Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Asisten Van Hampir Celaka


__ADS_3

Setelah mendengarkan apa yang Zico katakan padanya, Anesya langsung mengulas senyuman sinis membuat lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu mengangkat satu alisnya merasa bingung dengan apa yang Anesya pikirkan.


“Apakah secepat itu?” tanya Anesya ambigu dan itu membuat Zico semakin kebingungan kearah mana Anesya berbicara sekarang.


“Apa maksud kamu Anesya?” tanya Zico.


“Kau mencampakkan Elsa atau justru wanita yang gila harta itu yang meninggalkan kamu begitu saja, Zico,” kata Anesya pada Zico dengan menaruh kedua tangannya bersedekap di dada.


“Anesya, kembalilah padaku,” ujar Zico masih mencoba untuk merayu Anesya agar kembali padanya.


Tangan Zico terulur dan hendak memegangi Anesya, tapi tidak disangka saat bersamaan Asisten Van muncul dan langsung menggenggam erat tangan Zico.


“Jangan pernah mencoba untuk menyentuh Nona Anesya lagi atau tanganmu ini akan patah,” kata Asisten Van dengan sorot mata penuh intimidasi.


Zico mundur beberapa langkah ke belakang, ia kembali teringat jika waktu itu Anesya datang ke acara pernikahannya bersama dengan Tuan Gerald-oang paling berpengaruh dan juga kejam yang ada di negara ini. Sekujur tubuh Zico langsung dirambati oleh keringat dingin setelah ia mengingat akan semua tu.

__ADS_1


“Sa-saya berjanji jika tak akan pernah lagi menemuinya dan sekali lagi saya minta maaf,” kata Zico. Lelaki itu menatap Anesya yang melihatnya dengan wajah datar Zico buru-buru berlari menjauh sebelum ia mendapatkan masalah yang jauh lebih besar lagi. Tak akan ada orang yang bisa hidup dengan tenang ketika berurusan dengan Tuan gerald.


“Asisten Van, kamu tiba-tiba ada di sini,” ujar Anesya sembari hendak mengarahkan tangannya untuk memegang lengan Asisten Van, tapi disaat yang tepat lelaki itu segera mundur dua langkah ke belakang. Asisten Van membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai permintaan maaf.


“Nona Anesya, mohon jaga sikap Anda,” ujar Asisten Van yang kini sudah berkeringat dingin.


“Memangnya kenapa asisten Van?” tanya Anesya dengan polosnya.


“Nona, apakah Anda inis edang menguji keberanian saya? Jika sampai Tuan Gerald tahu maka riwayat saya akan tamat,” batin Asisten Van sembari mengusap keringat yang sudah mengalir deras di keningnya sekarang.


“Asisten Van, aku masuk kerja terlebih dahulu,” ujar Anesya.


***


“Aku tidak melihat keberadaan Lia selama beberapa hari ini,” kata salah satu pekerja.

__ADS_1


“Kamu tanya saja pada Anesya, bukankah selama ini mereka selalu bersama,” jawab teman yang lain.


Anesya memejamkan kedua matanya ketika bayangan malam menakutkan itu kembali memenuhi isi pikirannya, Anesya sampai mengerjapkan manik matanya agar kristal bening ini tak sampai jatuh dan dilihat oleh banyak orang di dalam ruangan ini. Rasa kehilangan dan juga kesedihan melebur menjadi satu membuat Anesya hancur, terkadang Anesya masih tidak bisa percaya jika Lia berbuat kejam padanya hanya karena seorang lelaki. Atensi Anesya muai teralihkan setelah ia mendengar seorang pekerja memanggilnya.


“Anesya, apakah kau tahu keberadaan Lia?” tanya Anesya.


“Ak-aku tidak tahu, bahkan nomornya sulit sekali dihubungi,” jawab Anesya sedikit gugup. UUntuk menekan rasa tidak nyaman yang sedang menyelimuti hatinya, Anesya sampai menggenggam jemari tangannya sendiri dengan begitu kuat.


“Apakah kalian semua tahu, jika perusahaan ini sudah berpindah kepemilikan mulai dari hari ini,” kata salah satu wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini.


Semua orang yang ada di dalam ruangan ini segera bersiap untuk gibah massal tentunya.


“Siapa yang memilikinya?” tanya salah satu wanita lain.


“Aku dengar-dengar ceo dari perusahan Empire Group telah membeli perusahan ini,” jawab wanita itu

__ADS_1


Perusahaan Empire Group, sepertinya aku pernah mendengar nama perusahaan ini,” batin Anesya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2