Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Tatapan Misterius


__ADS_3

Saat ini Anesya sedang berdiri di depan perusahaan, tatapannya menajam ketika melihat sepasang kekasih yang nampak mesra  di hadapannya kini.


Elsa dan juga Zico berdiri di hadapan Anesya mencoba memamerkan kemesraannya di hadapan adik tirinya itu. Rasa malu Elsa sudah melebur hingga membuat wajah wanita itu seakan memiliki ketebalan yang sama persis dengan tembok cina.


“Kenapa kalian kemari?” tanya Anesya dengan sarkas. Ia tak perlu menunjukkan hal baik di hadapan sepasang kekasih yang tidak baik ini.


Elsa melepaskan tautan tangan Zico, melangkah mendekati Anesya dengan seringai liciknya. “Aku akan menikah dengan Zico besok! Kau datanglah dan pastikan jika kau tak akan datang sendiri karena aku ingin ada lelaki yang menghapus air matamu itu, meskipun aku tahu kau masih belum bisa melupakan Zico.” Elsa bicara dengan tangan yang masih mengulurkan selembar undangan di hadapan Anesya, tapi adik tirinya itu masih enggan untuk mengambil undangan dari tangannya.


“Katakan saja, jam berapa besok aku harus datang?” tanya Anesya sembari menatap lurus ke depan. “Aku juga akan pastikan jika diriku tak akan pergi sendiri, karena aku akan pergi bersama dengan Tuan Gerald Wooldir,” kata Anesya dengan menatap puas ke arah wajah Elsa yang nampak menegang sekarang.


Elsa adalah tipe wanita yang begitu menyukai lelaki kaya, tentu saja dia langsung hafal betul nama orang paling terpandang di negara ini. Sesaat kemudian Elsa tertawa sampai terpingkal-pingkal karena ia merasa adik tirinya ini pasti sudah gila setelah putus dari Zico. Mana mungkin lelaki paling berpengaruh di negara ini tertarik pada gadis dekil sepertinya.


“Pastikan besok kau akan membawanya, atau kau akan malu di hadapan banyak orang, Tuan Gerald Wooldir halu itu harus sama persis dengan yang asli,” kata Elsa meledek Anesya secara terang-terangan.


“Anesya, aku tidak menyangka jika kau terlalu mencintaiku, hingga kau gila hanya dalam hitungan hari setelah putus denganku,” ledek Zico. Lelaki itu dengan sengaja meraih pinggang Elsa seakan menunjukkan jika inilah wanita pilihannya. “Selain aku, mana mungkin ada lelaki yang mau denganmu,” ledek Zico puas.


“Terserah apa yang mau kalian katakan, aku tak perduli! Dan kita lihat saja besok, apakah aku akan datang sendiri atau bersama dengannya.” Usai bicara Anesya merampas selembar kertas di tangan Elsa, menyobeknya menjadi dua kemudian ia injak seraya berlalu pergi. “Argh!” pekik Anesya ketika tubuhnya jatuh terbanting ke lantai setelah Zico mendorongnya.


"Sayang, kenapa kau mendorongnya," kata Elsa dengan bergelayut manja di lengan lelaki sialan itu.


"Dia pantas mendapatkannya," jawab Zico. “Aku ingin dia sadar akan ucapannya tadi,” ledek Zico yang masih mengganggap jika Anesya hanya berpura-pura saja membawa Tuan Gerald.

__ADS_1


“Sayang, tanganmu bisa terkena infeksi jika menyentuh hama sepertinya, ayo aku berikan antiseptik di dalam mobil.”


 Anesya memegangi lututnya yang berdarah karena sempat bersentuhan dengan aspal, kedua maniknya kini sudah dipenuhi dengan kristal bening. “Suatu saat aku akan membalas kalian,” ujar Anesya di dalam hati. Kebencian di hatinya bukan makin menghilang justru makin bertambah saja.


Sepasang mata menatap sendu ke arah Anesya, tapi ketika melihat sepasang kekasih yang melenggang pergi setelah meninggalkan luka pada Anesya, seketika itu kilatan iblis nampak memenuhi manik matanya sekarang. Kedua tangannya terkepal dengan begitu kuat di tempat yang tersembunyi.


***


Dengan langka yang tertatih karena menahan rasa nyeri, akhirnya Anesya berhasil juga mendudukkan tubuhnya di ruang tamu rumah ini. Anesya mengibaskan tangannya di luka yang ada pada lututnya agar cepat mengering, tapi rasa nyerinya masih belum hilang juga.


Anesya mengangkat pandangannya ketika mendengarkan suara sepatu pantofel yang bersentuhan dengan lantai marmer rumah ini mulai terdengar di indranya. Anesya melihat seorang lelaki dengan baju Dokter melangkah menghampirinya bersamaan dengan seorang wanita paruh baya yang Anesya percaya adalah asisten rumah tangga.


“Dokter Samuel, tolong periksa Nona Anesya, kakinya terluka,” pinta wanita paruh baya itu dengan kepala yang tertunduk.


“Sa-saya baik-baik saja dan siapa kalian?” tanya Anesya seraya melarang Samuel untuk memegangi kakinya..


“Nama saya Tia, saya adalah pelayan di rumah ini.” Tia memperkenalkan dirinya pada Anesya dengan kepala yang tertunduk hormat. “Ini adalah Dokter Samuel-Dokter keluarga Wooldir,” sambung Tia memperkenalkan sang Dokter yang kini sudah ada di hadapan Anesya.


“Memangnya siapa yang memintanya untuk memeriksa aku hanya karena luka kecil seperti ini?” tanya Anesya bingung sendiri. Karena dirinya tidak memiliki banyak uang untuk bermanja-manja dengan luka kecil begini hingga harus memanggil Dokter segala.


“Aku yang memintanya datang,” jawab Tuan Gerald. Lelaki itu muncul di balik pintu utama rumah ini dengan penuh kharisma, kedua tangannya berada di dalam saku celana, sorot mata lelaki itu begitu dingin hingga mampu membekukan semua benda yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Kenapa harus menghamburkan banyak uang hanya untuk memanggil Dokter, ini adalah luka kecil, aku terjatuh dan bukan patah tulang,” kata Anesya. Ia merasa lelaki ini benar-benar tak masuk akal, luka kecil begini ia sudah heboh memanggil Dokter. Berlebihan sekali.


Dokter Samuel dan juga Tia langsung melongo ketika mereka mendengar jika ada seseorang yang berani berucap begitu di hadapan Tuan Gerald. Selama ini tak pernah ada orang yang berani melakukan hal itu.


“Berani sekali kau bicara seperti itu!” bentak Tuan Gerald dengan rahang yang mengeras.


“Aku tentu berani melakukannya, tapi jangan-jangan kau suruh aku untuk mengganti biayanya Tuan, hidupku ini sudah sangat sulit dan begitu banyak masalah jadi jangan di tambah lagi," kata Anesya dengan tatapan nanar karena kedua kelopak matanya kini sudah di penuhi dengan kristal bening.


“Aku tak akan meminta bayaran!” kata Tuan Gerald.


“Oh ... bilang dari tadi,” balas Anesya dengan mengulas senyuman manisnya.


“Astaga wajahnya langsung berubah tersenyum ketika ia tahu jika tak harus membayar biaya perawatan,” batin Tuan Gerald bingung sendiri melihat sikap Anesya yang selalu saja berubah-ubah. Perempuan itu mirip sekali seperti bunglon.


“Kenapa menatapku? Cepat periksa dia!” titah Tuan Gerald pada Dokter Samuel.


“Astaga! Tuan, kau itu gampang sekali marah, nanti cepat darah tinggi,” balas Anesya polos.


Tuan Gerald langsung membulatkan kedua matanya, melihat ke arah Anesya dengan tatapan tajam. Anesya segera menundukkan kepala tak berani menatap karena nyalinya seketika menciut.


“Hahaha! Gerald, wajahmu itu sungguh lucu sekali dan aku ingin memotretnya apa boleh?” tanya Dokter Samuel.  Dokter Samuel dna juga Tuan Gerald berteman akrab dan keduanya juga sudah sering bercanda seperti ini.

__ADS_1


“Van. Seret sampah ini keluar!” titah Tuan Gerald.


Van hanya diam saja karena ia tahu jika Tuan Gerald tak serius dalam ucapannya.


__ADS_2