Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Asisten Van Dikira Pacar Anesya


__ADS_3

Anesya membuka pintu ruangan kerjanya, wanita itu mengedarkan pandangan ke sekitarnya dan melihat jika semua orang yang ada di dalam ruangan ini menatapnya, Anesya bisa mengetahui dengan begitu mudah jika semua orang yang ada di dalam ruangan ini pasti merasa sangat penasaran sekali mengenai dirinya yang di panggil ke ruangan Tuan Gerald.


“Aku tak akan membuka suara sebelum di tanya,” batin Anesya di dalam hatinya.


Anesya duduk begitu saja kemudian memusatkan pandangan ke benda berbentuk pipih yang ada di hadapannya sekarang dengan wajah tidak acuh akan tatapan semua orang kepadanya.


Sebagian orang mengeser kursi kerjanya hingga berada di samping Anesya dan sebagian yang lain mulai beranjak berdiri dari kursi nyaman yang sejak tadi mereka duduki, para wanita itu kini sudah mengerumuni Anesya.


Anesya mendesahkan nafasnya di udara karena sudah bisa menebak jika semua hal ini akan terjadi padanya. “Aku di panggil ke dalam ruangan Tuan, karena sempat menabraknya ketika menuju ke perusahaan ini dan dia akan memotong gajiku karena kesalahan itu.” Anesya sukses menceritakan semua dusta itu pada sema rekan kerjanya, Anesya bahkan sampai menggenggam erat bolpoin di tangannya guna untuk meluapkan rasa gugup pada hatinya saat ini.


“Aku pikir Tuan Gerald menyukai kamu, karena beberapa waktu yang lalu kami tahu jika asisten Van menjemput kamu di depan perusahaan ini,” ucap salah satu wanita mencoba untuk membuat Anesya buka suara.


“Sepertinya Asisten Van sudah memohon pada Tuan Gerald untuk mengurangi hukuman kamu, karena menurut pengamatanku Tuan Gerald pasti akan memecat kamu jika sampai membuat masalah, tapi ini hanya di potong gaji,” jawab salah satu wanita lain.


“Anesya kamu keren sekali karena memiliki hubungan dengan Asisten Van,” kata salah satu wanita dengan menyenggol bahu Anesya.


"Ka-kalian semua salah, aku tak memiliki hubungan apapun dengan Asisten Van," ujar Anesya mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman itu.


“Anesya kamu beruntung sekali, karena memiliki kekasih sehebat Asisten Van,” ujar salah satu wanita memuji kehebatan Anesya dalam mengaet Asisten dari orang yang paling berpengaruh di negara ini.


“Sudah-sudah, hentikan semua percakapan ini sebelum kita semua terkena masalah, sebaiknya sekarang kita langsung saja bekerja,” ujar wanita paruh baya dengan rambut yang digerai sebahunya.


“Ayo ... ayo kita kembali pada tempat kerja masing-masing,” ujar wanita lain.

__ADS_1


Anesya hendak buka suara dan menjelaskan semuanya pada rekan-rekan kerjanya pun segera mengurungkan niat awalnya itu. Anesya hanya bisa menyandarkan punggungnya lelah di kursi kerjanya ketika ia tak berhasil menepis semua pemikiran rekan-rekan kerjanya itu.


“Semoga saja Tuan Gerald tak sampai mendengarkan masalah ini,” ujar Anesya di dalam hati. Wanita itu merasa cemas tanpa alasan yang jelas, mana mungkin Tuan Gerald akan marah ketika mendengarkan kabar ini sedangkan lelaki itu hanya menginginkan tubuhnya saja dan tak lebih dari itu.


***


Tuan Gerald melihat ke arah layar yang ada di depannya dengan mengerutkan kening, kemudian lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah Asisten Van yang kini sudah berdiri di depannya. “Kenapa dia tak beranjak dari posisi duduknya sedangkan ini sudah tiba waktunya untuk jam istirahat para karyawan?” tanya Tuan Gerald pada Asisten Van secara panjang lebar. Lelaki itu sedikit banyak bicara jika sudah menyangkut tentang Anesya-wanita kesayangannya.


“Sepertinya Nona Anesya tak memiliki cukup uang untuk membeli makanan,” jawab Asisten Van.


Tuan Gerald melihat ke arah Asisten Van dengan kedua mata yang sudah membola penuh, seakan Tuan gerald sudah siap menelan tubuh Asisten Van dalam tatapan gelapnya.


“Apakah kau tak pernah memberikan uang untuknya?” tanya Tuan Gerald dengan suara yang terdengar mengintimidasi.


“Astaga! Asisten Van, jangan bilang jika sejak awal kau tak pernah memberikan sepeserpun uang untuknya!” geram Tuan Gerald pada Asistennya dengan air muka yang sudah nampak frustasi sekali.


“Maaf,” ujar Asisten Van tanpa berani mengangkat pandangannya sedikitpun.


Jatuh sudah harga diri Tuan Gerald sekarang, bagaimana mungkin ia bisa membiarkan wanitanya tak mendapatkan sepeserpun uang. Ini untuk kali pertama ada seorang wanita yang tak menginginkan apapun ketika menjalin hubungan dengannya, tapi yang Anesya inginkan hanyalah perpisahan! Tidak, Tuan Gerald tak akan pernah mengabulkan keinginan Anesya, wanita itu tak bisa pergi kemanapun ketika ia masih menginginkannya.


“Van. Sudah berapa lama aku menjalin hubungan dengan wanita itu?” tanya Tuan Gerald.


“Sudah sekitar 3 bulan, Tuan,” jawab Asisten Van lugas.

__ADS_1


“Berikan cek kosong para wanita itu, dan suruh dia tulis berapapun yang ia inginkan!” perintah Tuan Gerald.


“Baik Tuan,” jawab Asisten Van. Lelaki itu membungkukkan sedikit tubuhnya lalu berjalan keluar dari ruangan ini.


“Ini untuk kali pertama aku menjalani hubungan lebih dari satu bulan, biasanya aku akan merasa bosan dan selalu mencari wanita lain, tapi kali ini aku bahkan tidak ingat jika hubunganku dengan Anesya sudah berjalan tiga bulan,” gumam Tuan Gerald sembari menyandarkan punggungnya di kursi kerja dengan tangan mengusap bakal janggutnya. Tatapan Tuan Gerald lurus ke depan, fokus melihat ke arah layar yang sedang menampilkan rekaman cctv di ruangan kerja Anesya berada.


Ruangan Kerja Anesya.


“Astaga! Aku lapar sekali,” gumam Anesya dengan kedua tangan yang mengusap perutnya sendiri. Anesya menundukkan kepala, menolah ke arah kursi sampingnya. Ia tiba-tiba teringat pada Lia, bagaimana kabar sahabatnya itu sekarang? Apakah Lia sudah baik-baik saja atau justru semakin membencinya? Anesya tak bisa mendapatkan jawaban itu, tapi di dalam hati ia berdoa supaya Lia hidup dengan bahagia. Meskipun itu sangat mustahil.


Suara ketukan pintu di dalam ruangan ini membuat perhatian Anesya teralihkan, wanita itu menatap ke arah Asisten Van yang datang menemuinya. Anesya mengedarkan pandangannya ke sekitar dan ia menghela nafas lega ketika tahu jika dirinya berada di dalam ruangan ini sendirian saja.


“Adaa apa kau ke sini lagi Asisten Van?” tanya Anesya sembari menekankan suaranya agar percakapan mereka tidak di dengar oleh yang lain.


“Tuan Gerald meminta saya untuk memberikan ini pada Anda.” Asisten Van memberikan selembar cek di hadapan Anesya. “Anda bisa mengisi nominal berapapun yang Anda inginkan,” sambung Asisten Van lagi.


Anesya memutar kedua bola matanya malas ketika melihat selembar cek kosong yang sudah tergores tanda tangan Tuan Gerald di sana. “Berikan saja saya uang cash, saya lebih membutuhkannya," jawab Anesya. Wanita itu tak mau mengambil cek yang disodorkan oleh Asisten Van.


“Untuk apa uang itu Nona?” tanya Asisten Van. Asisten handal itu tiba-tiba menjadi tidak peka ketika berurusan dengan Anesya.


“Aku akan menjadi bahan perbincangan jika membayar sepiring nasi dan juga minuman di kantin mengunakan cek ini,” jelas Anesya sembari memutar kedua bola matanya jengah.


Asisten Van menganggukkan kepala mengerti kearah mana perbincangan Nona Anesya. Ia memasukkan kembali cek itu kedalam saku celana kemudian mengeluarkan segepok uang cash dari dompetnya. Anesya menerima uang itu dengan buru-buru ketika melihat dua rekan kerjanya masuk ke dalam ruangan ini. Semoga saja mereka tak melihat apapun.

__ADS_1


__ADS_2