Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Aku Bisa Membunuhnya


__ADS_3

Anesya menatap ke arah pantulan wajahnya di depan cermin, wanita itu melihat melihat begitu banyak bekas warna merah yang kini sedang memenuhi lehernya, Anesya melihat ke arah Tuan Gerald yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamar ini, lelaki itu mengulas senyuman tipis ketika mengetahui jika wanitanya sedang marah padanya setelah melihat begitu banyak jejak kepemilikan yang mengelilingi leher jenjang itu.


Tuan Gerald memasang wajah datar seperti biasanya kemudian melangkah menghampiri Anesya yang sekarang sedang berdiri di depan kaca, Tuan Gerald melingkarkan tangan Anesya di pinggang wanita itu kemudian berkata.


“Bisakah jika aku mengartikan tatapan kau tadi sebagai tanda jika aku harus lebih memperbanyak kecupan ini?” tanya Tuan Gerald pada Anesya.


Anesya langsung membulatkan kedua manik matanya setelah mendengarkan apa yang Tuan Gerald katakan.

__ADS_1


“Ja-jangan lakukan itu,” kata Anesya pada Tuan Gerald sembari menggelengkan kepalanya.


“Kenapa aku tak boleh melakukannya, kau adalah wanitaku, kau adalah milikku,” kata Tuan Gerald.


“Tapi saaya bukan istri Tuan,” jawab Anesya jujur dan juga spontan. Anesya langsung menutup mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan setelah ia mengetahui apa yang barusan dia ucapkan, mulut laknat ini selalu saja asal bicara dan akan membuatnya kerepotan sendiri nantinya.


“Sayang, aku tak pernah menginginkan suatu ikatan apapun,” ujar Tuan Gerald dengan wajah yang nampakk tegas seakan dari air mukanya lelaki itu sedang mengatakan jika kalau pendiriannya tak akan pernah goyah apalagi karena hanya seorang wanita saja.

__ADS_1


Tuan Gerald mulai meradang setelah mendengarkan apa yang Anesya baru saja katakan, ia tak bisa diam saja meliaht semua ini. Tak ada satupun wanita yang bisa lepas darinya, tidak sebelum dirinya sendirri yang melepaskan mereka. Tapi wanita di hadapannya ini malah ingin memiliki hubungan dengan lelaki lain dan meminta lepas darinya. Tuan Gerald tak bisa membiarkan semua ini.


“Sekali lagi kau berani berbicara seperti itu maka akan aku pastikan jika lidah kamu itu akan hilang!” ancam Tuan Gerald sembari mnangkup wajah Anesya kasar dengan gengaman tangannya.


Anesya merasakan jika Tuan Gerald seakan hendak meremukkan rahangnya dalam dekapan itu ia tak bisa berkata apapun, oksigen gagar mengalir ke tubuhnya membuat dada Anesya merasa sesaak hingga membuatya kesulitan untuk bernafas, wajahnya mulai memucat seakan tatapan Taun gerald berhasil menghilangan semua rona merah di wajahnya. Anesya hanya bisa meneteskan air matanya melihat akan hal itu Tuan Gerald langsung tersentak kaget.


“Bagaimana mungkin aku menyakitinya, aku hampir saja membuatnya terbunuh karena emosiku, aku tak bisa membiarkan semua hal ini terjadi,” batin Tuan Gerald di dalam hatinya. Lelaki itu mendekap tubuh Anesya dengan.

__ADS_1


Anesya terbatuk-batuk dalam peukan hangat Tuan Gerald. Anesya menghirup nafas sebanyak-banyaknya agat tak kehabisan oksigen.


“Kau hampir membunuhku, tapi detik berikutnya kau mulai membawa aku dalam pelukan hangat ini, kau seakan ingin melindungi aku, sebenarnya apa artinya semua ini, Tuan?” tanya Anesya di dalam hatinya.


__ADS_2