Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Pasangan Tak Tahu Malu


__ADS_3

Setelah turun dari dalam mobil Anesya memperhatikan desain rumah yang nampak begitu mewah sekali. Tiang-tiang penyanggah yang begitu banyak seakan menunjukkan betapa kokoh rumah bak istana di negeri dongeng ini. Anesya memutar tubuhnya dan melihat jika tak ada satupun bunga nampak menghiasi halaman rumah ini.


“Andaikan saja ada beraneka macam bunga di bagian kanan rumah ini, pasti halaman rumah ini tak nampak gersang,” gumam Anesya pada dirinya sendiri. “rumah ini nampak gersang karena begitu mirip dengan pemiliknya,” batin Anesya sembari melihat ke arah Tuan Gerald yang kini menatapnya dengan wajah datar.


Tuan Gerald melirik ke arah Van dan lelaki itu langsung menganggukkan kepalanya mengerti. Keduanya seakan sedang berbicara melalui bahasa isyarat.


“Sampai kapan kau akan berdiri di sini untuk mengamati sekitar, aku meminta kamu untuk tinggal bersama denganku, bukan untuk mengamati rumahku.” Sembur Tuan Gerald dengan tatapan sinis.


“Sa-saya tahu,” jawab Anesya.


Anesya mengikut langkah kaki Tuan Gerald masuk ke dalam rumah. Ia kembali takjub ketik melihat jika semua perabotan di dalam rumah ini nampak begitu moderen sekali, Anesya bisa menebak jika semuanya pasti mahal. Lelaki sombong seperti Tuan Gerald tak akan mungkin mau mengenakan barang murah, sama seperti baju-baju branded yang menempel ditubuhnya.


Ruang tamu rumah ini memiliki tembok berwarna abu-abu sama seperti kisah cintanya dengan Tuan Gerald. Nggak jelas. Sedangkan hampir semua perabotan yang ada di dalam ruangan ini berwarna hitam, sehitam tatapan lelaki itu yang seakan seperti lubang hitam yang bisa menelan siapa saja.


“Apakah Tuan tinggal sendiri?” tanya Anesya.


“Ya,” jawab Tuan Gerald. “tapi sekarang tidak lagi,” jawab Tuan Gerald pada Anesya.


“Kenapa begitu?” tanya Anesya dengan bodohnya.


“Van pulanglah!” titah Tuan Gerald.


“Baik Tuan, semoga malam Anda menyenangkan," usai membungkukkan sedikit tubuhnya, Van berlalu keluar dari pintu utama rumah ini.

__ADS_1


“Ikut denganku!” titah Tuan Gerald.


Anesya melangkah ingin keluar dari ruangan ini. Tuan Gerald yang menyadari jika tak ada langkah kaki yang mengikutinya pun langsung memutar tubuhnya, ia melihat Anesya berniat keluar dari pintu rumah ini.


“Astaga! Tingkahnya mirip bocah, hanya dia saja yang selalu ingin menjauhiku,” umpat Tuan Gerald sembari melangkah mendekati Anesya.


“Tu-tuan, aku tak ingin tinggal di rumah sebesar ini hanya bersama dengan kau saja,” kata Anesya jujur. Tuan Gerald meraih tubuhnya seperti seonggok karung beras lalu ia taruh di pundaknya. “Tu-tuan turunkan aku,  aku janji nggak bakal melawan perintah Anda lagi, tapi turunkan aku sekarang,” rayu Anesya sebisanya. Ia tak pandai merayu seorang lelaki.


Tuan Gerald menurunkan Anesya begitu saja tanpa bicara, tangannya bersiap meraih tangan Anesya untuk ia genggam, tetapi Anesya malah kabur lagi.


"Astaga! Kelinci kecil ini suka kabur ternyata, perlukah aku mengikatmu agar tak bisa kemana-mana," batin Tuan Gerald.


Tuan Gerald langsung menurunkan Anesya di atas ranjang dengan kasar, Anesya merasa beruntung sekali karena bukan di lantai lelaki itu menjatuhkannya, atau dia akan patah tulang karenanya.


Tuan Gerald membuka kancing jas hitamnya, melemparkan jas itu ke sembarang arah. Anesya merasa tidak familiar dengan hal yang barusan ia lihat ini, Anesya buru-buru beranjak hendak menarik tubuhnya dari atas ranjang, tapi sebelum hal itu sempat terjadi Tuan Gerald malah sudah ada di atas tubuhnya. Mata ranjang berkilat penuh hasrat bisa Anesya lihat begitu jelas. Anesya sampai merasa kesulitan walaupun hanya sekedar menarik nafas saja. Tatapan dingin lelaki itu seakan mampu membekukan semua benda yang ada di dalam ruangan kamar ini.


“Kau takut, Sayang?” tanya Tuan Gerald sembari membelai lembut pipi Anesya, menyingkirkan beberapa anak sulur rambut yang menutupi wajah cantik itu.


“Tu-tuan, mohon jangan.” Tuan Gerald langsung menutup mulut Anesya dengan ciumannya.


Selama ini ia selalu bisa mengendalikan diri jika ada di hadapan banyak wanita, tapi untuk kali ini Tuan Gerald tak bisa melakukannya, wanita ini adalah miliknya, boneka yang bisa ia mainkan begitu saja. Jika sudah merasa bosan maka Tuan Gerald akan mencampakkan Anesya begitu saja.


Senja yang indah mulai nampak menghiasi langit, Anesya terbangun dari posisi tidurnya, ia merasakan jika sekujut tubuhnya remuk redam sekarang. Lelaki itu benar-benar memiliki tenaga yang luar bisa, Anesya meragukan jika lelaki itu bukanlah keturunan manusia melainkan iblis mesum.

__ADS_1


“Sayang, apakah perlu aku bantu untuk menghilangkan rasa lelah di tubuh kau?” tanya Tuan Gerald. Lelaki itu melangkah keluar dari kamar mandi dengan tangan yang mengusal rambutnya yang masih basah menggunakan handuk putih kecil di tangannya.


Anesya meneguk salivahnya sendiri ketika melihat dada bidang lelaki itu yang menampakkan bulir air mandi masih memenuhinya, itu terlihat begitu seksi sekali. Tuan Gerald bisa mengulas senyuman miring ketika mengetahui jika wanitanya sedang menggagumi bentuk tubuhnya, tapi ketika di atas ranjang wanita itu seakan ingin kabur, namun ketika permainan sudah ia mulai maka sang wanita akan terus menyanyikan suara khas orang merasakan kenikmatan yang tiada tara.


“Kau boleh menyentuhnya, Sayang. Tak perlu menatapnya seperti itu karena ini adalah milikmu.” Dengan bicara tangan Tuan Gerald langsung meraih tangan Anesya untuk memegangi dadanya.


Jantung Anesya seakan mencelos ketika menyari jika tangannya sedang menyentuh bebas dada bidang Tuan Gerald yang tak tertutup oleh satu helai benangpun.


“Aku harus mandi, aku takut terlambat masuk kerja,” ujar Anesya mencoba untuk kabur. Kedua pipinya sudah mulai merona merah karena rasa malu, bagaimana mungkin Anesya tak merasa malu ketika ketahuan sedang mengagumi dada bidang Tuan Gerald.


***


“Anesya ceritakan apa yang terjadi semalam? Apakah rumahnya besar dan apakah begitu banyak pelayan di rumah Tuan Gerald?” tanya Lia ketika keduanya kini sudah ada di kantin perusahaan.


“Rumahnya begitu besar dan memiliki begitu banyak pelayan,” jawab Anesya.


“Bisakah jika kau mengajak aku untuk berkunjung ke rumah Tuan Gerald, aku sungguh ingin melihat rumahnya secara langsung?” tanya Lia.


Anesya terdiam sejenak mencoba untuk berpikir, menatap Lia yang kini sedang menanti jawabannya dengan kedua manik mata yang nampak begitu antusias sekali. “Nanti aku pikirkan caranya, tapi jangan terlalu berharap dulu aku tak mau kau kecewa,” jawab Anesya.


“Kau memang sahabat terbaik,” jawab Lia sembari memeluk Anesya.


Anesya dan juga Lia keluar dari perusahaan ketika mereka selesai bekerja, langkah Anesya terhenti ketika ia melihat sosok yang begitu tidak asing di ingatannya. Ya itu adalah Zico dan juga Elsa yang kini sedang menatapnya. Sedang apa mereka berdua di sini? Pasti sedang menunggu Anesya memangnya apa lagi.

__ADS_1


“Kau tak perlu menemui mereka, aku akan mengusir mereka,” kata Lia yang merasa kesal melihat sepasang kekasih tak tahu malu itu.


“Cepat atau lambat, aku juga akan bertemu dengannya. Kamu pulang saja lebih dahulu Lia, aku akan mengurus mereka sendiri.”


__ADS_2