Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Kepolosan yang Menggemaskan


__ADS_3

Demi apapun, Lia ingin sekali memukul kepala sahabatnya ini, bagaimana mungkin Anesya tidak tahu jika lelaki paling berpengaruh dan juga terkenal kejam di negara ini adalah Tuan Gerald Wooldir. Sahabatnya itu tidak berasal dari jaman lampau, jadi kenapa ia begitu ketinggalan jaman sekali.


“Lia? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Anesya pada sahabatnya.


“Anesya, demi Tuhan, aku sungguh ingin mencekikmu hingga mati sangking kesalnya,” ujar Lia dengan kedua tangan yang sudah terangkat, tapi Anesya langsung menepis tangannya dengan gerakan pelan. “Dia adalah Tuan Gerald Wooldir-orang yang paling berpengaruh dan juga kejam di negara ini, bagaimana kau bisa bertemu dan juga mengenalnya?” tanya Lia. Lia sampai menggeser posisi duduknya karena ingin mendengarkan apa yang Anesya katakan dengan begitu jelas.


“Dialah lelaki asing yang aku ceritakan waktu itu,”  jawab Anesya jujur.


Lia terdiam sesaat mencoba berpikir, kemudian kedua matanya melebar bersamaan dengan mulutnya, lalu berkata, “Jangan katakan jika lelaki itu adalah lelaki yang kau ajak pacaran dan lelaki asing yang tak meninggalkan nomornya padamu ketika pulang dari club malam?” tanya Lia. Anesya menganggukkan kepalanya setuju.


“Waktu itu aku melihatnya begitu tampan, dia jauh lebih tampan dari Zico meskipun sorot matanya itu nampak mengintimidasi aku. Tapi aku menyesal karena memilihnya jika aku tahu kau memiliki Diki untuk aku jadikan pacar bohongan,” gerutu Anesya menyesal karena bertemu dengan Tuan Gerald. “Aku tak pernah menyangka jika lelaki itu ternyata begitu kaya sekali, pantas saja jika semua orang langsung tunduk pada perintahnya,” batin Anesya.


Lia memukul kepala Anesya karena ingin menyadarkan sahabat bodohnya ini. “Kenapa kau bisa menyesal memilihnya? Sedangkan semua wanita yang ada di negara ini bahkan rela mati hanya untuk bisa duduk di samping Tuan Gerald. Anesya sadarlah, kau sedang ketiban rejeki,” ujar Lia dengan sangat antusias sekali pada sahabatnya itu.


“Rejeki? Yang Ada aku seperti ketiban musibah bertemu dengannya, dan lelaki gila itu juga mengatakan jika aku tak bisa lepas darinya kecuali dia yang melepaskan aku, kau pikir aku menyukai lelaki menjengkelkan yang suka memerintah sepertinya, aku bahkan ingin mengirimnya ke dunia lain andaikan bisa,” kata Anesya memuntahkan semua ucapan yang terpikir di benaknya.


Anesya mengerutkan keningnya ketika ia melihat wajah Lia nampak memucat sekarang, Anesya tak mengerti kenapa tiba-tiba sahabatnya diam seperti orang bisu begini, padahal sebelumnya Lia begitu cerewet sekali, Anesya juga melihat jika kening Lia dialiri oleh keringat dingin. Anesya melihat Lia yang melirik ke arah belakangnya seperti suatu isyarat jika dirinya harus menolah ke arah belakang.


“Shith! Kenapa aku bisa merinding seperti ini sih,” batin Anesya sembari mengusap tengkuknya sendiri.


Anesya mulai memutar tubuhnya perlahan, Anesya melihat sepasang sepatu pantofel mahal kini sudah ada di hadapannya, maniknya terus menatap sampai ke atas dan ia langsung mundur beberapa langkah ke belakang dan sialnya kakinya menginjak sesuatu hingga membuat Anesya oleng dan hampir saja jatuh jika Tuan Gerald tidak menarik tangannya dan membawanya kedalam dekapan lelaki itu.

__ADS_1


Anesya melihat ke arah sepasang mata elang itu yang seakan ingin mencabik-cabik tubuh kurusnya hingga menjadi serpihan kecil, Anesya melihat rahang tegas yang ditumbuhi oleh bakal janggut sungguh nampak mempesona mata.


“Sayang berani sekali kau mengatakan hal buruk tentangku seperti itu,” kata Tuan Gerald pada Anesya sembari mengarahkan tangannya untuk membelai pipi mulus sang wanita. “Sepertinya kau perlu di hukum,” kata Tuan Gerald dengan seringai sinis yang mirip seperti seekor serigala lapar yang akan mencabik mangsanya.


“Tu-tuan maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud seperti itu,” kilah Anesya yang masih tak mau mengaku padahal sudah kepergok mengatakan umpatan pada sang lelaki arogan.


“Sayang, telingaku tidak tuli,” jawab Tuan Gerald.


Lia masih tak bisa menutup mulutnya ketika ia melihat lelaki yang selama ini selalu ia tonton di televisi ternyata datang ke tempatnya. Lia benar-benar tak menduga hingga ia tak mau mengedipkan matanya seakan tak rela jika sampai pemandangan mengesankan ini lenyap begitu saja. Tatapan Lia dan juga Tuan Gerald bertemu, Lia mengulas senyuman manis, tapi Tuan Gerald langsung menajamkan pandangannya hingga membuat Lia menundukkan kepala dengan kedua tangan menggenggam piyama tidur yang sedang ia kenakan sekarang.


“Ikut aku!” titah Tuan Gerald pada Anesya.


“Aku tidak sedang meminta ijin! Aku sedang memberikan perintah!” bentak Tuan Gerald. Tatapan dingin lelaki itu seakan bisa membekukan semua benda yang ada di dalam ruangan ini.


“Tapi,” kata Anesya masih mencoba bernegosiasi.


“Mulai sekarang kau akan tinggal bersama denganku!” titah Tuan Gerald. Ia melirik tajam ke arah Lia yang kini menatapnya, wanita itu kembali menundukkan kepala saat tahu diperhatikan olehnya. “Hem ... gelagat yang mencurigakan sekali,” batin Tuan Gerald sembari mengusap dagunya sendiri. “Jika kau berani menolak ataupun melawan, maka sahabatmu itu yang akan menanggung akibatnya!” ancam Tuan Gerald di dekat telinga Anesya.


Anesya diam membeku di posisinya ia tak bisa melawan, Anesya terlalu menyayangi Lia, ia tak ingin Lia yang baik hati mendapatkan masalah karena dirinya. “Kita pergi sekarang,” kata Anesya.


Anesya melangkah lebih dahulu keluar dari pintu rumah ini, tiba-tiba satu tangan melingkari pinggangnya membuat Anesya terjingkat kaget, ia melihat ke arah pemilik tangan itu.

__ADS_1


“Kenapa, kau mau memintaku untuk melepasnya?” tanya Tuan Gerald. Pertanyaan itu mengandung makna ancaman yang bisa Anesya pahami dengan sangat mudah sekali.


“Tidak,” jawab Anesya singkat.


Lia beranjak berdiri dari posisi duduknya ketika semua orang sudah masuk ke dalam mobil. Ia melihat Anesya yang membuka jendela mobil lalu melambaikan tangan padanya, Lia membalas lambaian tangan itu.


“Kamu sangat beruntung sekali Anesya,” ujar Lia. Ia menutup pintu rumahnya, mendudukkan tubuh di sofa. Bayangan wajah tampan Tuan Gerald masih saja memenuhi manik matanya membuat Lia begitu mendambakan gestur tubuh yang mampu membangkitkan semua indranya.


Di sisi lain.


“Tuan kita mau kemana?” tanya Anesya pada Tuan Gerald.


“Ke rumah kita,” jawab Tuan Gerald tanpa melihat ke arah Anesya.


“Rumah kita? Sejak kapan aku dan kau menjadi kita?” tanya Anesya lagi.


“Sejak kita resmi bersama,” jawab Tuan Gerald.


Anesya menganggukkan kepalanya dengan polos, Tuan Gerald yang sekarang sedang memperhatikannya mengigit bibir merasa gemas. Lelaki itu menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya kemudian langsung meraih tengkuk Anesya hingga kedua bibir mereka saling bertautan.


Asisten Van yang tadi sempat memperhatikan ke arah belakang langsung menatap lurus ke depan. Ia seorang jomblo akan lebih baik kalau tak melihat adegan romantis seperti itu, begitu pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2