
Tuan Gerald baru saja pulang bekerja. Tia membungkukkan tubuhnya ketika sang Tuan muda melintas di hadapannya. Tuan Gerald menoleh ke arah Tia lalu bertanya tentang keberadaan Anesya, Tia menjawab pertanyaan Tuan Gerald sekaligus menceritakan apa yang tadi Nona mudanya itu katakan setelah pulang dari bekerja. Tuan Gerald menjawab laporan Tia dengan anggukan kecil kepalanya.
Tuan Gerald kembali melangkahkan tapi kini menghentikan langkahnya di bawah kaki anak tangga, menyuruh Asisten Van untuk pulang karena pekerjaannya hari ini telah selesai.
Asisten Van membungkukkan sedikit tubuhnya dan setelah melihat bayangan Tuan Gerald menghilang di balik pintu kamarnya, barulah lelaki itu memilih untuk pergi meninggalkan kediaman Wooldir.
Di tempat lain.
Saat ini Zico sedang duduk di depan bartender sembari menikmati minuman beralkoholnya, sesekali tubuh lelaki itu meliak-liuk di kursi yang ia duduki ketika mendengarkan suara musik DJ yang mengalun di dalam ruangan ini.
Seorang wanita cantik dengan baju minim bahan mulai menarik satu kursi yang ada di dekat Zico lalu mendudukinya, wanita cantik itu memesan satu gelas minuman berakohol pada bartender dan tak menunggu lama, minuman itu pun kini sudah ada di hadapannya. Wanita itu dengan berani mengangkat minumannya di hadapan Zico seakan mengajak bersulang dan Zico segera mengambil gelasnya kemudian kedua gelas itu pun bertabrakan pelan. Wanita itu melihat ke arah Zico dari bibir gelasnya.
__ADS_1
“Apakah kamu sendiri?” tanya Zico pada wanita itu.
Wanita tersebut menggelengkan kepalanya satu kali kemudian menoleh ke arah sahabatnya yang kini sedang melambaikan tangan padanya dari lantai dansa. “Aku bersama dengan temanku, kami baru mengenal dan sepertinya bisa langsung cocok,” sahut wanita itu.
Zico ikut melihat ke arah yang sama. Kedua maniknya langsung membole ketika melihat ke arah Elsa yang kini sedang bergoyang dengan seorang lelaki paruh baya. Elsa yang sempat bersitatap dengan Zico segera mengalihkan tatapannya ke arah lain karena tak mau bertemu pandang dengan lelaki itu-lelaki yang hampir menjadi suaminya, tapi karena kedatangan Tuan Gerald di dalam pernikahannya membuat Elsa seakan memiliki masa depan yang cerah, hingga wanita itu berani memutuskan hubungannya dengan calon suami, tapi siapa sangka jika mendapatkan hati Tuan Gerald tak semudah membalikkan telapak tangan. Membuat Anesya harus menelan pil pahit karena gagal sebelum memulai.
Kediaman Wooldir.
Anesya sudah berbaring di atas ranjang, ia masih mengotak-atik ponselnya. Beberapa rekan kerja wanita mengirimi pesan untuknya yang menanyakan banyak hal terutama mengenai hubungannya dengan Asisten Van. Anesya malam menjawab pesan-pesan yang di kirimkan oleh rekan kerjanya itu, jadi ia memilih untuk mengabaikannya. Tapi ketika Anesya melihat bayangan Tuan Gerald mulai masuk ke dalam ruangan ini, Anesya buru-buru memblokir satu persatu nomor rekan kerjanya kemudian segera menghapus jejak chat mereka semua. Bisa perang dunia kedua jika sampai Tuan Gerald tahu jika di kantor semua orang mengira kalau Asisten Van sedang menjalin hubungan dengannya.
“Kesibukan apa yang sedang kamu lakukan hingga tak menghiraukan kehadiranku didalam ruangan ini?” tanya Tuan Gerald pada Anesya. Kini netra lelaki itu menatap ke arah ponsel Anesya dan di sana yang ada hanya permainan ular yang diberikan makanan. Lelaki itu melihat ke arah Anesya yang seketika cemberut karena ponselnya di rampas begitu saja.
__ADS_1
“Kau merampas ponselku dan kini aku pasti kalah dalam permainan,” ujar Anesya berpura-pura marah. “Untung saja aku sudah menyingkirkan semua chat itu sebelum lelaki arogan ini menyentuh ponselku,” batin Anesya di dalam hatinya.
Tuan Gerald melemparkan ponsel Anesya di lantai dan hal itu membuat Anesya langsung membulatkan kedua matanya. Itu adalah ponsel yang ia beli dengan cara mencicil sampai 11 bulan lamanya, tapi dengan begitu mudah Tuan Gerald malah melemparnya ke lantai bagaikan barang yang sudah tidak berguna.
“Tu-tuan, kenapa ponsel saya di lempar?” tanya Anesya pada Tuan Gerald. Manik wanita itu masih saja melihat ke arah ponselnya yang kini sudaah terburai di atas lantai marmer ruagan kamar ini. Miris sekali. Ponselnya yang malang. Sia-sia sudah mencicil smapai 11 bulan jika bulan ke 12 ponsel itu hancur berantakan. Kasihan sekali.
“Besok aku akan menggantinya dengan yang lebih baru,” jawab Tuan Gerald dengan santai dan wajah tanpa dosa.
Tuan Gerald menepuk tangannya dua kali dan semua lampu yang ada di dalam ruangan kamar ini seketika padam. Tuan Gerald mulai mengikis jarak dengan Anesya dan hanya dengaan satu kali gerakan saja kini lelaki tangguh itu sudah ada di atas tubuh Anesya mengungkung tubuh kecil itu dalam perangkap gairahnya.
“Ap-apa yang mau Tuan Gerald lakukan?” tanya Anesya dengan polos.
__ADS_1
“Kau tadi marah padaku karena kalah dalam permainan.” Setelah bicara Tuan Gerald segera menjulurkan lidahnya untuk menelusuri leher jenjang wanitanya. “Sekarang, aku yang akan memimpin permainan dan bisa aku pastikan kau tak akan kalah, jika sampai kau kalah maka permainan akan di ulang.” Tuan Gerald bukannya sedang mengajak Anesya bermain, tapi sepertinya lelaki itu sedang mencoba untuk membunuh Anesya dengan permainan gairahnya.
Anesya hendak membuka suara untuk protes akan ucapan Tuan Gerald, tapi belum sempat itu terjadi lelaki tersebut sudah menutup mulutnya menggunakan ciuman dan satu tangan Tuan Gerald juga langsung menuju puncak dari salah satu bukit kembar yang seakan begitu pas di gengaman tangannya.