
Anesya meminta pada Asisten Van untuk segera pergi melalui sorot matanya, Asisten Van segera membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian berjalan keluar dari ruangan ini dengan wajah datar, lelaki itu bahkan tak melihat ke arah kedua wanita cantik yang kini sedang berdiri di dekat pintu sembari membungkukkan tubuhnya.
Anesya tersenyum pada kedua rekan kerjanya kemudian Anesya mengajak langkah kakinya keluar dari ruangan ini, tapi belum sampai kakinya menginjak ambang pintu kedua wanita itu segera menghentikan langkahnya.
“Anesya, kamu sudah ketahuan jika sedang menjalin hubungan dengan Asisten Van, tapi kamu masih juga nggak mau mengakui itu,” kata salah satu wanita sembari menyenggol lengan Anesya tanpa menyakitinya.
“Anesya ceritakan bagaimana cara kamu bisa mendapatkan hati Asisten Van? Sedangkan kita semua tahu jika lelaki itu begitu kejam dan dia juga lebih menakutkan dari Tuan gerald sendiri,” kata teman Anesya yang lain sembari berdiri di hadapan Anesya siap untuk mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari bibir Anesya sekarang juga.
“Kalian semua salah paham, itu sema tidak seperti apa yang kalian katakan,” ujar Anesya pada kedua temannya.
“Jika bukan menjalin suatu hubungan, kenapa Asisten Van datang kemari dan memberikan kamu begitu banyak uang?” tanya teman Anesya dengan tatapan penuh tanya.
Anesya melihat ke arah pergelangan tangannya, di sana melingkar jam cantik dari pengeluaran ternama. Kedua teman Anesya melihat ke arah merek jam itu dan mereka berdua langsung membulatkan mulutnya hampir tak percaya jika Anesya mengenakan jam yang setara dengan 3 tahun gaji mereka di perusahaan ini. Kedua wanita itu langsung heboh dan semakin penasaran dengan sejauh apa hubungan Anesya dengan Asisten Van. Anesya hanya bisa mendesahkan nafasnya di udara ketika melihat tingkah kedua rekan kerjanya itu, padahal niat awal Anesya ingin melihat jarum jam karena ia takut tidak keburu untuk makan siang di kantin sedangkan perutnya begitu lapar sekali.
Kedua rekan kerjanya itu terus saja menanyakan hal yang membuat kepala Anesya semakin bertambah pusing saja, Anesya akhirnya memilih untuk berpamitan pada keduanya tanpa perduli jika kedua wanita itu merasa kecewa karena Anesya tak mau buka suara mengenai kedekatannya dengan Asisten Van.
“Astaga, aku begitu iri sekali melihat Anesya bisa mendapatkan Asisten Van,” ujar salah satu wanita sembari masih melihat ke arah punggung Anesya yang semakin menjauhi ruangan ini.
“Nanti kita akan tanya mengenai kebiasaan Tuan gerald, aku dengan jika Tuan Gerald memiliki begitu banyak wanita dan aku ingin menjadi salah satu darinya,” ujar wanita cantik itu sembari menyelipkan beberapa sulur anak rambutnya kebelakang telinga.
“Aku dengar malah Tuan Gerald susah sekali di dekati,” ujar wanita lain dengan duduk di meja kerjanya.
__ADS_1
Ruangan Tuan Gerald.
Asisten Van masuk ke dalam ruangan Tuan gerald setelah mendapatkan jawaban dari dalam ruangan itu. Asisten Van membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian mengangkat pandangan melihat ke arah Tuan Gerald yang juga menatapnya.
“Nona Anesya tidak mau menerima uang itu, Tuan. Nona meminta uang cash,” ujar Asisten Van.
“Semua wanita akan lebih suka diberi selembar cek kosong, tapi wanita itu malah meminta uang cash yang jumlahnya tak seberapa,” ujar Tuan Gerald sembari mengusap bakal janggutnya sendiri.
“Nona memang berbeda dengan yang lain,” jawab Asisten Van.
“Asisten Van, aku melarang kamu memujinya.” Sembur Tuan Gerald mulai merasa cemburu.
“Ma-maafkan saya Tuan,” jawab Asisten Van.
“Dia benar-benar cantik, baru kali ini aku tidak merasa bosan pada seorang wanita, setiap menit yang aku habiskan dengannya terasa begitu berharga,” ujar Tuan Gerald di dalam hati.
“Dia wanita yang sangat baik,” kata Tuan Gerald. Detik berikutnya lelaki itu mulai menatap ke arah Asisten Van dengan berkata. “Kenapa kau hanya diam saja.” Sembur Tuan gerald. Lelaki itu seakan lupa jika tadi sempat melarang Asisten Van untuk memuji wanitanya.
“Iya Tuan,” jawab Asisten Van. Beginilah nasib seorang bawahan, benar atau salah tetap di anggap salah oleh majikannya dan Asisten Van tak berani membantah. Disalahkan juga pasrah saja dari pada urusan itu semakin bertambah lebar kemana-mana. Kira-kira seperti itulah yang sekarang sedang dipikirkan oleh Asisten Van.
***
__ADS_1
Anesya berdiri di depan halaman perusahaan, ia melihat seorang lelaki dengan tuxedo serba hitam melangkah menghampirinya, lelaki itu membungkukkan tubuh di hadapan Anesya.
“Nona, saya datang untuk menjemput Anda,” ujar lelaki bertubuh kekar itu dengan kepala yang tertunduk hormat.
Anesya mengedarkan pandangan ke sekitarnya, ia melihat semua orang yang ada halaman perusahaan sedang mengamatinya terutama rekan kerja yang satu ruangan dengannya. Anesya merasa tak nyaman jika terus menjadi pusat perhatian seperti ini, Anesya hendak buka suara untuk menolak ucapan lelaki kekar yang ia yakini adalah orang kepercayaan Tuan Gerald itu, tapi belum sempat Anesya buka suara ponselnya bergetar tiba-tiba dan pesan singkat dari Tuan Gerald mulai terbaca netranya.
“Jika kamu tidak lekas masuk ke dalam mobil, maka aku sendiri yang akan mengendong kau masuk ke dalam mobil pribadiku!” pesan ancaman dari Tuan Gerald mampu membuat jantung Anesya berdetak dengan begitu kencang sekali. Ia tahu jika Tuan Gerald tak akan pernah main-main dengan ucapannya.
“Ak-aku harus masuk ke mobil yang mana?” tanya Anesya gugup.
Pengawal dengan tubuh tegap itu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan satu tangan terarah sopan ke mobil berwarna hitam mewah yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka berdua.
“Silahkan Nona menuju ke mobil yang ada di sana,” ujar lelaki itu masih dengan posisi yang sama.
“Baik.” Tampa melihat ke arah sekitarnya Anesya langsung menuju ke mobil itu.
Wanita itu begitu terkejut sekali ketika tangan pengawal itu mulai terulur untuk membukakan pintu untuknya, pengawal itu bahkan membungkukkan sedikit tubuhnya memperlakukan Anesya mirip seperti putri raja.
“Astaga! Lain kali kau tak perlu melakukan hal semacam ini, aku bisa menggunakan tanganku sendiri untuk membuka pintu,” gerutu Anesya yang merasa keberatan dengan sikap hormat pengawal itu padanya. Ia hanyalah orang biasa yang kebetulan menjadi wanita lelaki kaya, tidak lebih dari itu
“Tuan Gerald akan menghukum saya, jika sampai saya membiarkan Nona melakukannya sendiri.” Anesya langsung membisu tak bisa buka suara lagi ketika nama Tuan Gerald sudah disebut seperti ini.
__ADS_1
“Terserah,” jawab Anesya kesal kemudian mendudukkan tubuhnya di dalam mobil, pengawal itu segera menutup pintu dan duduk di kursi kemudi. Mobil melaju meninggalkan halaman perusahaan ini.