini tidak pernah ada, aku akan melupakan tentang penculikan ini, Lia. Aku mohon jangan bersikap kejam padaku,” rengek Ava disela-sela tangisannya.
“Kalian tunggu apa! Bersenang-senanglah, aku akan keluar.” Lia menulikan pendengarannya, ia melangkah keluar dari ruangan ini begitu saja meninggalkan Ava.
__ADS_1
“Persahabatan kita sudah berakhir,” batin Lia didalam hati.
“Lia ... Lia ... Lia, jangan seperti ini, Lia aku mohon,” jerit Anesya mulai terdengar.
“Sayang, dari pada kau berteriak seperti itu, bukankah jauh lebih baik jika kau mendesah saja,” kata salah satu lelaki dengan tatapaan mesumnya.
“Ja-jangan dekati aku, jangan dekati aku,” teriak Anesya sembari mencoba untuk melarikan diri.
Lelaki berkepala botak itu langsung menarik tangan Anesya dan memeluknya, lelaki itu dengan rakus menciumi tengkuk Anesya meskipun terhalang oleh rambut panjang sang wanita yang tergerai begitu saja.
“Sayang, coba kita buka baju kamu,” ujar salah satu lelaki dengan tangan yang sudah menarik baju yang Anesya kenakan sekarang.
Lelaki itu dengan rakus langsung mengarahkan tangannya untuk menggenggam kedua gundukan kembar milik Anesya, Anesya menjerit meminta tolong tapi tak ada yang datang hingga suara riuh mulai terdengar. Mata Anesya melihat ke sosok lelaki yang begitu ingin ia hindari, tapi entah kenapa Anesya merasa sangat senang sekali ketika lelaki itu datang dan mencarinya. Tuan Gerald adalah lelaki yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini.
Kedua lelaki yang tadi sempat melecehkan Anesya langsung menjauh, salah satu lelaki lain segera mengarahkan pisau ke leher Anesya mencoba untuk mengancam, sedangkan salah satu lelaki lain nampak waspada dan berdiri di samping sahabatnya.
Rahang Tuan Gerald langsung mengetat, sorot mata iblis itu menatap kedua lelaki tajam sekali, kedua lelaki itu merasa ketakutan hingga kedua lutut mereka gemetar, aura membunuh yang Tuan Gerald pancarkan membuat mereka takut bukan main.
“Berani sekali kalian menyentuhnya! Bentak Tuan Gerald.” Suara lelaki itu terdengar mengintimidasi siapa saja yang mendengarnya.
“Jika kau berani melangkah mendekat maka akan aku pastikan wanita ini mati dan setelah itu kami akan bunuh diri,” ancam lelaki berkepala plontos itu dengan nada suara yang terdengar bergetar.
__ADS_1
“Tu-tuan saya takut,” kata Anesya. Anesya mungkin memang merasa ketakutan sekarang, tapi kehadiran Tuan Gerald justru membuatnya merasa sedikit lebih tenang, ia percaya jika Tuan Gerald tak akan pernah membiarkan dirinya terluka-lelaki itu akan melindunginya, itulah yang Anesya percaya.
“jangan takut Sayang, aku ada di sini untukmu,” kata Tuan Gerald. Lelaki itu berbicara dengan suara yang terdengar lembut dan sorot mata iblis itu mulai terlihat teduh saat bersitatap dengan Anesya.
“Lepaskan dia dan aku akan memberikan imbalan pada kalian berdua,” kata Tuan Gerald mencoba untuk membujuk. Jika tidak mengingat kalau wanita kesayangannya ada didalam pelukan lelaki itu maka sudah bisa di pastikan jika Tuan Gerald akan langsung menghabisi kedua lelaki itu sekarang juga.
Kedua lelaki tidak menyadari jika kini ada lima orang pengawal yang sedang membidikkan senjata ke arah mereka dari luar ruangan ini. Tempat ini terdapat beberapa cela dan itulah yang sekarang sedang di manfaatkan oleh kelima pengawal itu untuk menempatkan senapan mereka.
Tuan Gerald menganggukkan kepalanya kemudian semua pengawal yang ada di luar sana langsung menembaki kedua lelaki itu, hingga mereka berdua langsung jatuh ke lantai dengan bersimbah darah.
“Hua ... hua ... hua,” teriak Anesya yang merasa kaget sekali setelah mendengarkan suara tembakan yang beruntun itu, Anesya selama ini tak pernah sekalipun mendengarkan suara tembakan sehingga ia begitu kaget dan membuat jantungnya berdegup begitu kencang, tubuhnya semakin bergetar.
Anesya melihat nanar ke arah kedua lelaki yang kini sudah tergeletak di hadapannya, cairan warna merah mengenang di samping kakinya membuat tubuh Anesya lemas sekali. Anesya yang sudah tidak bisa menahan berat badannya pun hampir terjatuh, tapi Tuan Gerald langsung menarik tangan Anesya kemudian membopong wanitanya itu.
Anesya mengalungkan kedua tangannya di leher Tuan Gerald dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.
“Tu-tuan saya takut,” kata Anesya bergetar.
“Aku akan melindungi mu Sayang,” kata Tuan Gerald sembari memeluk erat tubuh wanitanya.
“Anesya tolong aku,” kata seorang wanita yang begitu Anesya kenali suaranya. Itu adalah Lia.
__ADS_1
Setelah Tuan Gerald mengajak Anesya keluar dari ruangan ini, Lia mendengar suara Lia meminta tolong. Anesya membuka mata dan melihat jika Lia sedang di tawan oleh dua orang pengawal Tuan Gerald.