
Anesya dan juga Tuan Gerald melangkah ke dalam pesta pernikahan ini dengan bergandengan tangan. Terdapat Van dan juga 10 orang pengawal yang berdiri di belakang asisten Van, semua pengawal itu menatap sigap ke sembarang arah, bahkan tangan semua orang ketahui Van juga sudah menaruh banyak anak buahnya untuk berbaur dengan semua tamu undangan sehingga tak akan disadari oleh semua orang.
Elsa mengerjapkan kedua manik matanya, tapi bayangan Tuan Gerald masih saja memenuhi pandangannya.
“Aku tidak menyangka jika lelaki paling berpengaruh yang ada di negara ini menghadiri pesta kecil seperti ini, Tuan Gerald begitu tampan sekali bahkan dia jauh lebih tampan dari apa yang selama ini aku lihat di televisi.” Suara-suara para tamu undangan yang saling bersahutan terdengar oleh telinga Elsa dengan begitu jelas.
“Ternyata Anesya tidak berbohong, dia datang bersama dengan Tuan Gerald wooldir,” kata Zico.
Tangan Zico memegang dengan begitu erat pergelangan tangan istrinya, namun Elsa dengan begitu saja menarik tangannya membuat Zico langsung menatap ke arah Elsa dengan mengerutkan keningnya.
Di sisi lain.
Anesya merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian dadanya. Pesta pernikahan yang seperti ini dulu selalu saja ia bayangkan akan menjadi pesta pernikahannya dengan Zico, tapi siapa sangka jika lelaki sialan itu justru mengkhianatinya dan berselingkuh dengan kakak tirinya, Miris sekali.
Tuan Gerald melirik ke arah Anesya yang hanya diam saja tanpa membuka suara. Lelaki itu bisa melihat jika wanitanya mencoba untuk mengerjap-ngerjapkan kedua manik matanya guna menghalangi bulir bening yang sudah siap jatuh dari kedua pelupuk matanya sekarang.
“Jika sampai satu tetes air matamu jatuh. Bisa aku pastikan jika semua orang yang ada di dalam ruangan ini menerima akibatnya!" ancam Tuan Gerald.
Anesya tertegun setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan Gerald. Lelaki ini benar-benar begitu mengerikan sekali, hanya karena satu tetes air mata yang jatuh dia bisa menghancurkan semuanya. Anesya menengadahkan kepalanya dengan kedua manik mata yang masih mengerjap, ia tak boleh sampai meneteskan air matanya sekarang atau pesta ini akan hancur dan nanti elsa akan marah padanya.
"Anesya, kamu cantik banget," kata Lia setelah wanita itu ada di depan Anesya.
Van melangkah mendekat ke arah Lia kemudian berkata, “Nona, jangan berdiri di depan Tuan Gerald,” kata Van dengan suara datar namun terdengar mengancam di telinga Lia.
__ADS_1
“Maaf’ aku tidak tahu,” balas Lia dengan kepala yang tertunduk.
“Dia adalah sahabatku, kau tak perlu berbicara seperti itu,” tegur Anesya yang merasa terganggu dengan ucapan Van pada Lia tadi.
“Maafkan saya Nona, tapi ini memang sudah menjadi aturannya,” jawab Van seraya membungkukkan tubuhnya.
“Anesya tak masalah, aku juga mau mengambil makanan terlebih dahulu, aku merasa lapar,” kata Lia. “Kau segera temui mereka, sepertinya Elsa shock ketika melihat kamu datang bersama dengan Tuan gerald,” kata Lia.
“Itu sudah pasti,” jawab Anesya merasa bangga.
Tuan gerald yang melihat senyuman Anesya merasa sangat senang sekali. Tuan Gerald melangkah di samping Anesya mendekati calon pengantin. Tuan Gerald melihat ke arah Zico dengan tatapan tajam, semua orang yang melihat tatapan itu memilih menjauh sebab tak ingin ikut terkena masalah.
Anesya melihat ke arah Elsa engan wajah datar juga, tak ada senyuman ataupun kata-kata basa-basi keluar dari mulutnya. Anesya mulai menunjukkan ketidak sukaannya itu ketika melihat Elsa tak hentinya memperhatikan Tuaan Gerald.
“Anesya, Sayang. Aku sangat senang sekali karena kamu datang,” kata Elsa. Dia sedang memerankan drama menjadi wanita baik.
Anesya melepaskan pelukan Elsa tanpa menjawab. “Aku sangat senang sekali karena ternyata kalian menikah, aku berikan bekas kekasihku padamu Elsa, kau pantas mendapatkan barang sisa.” Anesya berbicara dengan begitu santai, tapi kata-katanya mampu membuat semua tamu undangan yang ada di ruangan ini tercengang mendengarnya.
“Anesya, jaga ucapan kamu!” bentak Zico.
Tuan Gerald langsung mendorong tubuh Zico hingga lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai. “Jangan berani-berani kau membentak wanitaku!” Tuan Gerald mulai menatap Zico tajam.
Semua orang yang tadinya sedang menikmati makanan mereka langsung berhamburan keluar dari ruangan ini. Lia juga ikut menjauh dan memilih untuk pulang lebih awal, karena mereka semua takut melihat para pengawal Tuan Gerald yang begitu banyak sekali.
__ADS_1
“Tu-tuan, ma-maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud untuk kurang ajar pada Anda,” kata Zico yang kini sudah memposisikan tubuhnya berlutut di lantai. Keringat dingin mulai menghiasi kening Zico, wajah Zico juga memucat sekarang.
Elsa hanya berdiri membeku di posisinya sekarang, tak sedikitpun wanita itu memiliki niat untuk membantu Zico, ia justru sibuk mengamati semua benda mahal yang sedang Anesya kenakan.
“Jika aku bisa menjadi wanita Tuan Gerald, maka hidupku akan bahagia. Anesya tak pantas ada di samping orang sehebat ini, yang pantas hanya aku saja,” batin elsa dengan pemikiran liciknya.
“Zico, kenapa kamu bersikap kasar pada Anesya, dia adalah adikku.” Elsa mulai memerankan drama menjadi kakak tiri yang baik hati. Anesya merasa mual ketika mendengarkan ucapan dusta yang keluar dari mulut Elsa.
“Kau mengganggap aku sebagai Adik? Lalu kemana saja kau selama ini Elsa! Kenapa kau tak ingat jika lelaki yang sedang bermain di atas ranjang denganmu itu dulu adalah kekasihku,” suara Anesya mulai terdengar parau. Kedua matanya memanas dan siap untuk menumpahkan begitu banyak bulir air mata.
“Anesya, lelaki itu mengatakan jika ia tak mencintai kau, dia juga mengatakan kalau kamu sesungguhnya tidak mencintainya," dusta kembali elsa katakan untuk menutupi kebohongan.
“Elsa, apa yang kau katakan barusan? Bukankah kau mengatakan jika kau begitu mencintai aku, tapi kenapa di hadapan Tuan Gerald kau malah menyalahkan diriku atas semua masalah ini,” ujar Zico tak terima.
“Sayang, apakah sudah cukup menghadiri acara berantakan ini?” tanya tuan Gerald pada Anesya seraya menatap wanitanya.
“Ayo kita pergi! Tak ada gunanya mendengarkan ucapan mereka, aku bosan sekali,” ujar Anesya seraya menyandarkan kepalanya di dada Tuan Gerald.
Tuan Gerald melepaskan genggaman tangannya kemudian membopong tubuh Anesya untuk keluar dari pesta ini.
Elsa hendak mengikuti Tuan Gerald, ia tak rela lelaki itu menjauh darinya. Tapi Zico langsung menggenggam tangannya dengan begitu erat.
“Zico, lepaskan tanganku!” perintah Elsa pada calon suaminya.
__ADS_1
“Dasar wanita murahan! Berani sekali kau menyalahkan aku atas apa yang terjadi,” umpat Zico pada Elsa. “Pernikahan ini batal! Aku tak akan sudi memiliki istri sepertimu.”
Acara pernikahan yang seharusnya berakhir bahagia pun harus berakhir dengan sengsara.