Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Dalang Dibalik Penculikan


__ADS_3

Semua orang-orang Tuan Gerald tersebar ke segala penjuru arah untuk mencari keberadaan Anesya. Tuan Gerald begitu murka sekali ketika mengetahui orang-orangnya masih juga belum menemukan keberadaan wanita kesayangannya, Tuan Gerald marah pada dirinya sendiri karena semalam ia sudah keterlaluan hingga membuat wanita itu ketakutan dan memilih kapur darinya.


"Jika sampai malam hari kalian belum menemukannya maka bersiaplah untuk pergi ke neraka!" Ancam Tuan Gerard pada semua orang-orangnya.


Para pengawal yang mendengarkan ucapan Tuan Gerald langsung gemetar ketakutan, mereka semua tahu jikalau Tuan Gerald tak akan pernah menarik kata-katanya. 


"Pergilah sekarang!" Perintah Tuan Gerald. 


Semua pengawal serempak membungkukkan sedikit tubuhnya lalu melangkah keluar dari ruangan ini secara teratur.


Tuan Gerald meraih botol minuman yang ada di atas meja kemudian membantingnya hingga terdengarlah suara riuh di dalam ruangan tamu rumah ini. Serpihan botol kaca itu tersebar ke segala arah, Asisten Van mencoba untuk memfokuskan pandangannya ke arah layar laptop yang ada di hadapannya, lelaki itu sedang mengecek kamera CCTV yang ada di jalanan dan akhirnya pencarian Itu membuahkan hasil.


"Van aku tidak membayarmu untuk hanya duduk diam di sini! Pergilah dan cari tahu keberadaannya atau nyawamu ikut melayang bersama dengan para pengawal itu!" ancam Tuan Gerald yang memang tidak memiliki banyak kesabaran.


"Saya menemukan keberadaan Nona."


***


Anesya mengarahkan tangannya untuk memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing sekali, Anesya mulai membuka kedua pelupuk matanya dan lama-lamat ia pun menyadari gimana dirinya sekarang. Ruangan ini begitu gelap dan minim akan cahaya, Anesya merasa asing dengan ruangan ini dan terdapat dua orang lelaki yang kini sedang duduk sembari bermain kartu tidak jauh darinya.


Anesya kembali mengingat ketika ia keluar dari ruangan Tuan Gerald, dirinya menghubungi Lia dan sahabatnya itu meminta kepadanya untuk masuk ke dalam mobil berwarna hitam, Lia mengatakan jika mereka adalah orang yang akan membantunya untuk kapur dari Tuan Gerald. Awalnya Anesya merasa ragu tetapi ketika Lia mengatakan jikalau Kedua lelaki itu adalah keluarganya barulah Anesya setuju masuk ke dalam mobil itu tetapi kenapa Sekarang dia ada di sini dan di mana Lia? Sahabatnya itu tidak terlihat di manapun membuat Anesya merasa ketakutan.


"Si-siapa kalian?" tanya Anesya dengan nada suara yang terbata-bata. Anesya memundurkan tubuhnya hingga kini terjeremba pada dinding ruangan ini.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengenali siapa kami, tapi cukup kami yang mengenalmu," kata salah satu lelaki dengan kepala botak.


"Di mana Lia? Bukankah kalian adalah saudaranya?" tanya Anesya.


Kedua lelaki itu langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan perkataan polos wanita yang ada di dalam ruangan ini. Ketawa mereka melebur bersamaan dengan salah satu lelaki berkepala botak yang kini sedang berjalan menghampiri Anesya.


"Kau itu sangat cantik, tapi tidak aku sangka jika kau begitu bodoh sekali," Kata lelaki itu dengan ambigu membuat Anesya semakin kebingungan.


"Apa maksud dari ucapan kalian? Di mana Lia sekarang?" tanya Anesya untuk kali kedua.


"Lia menyuruh kami untuk menculikmu, wanita itu juga mengatakan jikalau kamu tidak boleh keluar dari tempat ini," kata lelaki lain yang usianya sekitar 40 tahun. Lelaki itu menatap ke arah Anesya seakan sedang mencoba menjamah setiap inci tubuh Anesya menggunakan tatapannya yang menjijikkan itu.


Tubuh Anesya gemetar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya jantungnya berdetak dengan begitu kencang sekali hingga membuat nafasnya tersengal-sengal seakan habis lari maraton. Anesya tidak percaya dengan apa yang Kedua lelaki itu katakan, Lia tidak mungkin berniat jahat padanya, sahabatnya itu sangat baik sekali mereka pasti sedang memfitnah sahabatnya. Dan Anesya tak akan pernah mempercayai ucapan Kedua lelaki itu.


"Jangan mendekat dan jangan coba macam-macam denganku," kata Anesya dengan suara bergetar di ujung lidahnya.


Kedua lelaki itu bukannya takut justru mereka berdua tertawa semakin kencang melihat wanita yang ada di depannya sekarang gemetar ketakutan, ruangan ini mungkin minim akan cahaya lampu tetapi Kedua lelaki itu masih bisa melihat wajah wanita yang ada di depannya pucat mirip seperti kertas putih.


"Bukankah wanita yang bernama Lia itu mengatakan jikalau kita bisa bersenang-senang dengannya, terpenting wanita ini tidak sampai lolos dari kurungan kita?" Tanya seorang lelaki berusia 40 tahun itu.


"Tentu saja kita boleh bersenang-senang dengannya, Aku bahkan tidak berniat melepaskan wanita secantik ini. Bagaimana kalau kita menggunakannya secara bersamaan," jawab lelaki berkepala botak.


"Jangan coba-coba mendekati," kata Anesya. 

__ADS_1


Kedua lelaki itu tidak peduli dengan teriakan tawanannya mereka berdua justru semakin bergairah untuk melakukan apa yang mereka ucapkan. 


"Jangan mendekat, aku mohon jangan mendekat," teriak Anesya sembari mencoba mendorong kedua lelaki itu agar tidak semakin mendekatinya, tetapi tenaganya tentu tidaklah seberapa dibandingkan tenaga para lelaki itu.


"Semakin kau berteriak maka semakin kami bersemangat," salah satu lelaki sembari menjilat bibir bagian bawahnya dan hal itu nampak begitu menjijikkan sekali.


Kedua lelaki itu menghentikan niat awalnya setelah mereka mendengarkan suara langkah kaki yang berjalan memasuki ruangan ini. Anesya dan juga Kedua lelaki lain menatap ke asal suara itu.


Binar mata bahagia nampak dari kedua kornea mata Anesya saat ia menyadari jikalau suara langkah kaki itu adalah milik Lia sahabatnya. Anesya beranjak berdiri kemudian berlari menghampiri Lia dan juga memeluk sahabatnya itu dengan derai tangis.


"Iya mereka berdua jahat padaku, tolong bebaskan aku dari tempat perkutut ini," kata Anesya dengan polos. Anesya sungguh tidak percaya jikalau Lia berniat jahat padanya karena selama ini ia selalu membantunya saat berada dalam kesulitan contohnya ketika dia diusir oleh Elsa dari kediamannya sendiri.


Anesya langsung membulatkan kedua matanya ketika mengetahui jikalau Lia justru mendorongnya pada Kedua lelaki itu.


"Harusnya kalian ikat dia!" Perintah Lia pada Kedua lelaki itu dengan seringai liciknya.


"Lia apa yang kamu katakan?" tanya Anesya.


"Kamu tidak salah dengar Anesya," jawab Lia. "Aku yang menyuruh mereka untuk menculikmu." Lia mengakui perbuatannya.


"Lia Kenapa kau melakukan semua ini? Apa salahku padamu?" tanya Anesya. Tangan wanita itu dengan cepat mengucap air mata yang baru saja jatuh di salah satu pipinya.


"Anesya jangan berpura-pura bodoh!' bentak Lia. "Pada awalnya aku memang menganggapmu seperti saudaraku sendiri, tapi semua pemikiran itu berubah ketika aku mengetahui kalau kau bisa mendapatkan Tuan Gerald, apakah kau tahu Anesya. Aku sangat menginginkan Tuan Gerald sejak dari dahulu, tapi siapa sangka jika lelaki setampan itu justru memilih wanita bodoh sepertimu." Lia menunjukkan sisi lain dari dirinya.

__ADS_1


Anesya jatuh terduduk di lantai setelah mengetahui jikalau Lia adalah dalang dibalik semua ini.


__ADS_2