Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Pemilik Perusahaan Empire Ternyata


__ADS_3

Ketika Anesya sedang sibuk memikirkan tentang perusahaan Empire Group, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dan mengalihkan atensinya begitu saja.


“Nona Anesya, CEO baru perusahaan ini memanggil Anda untuk datang ke ruangannya,” ujar seorang lelaki berjas hitam yang Anesya percaya ialah seorang pengawal.


Anesya melihat ke arah semua orang yang kini sedang memperhatikannya. Anesya mengarahkan pandangannya melihat ke arah lelaki yang berbicara dengannya di pintu ruangan ini.


“Ke-kenapa saya dipanggil? Saya merasa tak pernah melakukan kesalahan,” tanya Anesya pada sang pengawal.


“Saya hanya ditugaskan untuk menyampaikan pesan ini pada Anda dan sebaiknya Anda lekas datang karena CEO kami tidak pernah suka jika dibuat menunggu lama.” Setelah bicara lelaki itu membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian berlalu menjauh dari ruangan ini.


“Anesya, kamu membuat masalah apa sehingga lelaki sekejam itu memanggil kamu ketika ia baru satu hari membeli perusahaan ini?” tanya rekan kerja Anesya yang lain.


“Entahlah, aku juga tidak tahu,” jawab Anesya.

__ADS_1


“Semoga kamu tidak sampai dipecat, sekarang lekas pergilah,” jawab teman Anesya yang lain.


Saat ini Anesya sudah berdiri di depan ruangan pemilik perusahaan ini, jantung Anesya terus berdetak dengan begitu kencang, kedua tangannya saling menggenggam dan diselimuti oleh bulir bening. Setelah bisa menguasai dirinya sendiri, Anesya barulah mengarahkan punggung tangannya untuk mengetuk pintu bercat putih tulang yang ada di hadapannya.


“Masuk,” jawab seseorang yang ada di salam sana.


Anesya memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan ini, kedua maniknya seketika langsung membola penuh saat melihat sosok lelaki tampan yang sekarang sedang duduk di sofa sembari menyilangkan kedua kakinya di atas meja sembari melipat kedua tangannya angkuh di dada.


“Tu-tuan Gerald kenapa Anda bisa ada di sini?” tanya Anesya polos.


Anesya mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan ini, mencoba untuk mencari keberadaan CEO barunya yang sudah membeli perusahaan ini, tapi Anesya tidak sadar jika orang yang sedang ia cari adalah Tuan Gerald sendiri.


“Astaga! Dia bodoh sekali,” umpat Tuan Gerald di dalam hati.

__ADS_1


Tuan Gerald yang tidak memiliki kesabaran lebih langsung menarik tangan Anesya hingga tubuh wanita itu jatuh ke dalam pangkuannya. Anesya menatap ke arah Tuan Gerald hendak protes, tapi belum sempat ia melakukannya, Tuan Gerald langsung membungkam bibir Anesya menggunakan ciuman mautnya.


Suara pintu berderit terbuka membuat Anesya menatap ke asal suara itu, ia melihat Asisten Van sedang berdiri di depan pintu.


“Maaf, nanti saya akan kembali lagi,” kata Asisten Van seraya melangkah keluar dari ruangan ini lagi.


“Astaga! Dia begitu menggangu,” umpat Tuan Gerald.


Kedua pipi Anesya seketika langsung memerah saat mengetahui jika Assiten Van melihat mereka berciuman. Anesya segera beranjak berdiri kemudian menatap ke arah Tuan gerald sembari berkata,


“Tu-tuan kenapa ada di sini? Dan tidak sepantasnya melakukan hal itu, tadi jika yang datang adalah pemilik perusahaan ini bagaimana?” tanya Anesya. Wanita itu mencoba untuk mengkritik apa ang suaminya lakukan barusan.


“Aku adalah pemiliknya,” jawab Tuan Gerald.

__ADS_1


Anesya diam sejenak kemudian langsung membuka mulutnya kaget. “Pantas saja aku merasa tidak asing dengan pemilik perusahaan Empire, ternyata itu memang perusahaan milik Tuan Gerald,” ujar Anesya di dalam hatinya.


Karena Anesya masih bersikeras untuk pergi bekerja, jadi Tuan gerald tak memiliki cara lain kecuali membeli perusahaan tempat wanitanya bekerja agar Tuan Gerald bisa leluasa menjaga Anesya.


__ADS_2