
Anesya tak kunjung keluar dari pintu perusahaan hingga beberapa saat kemudian ponselnya pun mulai berbunyi, Anesya mengarahkan tangannya untuk merogoh tas jinjingnya kemudian mengambil benda berbentuk pipih dari dalam sana.
"Siapa?" tanya Lia pada sahabatnya itu.
"Tuan Gerard menghubungiku," jawab Anesya.
"Kalau begitu angkatlah sebelum lelaki itu menghancurkan perusahaan tempat kita bekerja," pinta ya kepada sahabatnya.
Anesya segera menganggukkan kepalanya selalu mengarahkan jarinya menggeser kursor berwarna hijau, ia menempelkan benda berbentuk pipih itu ke daun telinganya siap untuk mendengarkan apa yang Tuan besar katakan.
"Jika sampai kau tidak keluar dari perusahaan Itu kurang dari 3 menit maka akan aku pastikan jika perusahaan tempatmu bekerja hancur!" ancam Tuan Gerald. Tanpa menunggu sahutan dari Anesya lelaki itu mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
Anesya melihat ke arah Lia dengan wajah yang memucat.
"Kau tunggu apa lagi? Cepatlah keluar sebelum Tuan Gerard melakukan ancamannya karena setahuku lelaki itu tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya," kata Lia sembari mendorong tubuh sahabatnya supaya lekas keluar dari pintu utama perusahaan ini.
Anesya sudah melangkah keluar dari pintu utama dan terlihatlah semua orang memperhatikannya. Dengan kepala yang tertunduk Anesya melangkah cepat menuju mobil mewah yang sudah menonton di halaman perusahaan, buru-buru masuk ke dalam mobil itu dan menutupnya.
"Kau mau menghindariku, Sayang," tanya Tuan Gerald dengan tangan yang mengusap perlahan pipi wanitanya.
Tubuh Anesya seketika langsung menegang setelah ia mendengarkan ucapan Tuan Gerald barusan. "Bu-bukan seperti itu maksud saya, Tuan. Saya hanya tidak suka saja jika sampai begitu banyak orang yang memperhatikan saya, mobil Tuan Gerald ini terlalu mencolok dan pasti akan menjadi pusat perhatian di manapun mobil ini terparkir," ujar Anesya. Wanita itu berbicara dengan sangat hati-hati karena takut menyakiti hati lelaki yang ada di sampingnya sekarang.
"Perlukah kku menjemputmu menggunakan mobil jelek?" tanya Tuan Gerald sembari menarik pinggang wanitanya agar lebih dekat dengannya.
"Tuan Gerard saya tidak mengizinkan anda untuk menggunakan mobil biasa yang tidak memiliki sistem keamanan yang memadai." Asisten Van langsung menyambar ucapan Tuan Gerald karena ia merasa khawatir jika sampai sang majikan menggunakan mobil biasa.
__ADS_1
Anesya menatap ke arah Asisten Van sembari mengerutkan keningnya kemudian berkata, "Memangnya apa perbedaan mobil ini dan juga mobil biasa? Bukankah hanya berbeda di harganya saja!" tanya Anesya.
Asisten Van melirik ke arah belakang melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya lalu detik berikutnya Asisten Van kembali memfokuskan pandangannya lurus ke depan.
"mobil ini di lancang khusus, mobil ini diklaim bisa menahan peluru panas dan juga granat tangan," jawab Asisten Van menjelaskan secara singkat dan juga jelas.
"Van, jangan pernah ulangi kesalahanmu ini! Aku tidak pernah suka jika ada orang yang menyela perbincanganku," bentak Tuan Gerald.
Asisten Van langsung terdiam dengan keringat jagung yang kini sudah membasahi keningnya. "Ma-maafkan saya, Tuan," kata Asisten Van.
Anesya merasa kasihan melihat lelaki yang sedang sibuk mengemudikan mobil ini, kemarahan Tuan Gerald adalah karena kesalahannya dan karena dia bertanya kepada Asisten Van lelaki itu pun mendapatkan semburan dari Tuan Gerald. Anesya harus membantu lelaki malang itu.
"Tuan Gerald, jangan salahkan Asisten Van karena dia ingin menjaga anda dan saya juga tidak ingin jika sampai Anda mendapatkan masalah," ujar Anesya dengan tangan yang mengusap perlahan lengan kekar Tuan Gerald. "Saya tidak akan mengeluh lagi ketika anda menjemput saya menggunakan mobil mewah ini," ujar Anesya dan kali ini ia tersenyum manis ke arah Tuan Gerald.
Tuan Gerald baru kali pertama melihat senyuman wanitanya yang terlihat begitu tulus dan juga ingin merayunya, jikalau wanita lain mendekatinya dan coba merayunya pastilah mereka hanya menginginkan barang branded dan juga hal-hal yang berhubungan dengan diri mereka sendiri, tapi berbeda dengan Anesya. Wanita ini merayunya supaya tidak memarahi Asisten Van.
"Astaga! Nona Anesya Anda ini sedang mencoba untuk membantu atau menjerumuskan saya," batin Asisten Van dengan tangan mengambil selembar tissue kemudian mengusap perlahan keningnya yang sudah dibasahi oleh keringat dingin.
"Tu-tuan Gerald, jangan seperti itu," bujuk Anesya sembari bergelayutan manja di bahu Tuan Gerald.
"Kau ingin aku menarik kata-kataku?" tanya Tuan Gerald dan Anesya segera menganggukkan kepalanya. "kalau begitu lakukan sesuatu untukku supaya aku merasa bahagia dan melupakan ucapan yang telah aku katakan sebelumnya." Kali ini Tuan Gerald berbicara dengan ambigu membuat kepolosan Anesya kembali kambuh.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Anesya polos.
Anesya lihat ke arah tangan Tuan Gerald yang memegang pahanya sendiri kemudian anesha pun menarik salah satu alisnya kemudian hendak memundurkan tubuhnya tetapi Tuan Geralt langsung menatapnya tajam.
__ADS_1
"Lelaki gila ini benar-benar pandai sekali mencari kesempatan untuk mendekatiku, dia mencoba untuk meminta aku duduk di pangkuannya melalui gerakan tangan sialan itu," batin Anesya di dalam hatinya.
Anesya menatap ke arah Asisten Van, melihat lelaki itu berwajah pucat dengan keringat yang terus saja bercucuran di keningnya membuat Anesya tidak tega hingga tanpa berpikir panjang ia pun langsung mendudukkan bukunya di pangkuan Tuan Gerald.
"Sayang, kau mencoba untuk merayuku," kata Tuan Gerald dengan mengulas senyuman tipis.
"Aku mana mungkin melakukannya," bantah Anesya.
"Jika hanya begini saja maka Asisten Van akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih besar misalnya kepala lelaki itu akan berpindah ke kakinya dan begitu dengan sebaliknya," kata tuan Gerard mencoba mengancam wanitanya.
"Astaga! Aku baru mengetahui ini sekarang, lelaki ini selain kejam dan juga begitu menakutkan ternyata dia juga seorang psikopat," batin Anesya. sekujur tubuhnya langsung dirambati dengan keringat dingin setelah mendengarkan ucapan Tuan Gerald yang menurutnya serius.
"Saya akan melakukan apapun tetapi jangan lukai Asisten Van," pinta Anesya.
Tuan Gerald mulai mengarahkan jemari tangannya untuk menyentuh bibirnya sendiri, Anesya memutar kedua bola matanya jengah jikalau ia tidak mengingat jika lelaki yang ada di hadapannya adalah orang terpandang di negara ini sudah bisa dipastikan jemari lentiknya akan membekas di pipi lelaki ini.
Anesya menutup kedua matanya selalu menyatukan bibir mereka berdua, jantungnya berdetak dengan tidak stabil dan ketika ia hendak menyudahi kecupan itu tidak disangka Tuhan Gerald justru menariknya lebih erat hingga pangutan itu pun berubah menjadi sebuah tuntutan.
"Asisten Van," kata Tuan Gerald.
"Ya, Tuan," jawab Asisten Van.
"Hentikan mobilnya sekarang dan keluarlah dari dalam mobil!" perintah Tuan Gerald.
"Ke-kenapa mobilnya harus dihentikan?" tanya Anesya.
__ADS_1
"Aku ingin bermain denganmu atau kau menginginkan Asisten Van berada di sini supaya ia bisa menjadi saksi apa yang akan kita lakukan di mobil ini berdua?" pertanyaan penuh ancaman itu Tuan Gerald katakan dan Anesya buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Sial! Aku terjebak."