Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Perubahan Sikap Elsa


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit, Anesya langsung turun dari dalam mobil kemudian menyerbu masuk ke dalam rumah sakit. Tuan Gerald menarik tangan Anesya hingga membuat wanita itu berhenti berjalan dan kini sedang berdiri di sampingnya.


“Biarkan Asisten Van dahulu! Memangnya kau tahu tempatnya?” tanya Tuan Gerald sembari menahan air muka ingin meledak karena emosi yang sudah berdenyut di puncak ubun-ubun nya. Baru kali ini ada wanita yang berani berlari di ahdapannya dan juga mengabaikannya dan itu adalah Anesya.


Jika wanita lain yang berani melakukan ini apdanya maka sudah bisa diopastikan jika Tuan Gerald akan langsung menghabisnya tapi Tuan Gerald tak melakukan itu untuk kali ini, karena ia tak mau membuat Anesya mendiamkannya seperti beberapa waktu yang lalu. Argh sejak kapan juga Taun Gerlad perduli dengan orang lain.


“lain kali jangan pernah ebrlari di hadapanku!” titah Tuan Gerald sembari melangkah di samping Anesya. Lelaki itu bahkan mengandeng tangan Anesya.


“Memangnya kenapa Tuan?” tanya Anesya polos.


“Karena kau bukan anak kecil dan aku juga tak ingin jika sampai kau jatuh dan membuat aku malu,” ujar Tuan Gerald.


“Baik,” jawab Anesya. “Tadinya aku kira Tuan Gerald mencemaskan aku, tapi ternyata lelaki itu mencemaskan tentang reputasinya sendiri,” batin Anesya.

__ADS_1


Asisten Van menghentikan langkahnya disalah satu ruangan kamar, kemudian membuka pintunya dan mempersilahkan Tuan Gerald dan Nona Anesya masuk ke dalamnya. Asisten Van berdiri menjaga di depan pintu ruangan itu, terlihat juga beberapa pengawal ikut berjaga sebab Tuan Gerald memiliki begitu banyak musuh karena ia adalah lelaki arogan yang suka menghukum siapa saja yang berani menyingung ataupun tanpa sengaja menmcari masalah dengannya. Tidak heran jika kemanapun pergi akan banyak pengawal yang mengikutinya.


Anesya melihat ke arah Elsa yang kini sedang berbaring di atas ranjang dinsin pasien, wanita itu menutup- kedua matanya dengan wajah yang nampak babak belur, bahkan ada bekas pukulan disekujur tubuhnya. Anesya seakan bisa merasakan ngilu di sekujur tubuhnya ketika melihat semua ini.


"Jangan terlalu dekat dengannya," kata Tuan Gerald memperingatkan Anesya.


"Dengan kondisi yang seperti ini, memangnya apa yang bisa wanita ini lakukan padaku?" tanya Anesya pada Tuan Gerald.


"Tak ada ada yang berani melukai saya Tuan, apakah Anda ada di samping Saya dan satu-satunya orang yang bisa melukai saya adalah Anda sendiri," kata Anesya.


Tuan Gerald terdiam. Tangan lelaki itu yang sebelumnya sempat menggengam tangan Anesya mulai terlepas sekarang. Lelaki itu menatap lurus ke arah Elsa yang masih terbaring lemah.


Elsa membuka matanya ketika merasakan jika ada seseorang yang menyentuhnya dengan gerakan lembut. Elsa melihat ke arah Anesya dengan wajah datar, detik berikutnya wanita itu mengalihkan atensinya pada Tuan Gerald.

__ADS_1


Binar mata memuja dan penuh damba itu membuat Tuan Gerald jengah hingga mendengus kan kasar nafasnya di udara.


"Anesya, dia melukaiku, dia mencoba untuk membunuh aku," kata Elsa pada Anesya dengan suara yang lemah.


"Siapa?" tanya Anesya dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca.


"Zico!" kata Elsa dengan derai air matanya.


"Itu tidak heran Elsa, itu semua juga salah kau," kata Anesya jujur dan tak membela Elsa dalam hal ini.


Elsa mengeraskan rahangnya sejenak setelah mendengarkan ucapan yang terlontar dari bibir adik tirinya ini.


"Kamu benar Anesya, aku sedang mendapatkan hukuman," kata Elsa dengan bulir air mata berjatuhan dari sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2