Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Kedatangan Van


__ADS_3

Setelah selesai mengobati Anesya, Dokter Samuel kembali ke rumah sakit. Ava merenggangkan otot-otot tulangnya yang terasa lelah karena seharian bekerja, ia yang sudah merasa lelah dan ingin merebahkan tubuhnya di kenyamanan ranjang pun buru-buru beranjak berdiri. Dan dengan bodohnya Anesya lupa jika sekarang kakinya sedang sakit dan ia harusnya tak berdiri dengan gerakan sekasar itu.


Anesya memekik kesakitan ketika merasakan lukanya seakan tersayat pisau akibat dirinya berdiri secara mendadak.


“Kau itu ceroboh sekali, sudah tahu kaki sakit tapi malah beranjak berdiri seperti itu.” Sembur Tuan Gerald seraya memegangi pundak Anesya.


“Sakit,” kata Anesya seraya mengibaskan tangannya ke lutut sendiri yang terasa nyeri.


“Kau itu benar-benar merepotkan sekali.” Setelah bicara Tuan Gerald langsung membopong tubuh Anesya.


Anesya melihat ke arah Asisten Van dan juga Tia yang langsung menundukkan kepalanya saat tahu jika Tuan mereka sedang mengendong wanitanya. Anesya benar-benar kagum dengan sikap profesional keduanya dalam bekerja. Pantas jika keduanya memiliki gaji mahal.


“Tu-tuan turunkan saya, saya mohon,” rengek Anesya.


“Jika kau terus saja bergerak maka aku akan menjatuhkan kau!” ancam Tuan Gerald. Dan jika di lihat dari sorot matanya lelaki itu pasti tidak sedang main-main dengan ucapannya barusan.


Anesya diam dengan kepala yang tertunduk. Ia merasa sangat lelah jadi menyandarkan kepalanya di dada bidang Tuan Gerald, menghirup aroma lelaki itu yang menguarkan parfum mint, Anesya mulai menyukai aroma ini dan ia merasa tenang. Sikap Tuan Gerald mungkin memang begitu kasar, tapi lelaki itu memperlakukannya dengan baik meskipun dengan cara yang unik tentunya.


“Kau mau langsung tidur atau mandi?” tanya Tuan Gerald ketika mereka berdua sudah berada di dalam kamar.


“Aku mau mandi,” jawab Anesya. “Sekarang turunkan aku,” kata Anesya dengan polos.


“Aku bantu, kau sedang sakit sekarang.” Anesya mengangkat pandangannya dan ia melihat seringai mesum lelaki itu nampak memenuhi netranya. Argh! Si mesum ini selalu mencari cara untuk menyentuhnya.


“Tuan, yang sedang sakit hanya lututku saja, jadi Anda yang terlalu berlebihan,” kata Anesya mencoba mengerakkan tubuhnya agar lelaki itu menurunkannya dari gendongan, tapi Tuan Gerald malah mempererat gendongannya seakan dirinya mangsa yang tak ingin lelaki itu lepaskan dengan mudah.

__ADS_1


“Kakimu tak boleh terkena air dan aku akan membantunya, aku akan membasuh sekujur tubuhmu,” kata Tuan Gerald. Tatapan lelaki itu membuat Anesya merinding sekarang, dia benar-benar sang iblis mesum.


Anesya hanya diam tak menjawab, Tuan Gerald menarik senyuman devilnya. Lidahnya dengan nakal terulur dan menelusuri ceruk telinga wanitanya dengan gerakan yang lembut. Anesya dengan spontan mengeluarkan ******* manja, tapi ketika sadar jika suara laknat itu keluar dari bibirnya Ia pun langsung menutup mulutnya sendiri dengan mencecar di dalam hati.


“Sayang, lanjutkan di dalam kamar mandi saja,” goda Tuan Gerald yang memang selalu senang jika melihat kedua pipi wanitanya memerah karena malu. Boneka cantik yang begitu menggemaskan sekali.


Anesya diam sembari menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan. Gerakan spontan itu membuat senyuman Tuan Gerald meledak. Anesya membuka sedikit cela pada jemari tangannya, ia melihat jika kini Tuan Gerald nampak begitu tampan sekali, lelaki itu tidka sedang menyeringai tapi dia tertawa lepas. Anesya benar-benar terpesona melihatnya.


***


“Anesya, kemarin sepasang kekasih gila itu datang kemari untuk apa?” tanya Lia yang merasa penasaran.


Anesya tidak langsung menjawab, ia lebih dahulu duduk di kursi kerjanya lalu berkata, “Dia datang untuk mengantarkan undangan,” jawab Anesya singkat.


“Bukankah acaranya nanti malam?” tanya Lia memastikan.


“Dia mengundangku, tapia kau langsung membuangnya tanpa sempat membaca,” jawab Lia. Lia merasa kesal sekali karena Elsa dan juga Zico berselingkuh secara terang-terangan sebelum hubungan Anesya dan juga lelaki sialan itu benar-benar berakhir.


“Nanti malam, aku akan datang bersama dengan Tuan Gerald, sampaikan permintaan maafku pada Diki karena aku tak bisa datang bersama dengannya,” ujar Anesya.


“Sebaiknya kau jauhi Diki, karena usahanya bisa terancam bangkrut kalau sampai Tuan Gerald tahu, selama ini tak pernah ada orang yang berani menyentuh milik Tuan Gerald, atau mereka seakan hidup mirip seperti di neraka,” jelas Lia yang memang sudah mengagumi Tuan Gerald sejak lama jadi tak merasa heran kalau Lia bisa mengetahui semuanya.


“Aku tahu, aku sudah membaca semua keburukan tentangnya. Dia begitu kejam,” jawab Anesya membenarkan. “tapi entah mengapa ketika bersama denganku, aku justru melihat dia begitu baik, tapi kadang mesum dan juga menjengkelkan” batin Anesya. Ia menyimpan kata-kata itu untuk dirinya sendiri.


Anesya dan juga Lia sudah berdiri di depan perusahaan. Terlihatlah mobil sport berwarna merah nampak berhenti di hadapan keduanya. Anesya dan juga Lia menggeser tubuh menjauhi mobil itu.

__ADS_1


“Itu mobil pengeluaran terbaru dan hanya ada beberapa unit saja di seluruh dunia,” kata seorang karyawan.


“Aku harus berpose di depan mobil itu, ini pasti akan menjadi hal yang sangat keren sekali,” balas wanita lainnya heboh sendiri.


“Anesya, ayo kita berpose bersama, ini sangat keren sekali,” ujar Lia ikut heboh sama seperti wanita lainnya.


“Kau saja, aku malas. Aku tak terlalu menyukai kemewahan tapi aku menyukai ketenangan,” kata Anesya yang lebih suka hidup sederhana asalkan tenang jiwa. Tapi berbanding terbalik dengan kehidupannya sekarang, sudah hidup susah ia juga tak memiliki ketenangan.


“Ini pakai ponselku saja,” pinta Lia seraya menyodorkan ponselnya.


Anesya memotret Lia beberapa kali dengan wajah datar. Ia menangkap gambar seorang pria yang abru saja keluar dari kursi kemudi, tangan Anesya yang memegang ponsel langsung turun ke bawah.


“Van, itu adalah Assiten Van. Dia adalah asisten handal Tuan Gerald, aku tahu karena mereka sering muncul di televisi.” Itulah suara-suara yang terdengar di telinga Anesya.


“Lia ponselmu,” kata Anesya dengan melangkah menjauh.


“Nona Anesya,” kata Van yang justru malah menghalangi jalannya, lelaki itu membungkukkan tubuhnya di hadapan Anesya hormat. “Tuan Gerald sedang menunggu Anda di dalam mobil,” kata Van lagi.


Anesya mengedarkan pandangan ke sekitarnya, ia melihat semua orang yang ada di luar perusahaan menatapnya dengan penuh selidik.


“Asisten Van, aku akan langsung pulang ke rumah dan katakan pada Tuan Gerald jika aku tak bisa masuk ke dalam mobil karena begitu banyak orang yang sedang memperhatikan sekarang,” kata Anesya.


“Jika orang-orang itu yang membuat Anda melawan perintah Tuan Gerald, maka semuanya akan ada dalam bahaya! Anda tak ingin hal itu sampai terjadi kan?” pertanyaan mengancam itu membuat nyali Anesya menciut. “Lia, aku pulang bersama dengannya,” kata Anesya.


“Silahkan Nona,” kata Van seraya membukakan pintu mobil untuk Anesya.

__ADS_1


Semua orang yang melihat sampai melongo. Asisten Van menundukkan kepala ketika ada di depan Anesya, ini hal yang tak terduga dan memangnya siapa Anesya sebenarnya. Itulah yang sekarang sedang di pikirkan oleh semua orang.


 


__ADS_2