
Anesya tak bisa membiarkan Tuan Gerald berangkat bersama dengannya, bagaimana dengan tangapan semua orang jika mengetahui akan hal itu, semua orang akan tahu jika yang sedang menjalin hubungan dengannya bukanlah Asisten Van melainkan dirinya, rumor semacam ini pasti akan langsung tersiar ke media masa dan Anesya tak mau jika sampai hal itu terjadi.
“Tu-tuan, jangan lakukan ini,” kata Anesya.
Tuan Gerald melihat ke arah tangan Anesya yang kini sudah lepas dari genggaman tangannya. Lelaki itu menatap Anesya dengan sorot mata tak bersahabat.
“Tuan, Anda jangan salah paham,” kata Anesya. Ia harus memberikan penjelasan sebelum emosi lelaki itu meledak. “Saya hanya karyawan biasa, saya pasti akan merasa tidak nyaman jika semua orang tahu kalau saya adalah wanita Tuan,” jelas Anesya secara hati-hati agar tidak semakin menyulut api emosi lelaki itu.
Tuan Gerald menyilangkan kedua tangannya bersedekap di dada. “Memangnya apa yang salah dengan semua itu?” tanya Tuan Gerald.
“Tentu saja tidak ada yang salah, saya hanya tak juga mereka mereka mendekati saya hanya karena ingin mengetahui hal-hal tentang Anda,” kata Anesya. Wanita itu mengangukkan kepala ketika menyadari jika ia sudah tepat dalam memilih setiap kata yang terlontar di bibirnya.
Emosi Tuan Gerald menguap begitu saja ketika mendengarkan penjelasan Anesya. Lelaki itu malah mengukir senyuman tipis pada bibirnya, senyuman itu sangat tipis sekali hingga Anesya tak menyadarinya.
"Apakah sekarang dia sedang merasa cemburu padaku? Ya sepertinya memang begitu, jika dia cemburu padaku berarti Anesya menyukaiku,” batin Tuan Gerald. Tuan Gerald kembali memasang wajah datar saat ia tahu jika sekarang dia sedang merasa senang karena Anesya cemburu padanya, memanya kenapa jika wanita itu cemburu kalau ada banyak wanita yang akan mempertanyakan tentang dirinya. Aneh ini sungguh aneh sekali.
__ADS_1
“Kalau begitu pergilah dengan supir!” perintah Tuan Gerald pada Anesya. Lelaki itu memasang wajah tidak acuh, padahal di dalam hati ia sudah ingin berteriak utuk mengekspresikan kebahagiaannya itu.
“Baik,” jawab Anesya cepat. Anesya sudah melewati Tuan Gerald, tapi ketika melihat wajah lelaki itu yang nampak begitu masam sekali. Anesya memilih untuk menghentikan langkah kakinya.
“Selamat bekerja.” Setelah bicara Anesya mencium pipi Tuan Gerald sekilas kemudian langsung berlari menjauh dan masuk ke dalam mobil.
Tuan Gerald sampai membulatkan kedua matanya ketika melihat Anesya mengecup pipinya, wanita itu tak pernah seagresif ini sebelumnya dan yang lebih terpenting lagi. Anesya melakukan itu karena inisiatifnya sendiri dan bukan karena tekanan darinya.
Tangan Tuan Gerald mengusap perlahan pipinya yang sempat dikecup oleh Anesya, senyuman bahagia nampak terpancar jelas dari garis lengkuk dibibir sang penguasa.
“Aku benar-benar tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya,” batin Tuan Gerald.
Anesya masuk ke dalam mobil. Meminta sang pengawal untuk segera melesatkan mobil ini keluar dari halaman rumah. Anesya menyandarkan punggungnya di kursi dengan satu tangan memegangi dadanya sendiri. Jantungnya berdetak dengan tidak stabil sekarang, ia begitu berani mencium Tuan Gerald. Andaikan saja tadi lelaki itu tidak memasang wajah menyeramkan seperti itu mana sudi Anesya langsung menciumnya dengan inisiatif sendiri. Astaga Anesya merasakan jika adrenalinya terpacu sekarang.
***
__ADS_1
“Apakah kau tahu, tadi sebelum aku berangkat ke kantor, aku melihat ada kerumunan orang di jalan. Seorang lelaki meminta aku untuk membawa seseorang perempuan yang tergeletak dengan tak sadarkan diri di pinggir jalan, awalnya aku menolak, tapi setelah melihat jika wanita itu adalah Elsa, akupun segera membantunya,” kata seorang wanita yang sedang bercerita pada wanita lainnya.
Anesya hendak masuk ke dalam ruangan kerjanya, tapi ketika mendengar nama Elsa di sebut. Anesya buru-buru menghentikan langkahnya dan berdiri di luar dinding ruangan ini. Anesya mengamati situasi yang ada di dalam ruangan kerjanya dengan membuka lebar kedua telinganya, ia merasa jika Elsa yang sedang mereka maksud adalah orang yang ia kenal.
“Elsa siapa maksud kamu?” tanya wanita lain.
“Elsa, kakak tiri Anesya,” jawab wanita lain dengan heboh. “Aku melihat tubuhnya bekas pukulan yang terlihat membiru. Aku yang melihatnya saja sampai mendesis ngilu seakan bisa merasakan sakitnya mendapatkan luka seperti itu.”
“Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai mendapatkan luka itu dan tergeletak di pinggir jalan.” Anesya mulai terdiam saat ia sadar jika itu bukan menjadi urusannya. “Aku tak perduli dengannya, terserah apa yang tetrjadi padanya karena sejak dari awal dia memang bukan keluargaku.” Anesya mencoba untuk tak perduli dengan apa yang sedang terjadi pada wanita kejam-wanita yang sudah berani merebut calon suaminya.
Setelah berhasil untuk memantapkan hatinya agar tidak perduli dengan kakak tirinya itu, Anesya segera mengajak langkah kakinya untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya. Semua wanita yang ada di dalam ruangan ini terdiam sesaat ketika melihat Anesya masuk ke dalam ruangan ini.
Salah satu wanita mengeser kursi kerjanya hingga kini sudah berada di samping Anesya. “Apa kau tahu, kondisi Elsa begitu memperihatinkan sekali. Aku tadi meninggalkannya dalam kondisi yang tidaak sadarkan diri, aku berharap ia tetap hidup, ujar wanita itu mencoba untuk melebih-lebihkan apa yang ia lihat.
Anesya yang sedang berpura-pura menyibukkan diri dengan bendah berbentuk pipih yang ada di hadapannya sekarang segera mengalihkan atensinya menatap ke arah wanita yang sedang mengajaknya berbicara itu.
__ADS_1
“Kondisinya benar-benar mengenaskan sekali,” sambung wanita itu lagi.
Bisakah Anesya tetap bersikap tidak acuh?