Tuan Jadilah Pacarku

Tuan Jadilah Pacarku
Tamat


__ADS_3

Selama satu minggu ini Elsa tinggal bersama dengan Anesya di kediaman Tuan Gerald. Saat ini semua luka-luka yang ada di tubuh Elsa mulai menghilang dan sudah mulai samar tak terlihat. Sejak masuk ke dalam rumah ini Elsa sudah menyusun rencana jika ia akan mengusir Anesya ketika Taun Gerald sudah terjerat dalam pesonanya.


Anesya mulai merasa aneh ketika melihat Elsa yang selalu berdandan setiap hari, bahkan wanita ini juga sering kali tertangkap basah oleh Anesya sedang memperhatikan Tuan Gerald. Anesya tidak suka itu, tapi anehnya Tuan Gerald hanya diam saja seakan lelaki itu tak merasa keberatan dengan sikap yang Anesya tunjukkan contohnya seperti sekarang ini.


“Elsa, ada apa?” tanya Anesya setelah wanita ini membuka pintu ruangan kamarnya.


“Anesya, aku membawakan Tuan Gerald satu gelas kopi,” kata Elsa sembari menatap ke dalam ruangan kamar Anesya.


“Aku bisa membuatkan kopi untuk Tuan Gerald, kamu seharusnya tak perlu merasa repot,” jawab Anesya pada Elsa. Tangan Anesya hendak mengambil nampan yang berisikan satu cangkir kopi dari tangan Elsa, tapi ucapan Tuan Gerald mulai menghentikan niat awalnya itu.


“Biarkan dia masuk!” titah Tuan Gerald pada Anesya.


“Hem,” jawab Anesya.


Elsa langsung menyerobot masuk ke dalam kamar Anesya tanpa menunggu adik tirinya itu membuka pintu. Ini untuk kali pertama selama tinggal di rumah ini Elsa masuk ke dalam kamar pribadi Tuan Gerald. Wanita ini mengedarkan pandangan ke sekitarnya mencoba untuk mengamati ruangan kamar Tuan Gerald yang dipenuhi dengan barang-barang mahal tentunya.


Anesya menatap ke arah Elsa dengan menaikkan satu alisnya merasa terganggu dengan cara Elsa yang nyelonong masuk ke ruangan ini. 


“Tuan, saya membuatkan kopi untuk Anda,” kata Elsa sembari menaruh satu cangkir kopi di atas meja.


Saat ini Tuan Gerald sedang fokus melihat ke arah layar laptopnya, lelaki itu mengangkat pandangan dan melihat ke arah Anesya yang sekarang sedang berdiri dengan air muka nampak masam, Tuan Gerald tahu jika sekarang Anesya pasti sedang merasa tidak nyaman ketika melihat Elsa ada di dalam ruangan kamar ini.


“Duduklah!” titah Tuan Gerald pada Elsa. Lelaki itu melihat ke arah Anesya yang seketika langsung memutar kedua bola matanya malas setelah mendengarkan ucapannya.


"Ba-baiklah Tuan," jawab Elsa kegirangan karena kini Tuan Gerald sedang memintanya untuk duduk di sofa dan Elsa juga begitu percaya jika tidka lama lagi, Tuan gerald pasti akan memintanya untuk naik ke atas ranjang dan Elsa akan memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut hati Tuan Gerald.


“Anesya, ambilkan Elsa minuman kesukaannya dia akan merasa haus jika menemani aku duduk di sini dan tanpa ada minuman untuknya,” jelas Tuan Gerald lebih rinci lagi.


“Tuan, saya bisa mengambilnya sendiri, Anesya kamu tetap di  sini,” kata Elsa dengan sengaja dan seperti apa yang ia duga. Tuan Gerald langsung memegangi tangannya, membuat Elsa kembali duduk di posisinya semula.


“tetaplah di sini, biarkan Anesya yang mengambilkannya karena kamu adalah tamu, jadi sudah sewajarnya jika Anesya yang melayani kamu,” kata Tuan Gerald sembari melik ke arah Anesya.


“Saya akan mengambilkan untuknya,” jawab anesya dengan suara yang bergetar di ujung lidahnya.

__ADS_1


“Hahaha! Sekarang aku sudah bisa merebut tempat Anesya biasanya duduk dan lain waktu aku akan langsung menggantikannya dengan senang hati naik ke atas ranjang,” batin Elsa di dalam hati sembari melirik ke atas ranjang.


Di sisi lain.


Anesya merasa tidak nyaman pada hatinya, ia tidak suka melihat cara Tuan gerald memperlakukan Elsa. Dengan langkah tergesa-gesa Anesya menuangkan jus jeruk ke dalam gelas kemudian segera melangkah kembali menuju ke kamar Tuan Gerald. Anesya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan ia begitu terkejut sekali ketika melihat Elsa yang sekarang sudah duduk di atas pangkuan Tuan Gerald.


“Elsa, apa yang kau lakukan?” tanya Anesya dengan suara yang bergetar di ujung lidahnya.


Anesya baru saja menaruh satu gelas jus jeruk itu ke atas meja. Anesya begitu terkejut sekali ketika melihat cara Elsa menatapnya-tatapan ini sama persis seperti tatapan waktu itu, waktu Elsa merebut Zico darinya.


“Aku tak bisa membiarkan elsa merebut Tuan gerald dariku, tak akan pernah aku biarkan Elsa merebut Tuan Gerald dariku,” batin Anesya. Ia kini baru menyadari isi hatinya sekarang. Ia begitu menyukai Tuan Gerald dan tak ingin siapapun merebut Tuan gerald darinya, Anesya harus mempertahankan Tuan gerald.


“Anesya, Tuan Gerald yang menginginkan diriku,” jawab Elsa dengan seringai liciknya.


Anesya melihat ke arah Tuan Gerald dengan jantung yang berdetak dengan begitu kencang sekali. Kristal bening kini sudah menganak sungai di kedua pelupuk matanya.


“Elsa, aku tak akan pernah membiarkan kau merebut milikku lagi! Sekarang keluarlah dari rumah ini,” kata Anesya dengan suara yang bergetar di ujung lidahnya.


“Ini bukan rumah kau Anesya! Yang bisa mengusir aku hanya Tuan Gerald saja,” jawab Elsa sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Tuan gerald. Seakan wanita itu sedang mengatakan jika kini Tuan gerald menginginkan dirinya untuk menggantikan Anesya berada di dalam ruangan kamar ini.


"Tuan, Gerald usir wanita itu keluar dari rumah ini, aku benar-benar menyesal sudah percaya padanya. Wanita sepertinya tak akan pernah bisa berubah dan aku abru mengetahui hal ini sekarang,” jelas Anesya dengan air mata yang sudah meleleh dikedua pipinya.


“Tuan Gerald, jangan dengarkan apa katanya, saya akan membahagiakan Anda melebihinya,” kata Elsa mencoba untuk merayu Tuan Gerald untuk tetap mempertahankan dirinya


“Berikan alasan kenapa aku harus mempertahankan kau di rumah ini.” Perkataan Tuan Gerald menuntut suatu jawaban yang pasti dan juga tepat.


Anesya terdiam dengan kepala yang tertunduk. Kedua tangannya saling bertautan satu sama lain, kini buku-buku tangannya sudah dibasahi oleh keringat dingin.


“Jika tidak mau mengatakan apapun, sebaiknya kau keluar dari ruangan ini!” titah Tuan Gerald dengan nada suara yang terdengar datar dan juga menusuk.


“Biarkan dia keluar Tuan Gerald, agar saya bisa memanjakan Anda,” kata Elsa. Dan dengan murahan wanita itu mengarahkan jemari telunjuknya untuk menyusuri dada bidang Taun Gerald, Elsa mulai berani mengarahkan jemari telunjuknya untuk menuruni area bawah, tapi Tuan Gerald segera menepis tangan Elsa ketika hendak menyentuh area sensitif itu.


Anesya mengangkat pandangan dengan tatapan tajam, ia tak suka dan ia juga cemburu melihat cara wanita licik ini menyentuh Tuan Gerald.

__ADS_1


“Saya mencintai Anda dan saya tak akan bisa hidup tanpa Anda. Tuan Gerald, saya tahu pernyataan cinta saya mungkin tak bisa mengubah segalanya namun, hanya itu saja yang bisa saya berikan pada Anda, selain cinta dan juga ketulusan saya tak mempunyai apapun lagi.” Anesya memberanikan diri untuk mengangkat pandangan melihat air muka Tuan Gerald sekarang.


Tuan Gerald beranjak berdiri dari posisi duduknya, hingga membuat Elsa yang sedang duduk di pangkuannya sampai jatuh ke lantai.


“Semua itu sudah cukup untukku,” jawab Tuan Gerald sembari melangkah menghampiri Anesya.


“Tuan, saya akan menggantikannya,” kata Elsa masih mencoba untuk membujuk Tuan Gerald.


“Wanita murahan seperti kau tak pantas dibandingkan dengannya.” Usai biara Tuan Gerald segera menepis tangan Elsa dengan kasar.


Anesya mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipinya menggunakan kedua tangan. Anesya mengerutkan keningnya melihat ke arah Tuan gerald. Ia bingung dengan apa yang sedang terjadi sekarang.


“Selama ini aku membiarkannya tinggal di rumah ini karena ingin mengetahui isi hatimu yang sebenarnya, Sayangku,” kata Tuan Gerald dengan membelai lembut pipi Anesya. “Sekarang aku sudah mengetahui isi hatimu padaku, jadi aku tak memiliki alasan lain untuk membiarkannya tinggal di rumah ini,” ujar Tuan gerald secara detail.


“Apa maksud Anda Tuan?” tanya Anesya yang kebingungan.


“Aku ingin kau melihat dunia ini. Jika kau ingin mempertahankan apa yang kau inginkan, maka kau harus bersikap kejam dan juga tegas.” Tuan Gerald meraih Anesya dalam pelukannya.


“Tuan, saya bohon biarkan saya tinggal di rumah ini,” kata Elsa.


“Anesya, maafkan aku untuk kali ini saja, kau tak bisa membiarkan aku keluar dari rumah ini,” kata Elsa.


“Kenapa aku tak bisa membiarkan kau keluar dari rumah ini? Sedangkan tadi kau berniat untuk mengusir dan juga merebut apa yang aku miliki,” kata Anesya dengan air muka nampak datar.


Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan ini dan masuklah kedua pengawal. Mereka langsung menyeret Elsa keluar dari ruangan kamar ini. Elsa berteriak meminta maaf pada Anesya, tapi terlambat karena hati Anesya sudah terlanjur membeku dan juga membatu.


Kini di dalam ruangan kamar ini hanya ada Tuan Gerald dan juga Anesya.


“Sayang, maukah kau menikah denganku? Aku benar-benar tak pernah merasakan cinta sebesar ini pada wanita lain,” kata Tuan gerald sembari menangkup wajah Anesya menggunakan kedua tangannya.


“Ya, saya mau,” jawab Anesya.


Kedua berpelukan. Cinta yang penuh dengan drama akhirnya selesai juga. Anesya dan juga Tuan Gerald hidup bahagia.

__ADS_1


And.


 


__ADS_2