
Anesya berdiri membeku di posisinya sekarang, ia benar-benar tak menduga jika Tuan Gerald membeli ternyata membeli perusahaan ini padahal lelaki itu begitu kaya dan memiliki banyak perusahaan lain. Kira-kira seperti itulah yang sekarang sedang Anesya pikirkan di dalam benaknya. Orang kaya memang seringkali melakukan sesuatu yang tak terduga dan contohnya seperti sekarang ini.
“Sayang, kemarilah dan temani aku,” pinta Tuan Gerald sembari menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya. Tuan Gerald tak bisa menahan diri untuk tidak dekat dengan wanitanya, Anesya terlalu menggemaskan baginya. Wanita itu mirip seperti mainan yang membuat Tuan Gerald candu hingga ingin ia bawa kemanapun dan menjaganya agar tidak sampai diusik oleh orang lain.
“Sa-saya harus bekerja, Tuan,” jawab Anesya. Anesya seakan menyadari arti tatapan Tuan Gerald padanya, ia harus segera kabur sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan di dalam ruangan ini.
“Aku adalah pemilik perusahaan ini, lalu untuk apa kamu masih mau bekerja?” tanya Tuan Gerald membuat Anesya terdiam.
__ADS_1
Anesya kembali mengingat percakapan yang sempat lelaki itu katakan padanya kemarin. Anesya membulatkan kedua manik matanya ketika ia mengetahui alasan Tuan Gerald membeli perusahaan ini. Tuan Gerald mengulas senyuman tipisnya ketika mengetahui jika wanitanya sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Apakah ini alasan Tuan Gerald membeli perusahaan ini?” tanya Anesya. Untuk meyakinkan dirinya sendiri jika apa yang sedang terpikirkan olehnya adalah benar, Anesya perlu pertanya pada Tuan gerald dan itulah yang sekarang sedang coba untuk dia lakukan.
“Kalau sudah tahu jawabannya kenapa masih bertanya,” ujar Tuan Gerald dengan seringainya.
“Tuan, kita mungkin memang tinggal satu rumah dan bisa juga dibilang memiliki hubungan yang spesial, tapi saya harap kita bekerja secara professional dan sekarang Anda adalah majikan saya sedangkan saya adalah pekerja Anda,” ujar Anesya mencoba untuk membedakkan mana urusan pribadi dan juga urusan pekerjaan.
__ADS_1
“Jika sudah tidak ada hal lain lagi, maka saya akan keluar dari ruangan ini,” ujar Anesya seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. Wanita itu melangkah menuju pintu utama ruangan ini.
“Apa yang akan kau katakan pada rekan kerjamu yang lain?” pertanyaan Tuan Gerald membuat Anesya membeku di posisinya.
Anesya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia belum memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada rekan kerjanya. Jika mengingat para rekan kerjanya yang selalu kepho pada urusannya, pastilah mereka semua akan mempertanyakan ini dan itu, membuat pusing saja.
“Katakan jika kita adalah sepasang kekasih,” ujar Tuan Gerald membantu Anesya berpikir.
__ADS_1
Anesya menyentak pandangan ke arah Tuan Gerald gerald kemudian berkata, “Aku akan memikirkan jawaban yang lain, tapi bukan jawaban yang barusan Anda katakan, saya permisi dulu.” Anesya menutup pintu ruangan Tuan Gerald dengan keras hingga bunyi gedebam membuat Asisten Van terjingkat kaget.
“Hanya Nona Anesya saja yang berani menutup pintu ruangan Tuan Gerald sekasar itu, jika orang lain yang melakukannya maka sudah bisa di pastikan maka kedua tangan orang itu akan putus dengan mengenaskan,” batin Asisten Van.