
Tuan Gerard mendorong tubuh apa masuk ke dalam mobil kemudian mobil itu langsung melaju meninggalkan halaman restoran ini. Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil yang Asisten Van kemudikan sampai juga di halaman rumah kediaman Wooldir.
"Van pulanglah sekarang!" Perintah Tuan Gerald pada orang kepercayaannya itu.
"Baik, Tuan," jawab Asisten Van sembari membungkukkan sedikit tubuhnya. Setelah merasa jikalau Tuan Geralt menjauh darinya Asisten Van barulah mengangkat pandangannya.
Netra Asisten Van melihat ke arah Nona Anesya yang saat ini sedang ditarik paksa oleh Tuan Gerald untuk masuk ke dalam rumah. Sebenarnya Asisten Van merasa sangat kasihan sekali dengan Nona mudanya itu, tetapi ia tak mungkin membantu karena itu bukanlah menjadi urusannya. Dengan berat hati akhirnya Asisten Van masuk ke dalam mobil kemudian mengemudikan mobil itu menuju ke kediamannya.
Di dalam rumah keluarga Wooldir.
Setelah sampai di dalam kamar tuan Gerald langsung mendorong tubuh Anesya ke atas ranjang, tangan lelaki itu terangkat untuk mencengkram dagu Anesya hingga membuat wanita itu merasa kesulitan untuk bernafas, cengkraman Tuan Gerald begitu keras sekali kepada rahangnya seakan lelaki itu hendak menghancurkan rahangnya.
"Tu-tuan sakit, le-lepaskan saya," kata Anesya memohon. Anesya melihat ke arah kedua bola mata Tuan Gerald yang nampak tajam, melihat bagaimana guratan kemarahan yang nampak jelas dari kening lelaki itu yang berkerut sudah bisa dipastikan jikalau permintaannya tak akan mungkin dituruti.
Tuan Gerald yang merasa emosi segera menghempaskan rahang Anesya dengan sangat kasar sekali hingga membuat wanita itu memekik kesakitan sembari memegangi rahangnya yang seakan hendak lepas dari tempatnya. Sorot mata Tuan Gerald nampak begitu dingin sekali seakan bisa membekukan semua benda yang ada di dalam ruangan ini. Atmosfer di dalam ruangan ini mulai berubah menjadi pengap seakan pendingin udara dan juga ventilasi udara di dalam ruangan ini tidak ada.
"Berani sekali kau mendekati lelaki lain padahal aku sudah memberikan peringatan kepadamu," bentak Tuan Gerald dengan nada suara setengah tertahan di tenggorokannya. "Apakah aku perlu membunuh lelaki itu untuk kau jadikan pelajaran supaya kali kedua tidak akan pernah lagi merespon lelaki lain di belakangku!"
Tubuh Anesya gemetar seketika, iya tahu dengan sangat jelas jikalau tuan Gerald tak akan pernah bermain-main dengan kata-katanya. Anesya langsung bersimpuh di bawah kaki lelaki itu, kedua tangannya memeluk kaki Tuan Gerald dengan begitu erat, tetesan air matanya membasuhi sepatu mahal Tuan Gerald.
__ADS_1
"Tuan Maafkan saya, waktu itu selama tiga hari Anda tidak menghubungi saya sama sekali bahkan saya juga tidak memiliki nomor anda, sedangkan hari pernikahan kakak tiri saya dan juga lelaki sialan itu akan segera tiba, saya yang merasa kebingungan akhirnya meminta bantuan kepada sahabat saya untuk mencarikan lelaki yang nantinya akan menemani saya untuk hadir di acara pernikahan itu," jelas Anesya dengan tangis sesenggukan. "Andaikan saja saya tahu jikalau anda berada di restoran itu maka sudah bisa dipastikan jika saya akan membatalkan pertemuan dengan lelaki tersebut. Dan andaikan saja sejak dari awal saya mengetahui identitas anda yang sebenarnya maka sudah bisa dipastikan jikalau saya tak akan berani mendekati anda." Anesya menjelaskan semuanya mulai dari awal. Wanita itu berharap jikalau kemarahan Tuan Gerald akan terkikis bersama dengan semua penjelasannya.
Tuan Gerald mulai berjongkok di hadapan Anesya dan lelaki itu mengarahkan satu tangannya untuk mengangkat dagu wanitanya. Tuan Gerald dengan sangat jelas bisa melihat jikalau saat ini rahang Anesya merah akibat cengkraman tangannya.
"Untuk kali ini aku memaafkanmu, tetapi jika sampai terulang untuk yang kali kedua maka bersiap-siaplah untuk kehilangan semua orang yang berada di dekatmu," ancam Tuan Gerald.
Tubuh Anesya bergetar, sebisa mungkin wanita itu mencoba menggigit bibir bagian bawahnya sendiri untuk menekan rasa takut yang ada pada dirinya.
Tuan Gerard langsung menarik tangan Anesya dengan kasar kemudian lelaki itu mendorongnya ke atas ranjang, iya melepaskan setiap helai kain yang menempel di tubuhnya kemudian siap untuk melampiaskan semua emosinya kepada wanitanya itu melalui penyatuan satu sama lain.
***
Anesya membenarkan kuciran rambutnya kemudian membuka laci kecil yang ada di samping ranjang, wanita itu mengambil semua uang yang ada di dalam laci itu, ini adalah uang pemberian Tuan Gerard mulai dari awal ia tinggal di dalam rumah ini dan satu kali pun dirinya tak pernah mengambil uang itu tetapi sekarang ia membutuhkannya. Anesya mulai mengendap-endap melangkah keluar dari ruangan kamar ini, iya menutup pintu perlahan sekali sembari menatap ke arah Tuan Gerard yang masih terlelap di dalam tidurnya.
Beberapa jam kemudian.
Tuan keras langsung berteriak memanggil semua pengawal dan juga pekerja yang ada di dalam rumah ini setelah menyadari jikalau Anesya kabur semalam. Tuan Gerald sudah mengecek kamera CCTV yang ada di sekitar rumah ini dan terlihatlah jikalau wanitanya itu kabur melalui gerbang dan ia menyamar menjadi seorang pelayan.
"Kenapa kalian bisa teledor itu!" Bentak Tuan Gerald kepada dua orang satpam yang bertugas menjaga gerbang rumah ini semalam.
__ADS_1
"Semalam kami tidak berpikir jikalau itu adalah Nona, karena beliau menggunakan baju pelayan dan terus saja menundukkan kepala, beliau mengatakan jikalau sedang ada urusan keluarga mendadak dan salah satu keluarganya meninggal sehingga kami merasa iba dan tanpa sadar membiarkan Nona melewati gerbang rumah ini," jelas dua orang penjaga itu secara bergantian.
"Habis sih mereka berdua!" Perintah Tuan Gerald dengan rahang yang mengetap.
"Tuan maafkan kami ... Tuan maafkan kami," kata kedua pengawal itu dengan wajah yang sudah pucat.
Dua orang pengawal langsung menyeret penjaga itu keluar dari rumah ini, Tuan Gerald tak akan pernah menarik kata-katanya lagi apalagi hanya untuk seorang penjaga.
"Kalian semua cari keberadaannya! Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum menemukan keberadaannya atau nyawa kalian akan melayang seperti kedua penjaga itu!" bentak Tuan Gerald kepada orang-orang kepercayaannya.
Asisten Van berjalan cepat memasuki ruang tamu rumah ini setelah mengetahui dari salah satu pengawal jikalau Nona Anesya malam kapur.
"Van! Kau sungguh tidak becus kali ini." Sembur Tuan Gerald setelah Asisten Van menghentikan langkah di hadapannya.
"Maafkan saya Tuan," jawab Asisten Van.
"Kau berani muncul di hadapanku berarti, sudah mengetahui di mana posisinya?" tanya Tuan Gerald sembari menaruh kedua tangannya bersedekap di dada.
"Nona Anesya di cilik," jawab Van.
__ADS_1