Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Perubahan sikap Anesya


__ADS_3

Sejak masuk ke dalam mobil Anesya terus saja melihat keluar jendela, beberapa kali terlihat wanita itu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan dari mulut mencoba untuk mengeluarkan semua kesedihan yang ada di dalam hatinya bersama dengan nafas itu.


Tuan Gerald memperhatikan wanita itu sejak dari tadi, di dalam hatinya terselip rasa kasihan akan apa yang telah wanita itu alami sebelum bertemu dengannya, masih teringat jelas di dalam benak Tuan Gerald ketika wanita itu memintanya untuk menjadi pacar. wajah Anesya saat itu terlihat sedang memendam beban yang begitu berat hingga membuatnya luluh dan mengiyakan permintaan wanita itu untuk menjadi pacarnya, tidak disangka ternyata rasa kasihan itu perlahan tapi pasti mulai menjelma menjadi cinta.


"Berhentilah menangis karena aku tidak ingin kau mengotori mobilku dengan tetesan air matamu," kata Tuan Gerald. Niat hati lelaki itu ingin meredakan kesedihan yang ada di hati wanitanya, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


Anesya menatap ke arah Tuan Gerald. Cairan bening mulai melebur di kedua pipinya. "Air mataku tak akan sebayak itu hingga mampu membasahi mobil mewah ini," kata Anesya dengan tangis sesenggukan.


Van yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya melirik ke arah belakang melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya. "Tuan Gerald benar-benar tidak pandai merayu seorang wanita, dia bukannya berusaha untuk menghentikan kesedihan Nona Anesya, justru malah memperdalam kesedihan itu mirip seperti pisau yang semakin menancap ke dalam ulu hati," batin Van


Tuan Gerald merasa kaget sekali ketika melihat wanitanya justru menangis dengan sesenggukan. "Sudah jangan menangis lagi, aku tidak peduli dengan mobil ini yang terpenting bagiku kau jangan bersedih," ujar Tuan Gerald dengan menikmati yang terlihat teduh dan tidak tajam seperti biasanya.


Anesya mengarahkan pandangannya pada Tuan Gerald, kedua manik indah itu melihat ke arah kedua bola mata Tuan Gerald yang kini masih menatapnya, Entah mengapa Anesya merasa jauh lebih tenang sekarang.


"Maaf, jika aku telah merepotkan Anda," ujar Anesya. "sebaiknya hubungan kita berakhir di sini saja," tutur Anesya. Ia tidak mau terikat dengan Tuan Gerald lebih jauh lagi.


"Sekali lagi aku mendengarmu berbicara seperti itu maka akan aku pastikan jika lidahmu itu akan terpotong menjadi kepingan lalu akan aku berikan pada anjing kesayanganku!" kata Tuan Gerald. Tuan Gerald tak pernah menyukai jika ada orang yang melawan keinginannya atau mencoba untuk menjauh darinya.

__ADS_1


Anesya terdiam dengan sekujur tubuh yang sudah diselimuti oleh keringat dingin. Anesya menundukkan pandangannya tanpa berani membuka suara, bahkan untuk menatap keluar jendela pun ia tak berani. semua keberaniannya seakan pergi bersama dengan ancaman lelaki di sampingnya.


"Jadilah wanita yang baik," pinta Tuan Gerald.


"Apakah setelah anda bosan maka baru bisa melepaskanku?"


"Setelah aku bosan makan aku pastikan diriku melepaskanmu, maka tunggulah sampai waktu itu tiba."


***


Elsa mondar-mandir sejak dari tadi di depan berusahaan tempat Anesya bekerja, wanita itu menatap ke setiap pegawai yang melewatinya tetapi orang yang ia cari masih juga belum menunjukkan batang hidungnya.


"Bukan merupakan kesalahanku jika kau menunggu di depan perusahaan karena dirimu tidak membuat janji denganku," jawab Anesya yang ternyata sudah dari tadi ada di belakang Elsa dan wanita itu mendengarkan semua gerutuan Kakak dirinya tersebut.


Elsa segera membalikkan tubuhnya hingga membuat posisi mereka saling berhadapan satu sama lain. Elsa mengulas senyuman manis ketika tahu jika orang yang ia tunggu kini ada di hadapannya sedang menatapnya dengan penuh kebencian.


"Kenapa kau berada di sini? bukankah seharusnya kau masih berada di atas ranjang dan melakukan malam pertama," ucapan Anesya terhenti sesaat. "maksudku bukan malam pertama tetapi entah malam yang kesekian kalinya," kata Anesya meledek Elsa.

__ADS_1


Elsa bukannya marah mendengar apa yang adik dirinya itu katakan justru wanita tidak tahu malu itu mengulas senyuman manis seakan apa yang Anesya katakan tadi merupakan hal yang sudah biasa baginya.


"Tidak ada malam pertama karena aku membatalkan pernikahan itu," kata Elsa dengan membelah senyuman liciknya di hadapan sang adik tiri.


"Apakah karena kau melihat aku datang bersama dengan Tuan Gerald?" tanya Anesya dan tebakannya itu benar ketika Elsa menganggukkan kepalanya.


"Bukankah kau begitu mencintai Zico? Sekarang aku kembalikan dia padamu dan tinggalkan Tuan Gerald, aku menyukainya, dia lebih pantas bersanding denganku daripada denganmu." dengan tidak tahu malu Elsa mengungkapkan semua itu secara gamblang, yang ada di dalam otaknya hanyalah uang yang bergelimang dan juga lelaki tampan itu ialah bonus.


"Jika dahulu aku akan memberikan apapun yang kau inginkan dan aku akan mengalah, semua itu aku lakukan bukan karena aku begitu menyayangimu Elsa! Aku mengalah padamu karena aku teringat akan permintaan mendiang Papa yang menyuruhku untuk menjagamu dan menganggapmu seperti kakak kandungku sendiri. Tapi aku tidak bisa melakukan semua itu lagi! Sudah cukup aku berbuat baik padamu dan sudah cukup semua kekejaman yang kau berikan padaku." Untuk kali pertama Anesya berbicara dengan begitu tegas dan juga lugas.


Nada suara Anesya memang terdengar bergetar di ujung lidahnya, tetapi sorot matanya nampak berapi-api seakan menunjukkan tekad yang begitu kuat terpancar di kedua manik mata itu.


Darah Elsa seakan mendidih dibalik kulitnya ketika mendengarkan apa yang adik tirinya itu ucapkan. Berani sekali Anesya menolak permintaannya dan juga bersikap seperti ini di hadapannya. Elsa yang begitu marah dan juga tidak terima mendengar ucapan adik tirinya pun langsung mendorong tubuh Anesya hingga membuat wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang tetapi beruntungnya Anesya dengan sikap bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga ia tak jadi terjatuh.


Anesya melangkah cepat mendekati Elsa kemudian mengangkat tangannya di udara dan sepersekian detik tamparan terdengar menggema di halaman perusahaan. Elsa dengan paksa membuang wajahnya ke arah samping karena begitu keras tamparan adik tirinya itu. tangan Elsa terangkat memegangi pipinya yang terasa memanas akibat tamparan Anesya barusan.


"Berani sekali kau melakukan ini padaku! kau mau mati!" ancam Elsa dengan kedua mata yang sudah membola penuh.

__ADS_1


"Jika dahulu aku akan ketakutan dengan ancamanmu, tetapi tidak sekarang! Elsa. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau pengaruhi ataupun kau takut-takuti dengan kematian, bahkan aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri tanpa bantuan siapapun." Anesya menatap Elsa dengan kedua mata yang sudah terbakar api emosi. "Jika kau berani mengancamku lagi ataupun mencoba untuk melukaiku maka aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan tanganmu." Setelah bicara Anesya langsung melenggang pergi masuk ke dalam perusahaan begitu saja meninggalkan Elsa yang terus mengumpatnya tiada henti.


__ADS_2