Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Ingin Menghilang


__ADS_3

Anesya bersama dengan Tuan Gerald dan juga asisten Van melangkah masuk ke dalam restoran bintang 5. Anesya merasa sangat malu sekali ketika semua orang yang ada di restoran ini memperhatikan terutama kaum wanita, Anesya merasa tidak nyaman sehingga wanita itu berjalan dengan menundukkan pandangannya.


"Apakah kamu tidak sukses bisa makan di restoran seperti ini?" tanya Tuan Gerald setelah mereka duduk di kursi yang telah disediakan.


"Jika aku berkata tidak nyaman karena ditangkap oleh para wanita itu maka sudah bisa dipastikan jika tuan gila ini akan orang yang ada di dalam aktivitas makan malam mereka," batin Anesya di dalam hatinya.


"Saya hanya masih belum terbiasa saja, nanti kalau sudah terbiasa juga akan merasa nyaman sendiri," dusta Anesya.


Anesya mengedarkan pandangannya ke sekitar dan restoran ini nampak begitu Asri sekali karena terdapat danau buatan yang ada di tengah-tengah restoran ini lengkap dengan sepasang angsa putih yang berenang di danau tersebut, danau itu juga terdapat beraneka macam bunga yang semakin menambah indah pemandangan di danau buatan restoran ini.


Atensi Anesya mulai teralihkan setelah ia mendengar suara Tuan Gerald bertanya padanya.


"Sayang, kau ingin makan apa?" tanya Tuan Gerald dan di tangan lelaki itu sudah membawa daftar menu. Tuan Gerard melemparkan menu itu perlahan di hadapan wanitanya lalu berkata, "kau lihat saja yang pilih menu makan malam kita!" perintah Tuan Gerald.


"Baik, Tuan," jawab Anesya patuh.


Anesya mulai membuka daftar menu yang ada di hadapannya ia begitu tercengang sekali hingga kedua bola matanya hampir saja terlepas dari tempatnya itu melihat harga-harga makanan yang tertera di daftar menu itu. Harga makanan di restoran bintang 5 ini sangat mahal sekali bahkan satu bulan gajinya di perusahaan tak akan mungkin bisa membayar makan malam mereka sekarang. Itulah yang sekarang sedang terpikirkan di benaknya.


"Sayang, Kenapa kau hanya diam saja? Pilihlah makanan yang kamu sukai," pinta Tuan Gerald.


"Tu-tuan, saya bingung harus memilih apa sebaiknya Anda saja yang memilihnya," jawab Anesya dengan nada suara yang terbata-bata.


Tuan Gerald menjawab dengan anggukan kepala kemudian lelaki itu menatap ke arah Asisten Van yang kini berdiri di dekatnya. Asisten Van seakan sudah bisa menebak apa yang majikannya itu inginkan hingga lelaki itu menganggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


"Bawakan semua menu makanan yang ada di restoran ini!" perintah Asisten Van kepada pelayan restoran.


"Baik, Tuan." Setelah bicara pelayan restoran itu langsung melangkah menuju ke dapur guna untuk menyampaikan pesanan Tuan Gerald kepada para koki yang ada di dalam sana.


Selang beberapa waktu kemudian.


Para pelayan yang ada di restoran ini berjalan keluar dari dapur sembari membawa pesanan Tuan Gerald, ada sekitar 6 pelayan yang membawa pesanan Tuan Gerald dengan membawa meja dorong karena saking banyaknya pesanan dari orang nomor satu di negara ini.


Anesya sampai menelan ludahnya sendiri ketika melihat begitu banyak makanan yang dipesan oleh Tuan Gerald. Anesya mengalihkan atensinya kepada dua kompak lelaki yang baru saja melewati pintu restoran ini, kepala Anesya langsung tertunduk ketika ia menyadari jika salah satu lelaki itu adalah Diki dan lelaki yang satunya lagi tidak lain ialah dokter Samuel.


"Astaga, kenapa harus bertemu mereka di restoran ini," batin Anesya dengan kedua tangan saling menggenggam satu sama lain di bawah meja.


"Apakah kamu tidak menyukai semua makanan yang aku pesan?" makanya Tuan Gerald ketika melihat ke arah wanitanya hanya menundukkan kepala tanpa berniat untuk mencicipi satu porsi pun makanan yang telah ia pesan.


"Asisten Van duduklah di meja lain dan makan malam lah dahulu, ambil saja makanan yang kau inginkan karena wanita itu tidak mungkin menghabiskan semuanya!" perintah Tuan Gerald kepada Asisten handalnya.


"Terima kasih Tuan," jawab Asisten Van.


seorang pelayan membawakan makanan kemeja Asisten Van dan juga minumannya kemudian lelaki itu melahap makanan tersebut sembari sesekali melihat ke arah yang sekarang sedang sibuk menikmati makanan di dalam piringnya.


"Sepertinya dunia terlalu sempit sehingga aku bisa bertemu denganmu di sini Gerald," kata Samuel. Tanpa permisi terlebih dahulu lelaki itu langsung menarik satu kursi dan mendudukinya tepat di samping Tuan Geralt.


Asisten Van kamu memperhatikan dari posisi duduknya karena hal seperti ini sudah biasa terjadi ketika majikannya itu bertemu dengan Dokter Samuel.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sini." Sembur Tuan Gerald pada Dokter Samuel.


"Diki duduklah dan kita makan bersama, hitung-hitung makan gratis karena mereka berdua tidak akan mungkin bisa menghabiskan semuanya sendirian," kata Samuel kepada adiknya.


"Nasibku pasti sangat sial sekali malam ini karena bisa bertemu denganmu jika tahu seperti ini maka aku akan membooking restoran ini," kata Tuan Geralt sembari memasukkan satu potong stik daging dengan kematangan medium ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya dengan gerakan perlahan.


"Berarti kau menjadi orang yang paling beruntung karena kau tidak jadi membooking restoran ini," kata Samuel dengan tidak tahu malu.


Anesya sibuk menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya tanpa berniat untuk mengangkat pandangannya sedikitpun, Entah mengapa ia merasakan dadanya sesak sekali berada di antara Tuan Gerald dan juga Diki seperti ini. Anesya ingin saja langsung menghilang dari restoran ini tapi sayangnya dia hanya manusia biasa yang tak akan mungkin bisa melakukannya.


Diki sejak dari tadi memperhatikan wanita yang ada di hadapannya kemudian seulah senyuman manis terukir pada bibirnya ketika ia menyadari jikalau wanita yang ada di sampingnya ini ternyata adalah Anesya-wanitan yang tempo hari hendak meminta bantuannya untuk menjadi pacar pura-pura, tetapi batal. Dan wanita ini juga belum membalas pernyataan cintanya. Diki tidak mengetahui jikalau Anesya adalah wanita milik Tuan Gerald.


"Anesya kita bertemu lagi," kata Diki kepada Anesya.


"Hem," jawab Anesya masih menundukkan kepalanya.


Tuan Gerald mulai memperhatikan kearah wanitanya dengan tatapan tajam, Anesya memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya dan kini netranya bersitatap dengan netra milik Tuan Gerald.


"Gawat lelaki itu sepertinya marah denganku, aku tidak ingin Diki terkena masalah, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Anesya pada dirinya sendiri.


Samuel melihat ke arah Diki kemudian berkata, "Diki apakah kamu mengenalnya?" tanya Samuel sembari menatap ke arah adiknya.


"Diki jangan ceritakan semuanya," batin Anesya di dalam hati dengan kedua tangan yang sudah dibasahi dengan keringat dingin.

__ADS_1


Diki tidak menceritakan mulai dari awal pertemuannya dengan Anesya secara gamblang dan juga detail, hal itu tentu saja langsung membuat rahang Tuan Gerard menegang dengan tatapan semakin menancap bagaikan seekor elang yang sedang mengamati buruannya di udara.


__ADS_2