
Anesya menggelengkan pelan kepalanya. "Mana mungkin saya berani melakukan hal semacam itu, andaikan saja Tuan memberikan racun kepada saya, maka saya akan meminumnya," kata Anesya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tuan Gerald tak bisa menahan tawa ketika melihat cara Anesya berbicara, sungguh wanitanya ini tidak pandai berbohong.
"Duduklah di meja makan, aku akan membuatkan makanan untukmu," kata Tuan Gerald.
"Bagaimana jika saya membantu Anda?" tanya Anesya. Tuan Gerald tidak menjawab lelaki itu hanya menatap ke arah Anesya, dan melihat tatapan matanya itu Anesya pun buru-buru melangkah menuju meja makan lalu mendudukkan tubuhnya di sana.
"Astaga dia benar-benar menakutkan juga seperti itu," batin Anesya.
Anesya melihat ke arah Tuan Gerald yang kini menggunakan apron berwarna hitam di tubuhnya, lelaki itu dengan lihai mulai mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan di dalam kulkas kemudian mulai melangkah menuju wastafel untuk membersihkan semua bahan-bahan yang ia ambil tadi. Anesya baru saja menggerakkan kedua bola matanya ke arah Tuan Gerald berjalan.
Tuan Gerald yang merasa seperti sedang diawasi mulai menoleh ke arah belakang dan ia melihat ke arah Anesya yang kepergok menatapnya tetapi wanita itu buru-buru menundukkan kepala mencoba memainkan jari-jemarinya dengan kedua pipi yang sudah merona merah.
"Astaga, apakah dia mengetahui jika aku menatapnya," batin Anesya.
"Tentu saja aku tahu." jantung Anesya rasanya hampir mencelos setelah mendengarkan suara Tuan Gerald membelai telinganya.
Wanita itu mulai mengangkat pandangannya dan ia melihat jika kini Tuan Gerald sudah ada di depannya. Tuan Gerald sedikit membungkukkan tubuhnya kemudian mengecup bibir Anesya hingga membuat wanita itu langsung membulatkan kedua matanya.
"Kenapa, malu?" tanya Tuan Gerald pada Anesya.
"Tidak, kenapa harus malu," kata Anesya sembari membuang pandangannya ke arah lain.
"Kamu itu tidak pandai berdusta jadi jangan lakukan lagi," kata Tuan Gerald.
Setelah berbicara seperti itu Tuan Gerald kembali melangkah menuju dapur menyelesaikan membuat makanan untuk Anesya. Anesya yang merasa malu langsung membenamkan wajahnya dalam lipatan tangan, hatinya merasa sangat hangat sekali ketika melihat Tuan Gerald tersenyum padanya. Senyuman Anesya mulai melebur ketika ia mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Lia. Maafkan aku, kau sendiri yang membuat iblis dalam diriku keluar hingga menghilangkan rasa belas kasihku." Satu tetes bulir air mata jatuh membasahi pipi Anesya. Andai saja ada kehidupan kedua maka ia berdoa supaya bisa berteman dengan Lia lagi tetapi tidak bertemu dengan Tuan Gerald dan mungkin hanya dengan begitu saja maka persahabatan mereka akan utuh seperti sedia kala.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Tuan gera Alex sembari menaruh satu piring steak daging dihadapan Anesya.
Anesya mulai membiarkan lipatan kedua tangannya lalu ia menatap ke arah stik daging dengan kematangan medium yang ada di depannya, terdapat kentang goreng dan juga sayuran sebagai pelengkap steak daging tersebut.
"Saya tidak sedang memikirkan apapun," kata Anesya sembari mengusap bulir air mata yang sempat jatuh di pipinya.
"Sudah tahu tidak bisa berbohong tetapi masih saja berusaha melakukannya," kata Tuan Gerald.
"Aku tidak sedang berbohong," kata Anesya.
"Sudah cepat habiskan stik daging itu nanti kalau sudah dingin maka rasanya tidak akan sama lagi," pinta Tuan Gerald.
"Tuan, apakah anda bisa membedakan garam dan juga gula?" tanya Anesya dan hal itu membuat salah satu alis Tuan Gerald naik.
"Aku hanya takut jika Anda tidak bisa membedakannya, setahu saya CEO yang ada di drakor terkadang tidak bisa memasak," jelas Anesya jujur.
Tuan Gerald hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pusing setelah mendengarkan penuturan dari wanitanya ini. "Sayang, itu hanya di dalam drama dan ini adalah dunia nyata jangan disamakan," jelas Tuan Gerald.
Lelaki itu langsung mengarahkan tangannya untuk memotong steak daging yang ada di depannya kemudian memasukkan suapan kecil itu ke dalam mulutnya untuk meyakinkan jikalau tidak ada yang aneh dengan stik daging buatannya.
"Tuan, steak ini buat saja kenapa dimakan lagi," kata Anesya sembari menjauhkan piring bersihkan setidak daging itu dari jangkauan Tuan Gerald.
"Astaga, tingkahnya masih seperti anak kecil," batin Tuan Gerald yang merasa gemas melihat wajah cemberut wanitanya itu.
"Aku bisa membuatkan begitu banyak stik untukmu jadi makanlah dan jangan terburu-buru," kata Tuan Gerald dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Anesya.
__ADS_1
***
"Tidak jangan lakukan ini padaku, Lia tolong aku." Tuan Gerald langsung terbangun dari posisi tidurnya setelah lelaki itu mendengarkan suara racauan Anesya.
Tuan Geralt menyerahkan lampu tidurnya kemudian melihat ke arah Anesya, kening wanita itu berkeringat dan wajahnya juga nampak pucat, Tuan Gerald tahu jikalau Anesya pasti bermimpi masih berada di dalam situasi mencekam itu.
"Tidak," teriak Anesya sembari membuka kedua matanya.
Anesya melihat ke arah Tuan Gerald yang kini menatapnya. Anesya segera memeluk tubuh lelaki itu begitu erat sekali. Tangan Tuan Gerald mengusap perlahan kepala Anesya, lelaki itu mendekap tubuh wanitanya seakan sedang memberikan menyalurkan energi positifnya.
"Tenanglah, ada aku di sini, aku tak akan pernah membiarkan sesuatu hal yang buruk terjadi padamu, sekarang tidurlah," pinta Tuan Gerald.
Anesya tidak menyahuti ucapan Tuan Gerald. Wanita itu terus saja memeluk tubuh Tuan Gerald hingga semakin lama pelukan itu melemah menandakan jika Anesya telah terlelap dalam tidurnya.
Tuan Gerald membenarkan posisi tidur Anesya, satu tangannya yang lain meraih ponselnya yang ada di dalam jangkauannya. Lelaki itu mengirimkan pesan singkat pada Asisten Van yang mengatakan jika Asistennya itu harus membunuh Lia. Setelah menaruh ponselnya di atas nakas, Tuan Gerald menatap kearah wajah Anesya yang mulai terlihat tenang.
"Sayang, aku tak akan pernah membiarkan ada orang yang menyakitimu," kata Tuan Gerald.
Anesya mulai bergerak tidak tenang menandakan jika wanita itu memimpikan hal yang sama. Tuan Gerald langsung memeluk tubuh Anesya lebih erat lagi dan tangannya mengusap kepala Anesya. Cara ini benar-benar begitu mujarab sekali karena Anesya mulai terlelap di dalam tidurnya kembali.
Anesya membuka mata dan ia melihat ke arah Tuan Gerald yang kini tersenyum padanya, Anesya menekuk tubuh Tuan Gerald. Ia merasa tak bisa jauh dari Tuan Gerald sekarang.
"Tuan, apakah semalam Anda tidak tidur?" tanya Anesya setelah melihat ada jantung mata hitam di bawah kelopak mata Tuan Gerald.
"Aku menjagamu, mana mungkin bisa tidur," jawab Tuan Gerald dan setelah bicara lelaki itu mengecup bibir Anesya sekilas.
"Dia menjagaku, apakah benar lelaki angkuh sepertinya menjagaku semalaman?" tanya Anesya pada dirinya sendiri.
__ADS_1