Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 10


Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak setelah memikirkan kenangan manis bersama Inara saat ia masih cantik.


Tak sadar hari sudah pagi, ternyata aku tertidur semalaman. Aku bergegas mandi dan bersiap siap untuk pergi ke kantor.


Aku keluar dari kamarku dan menuruni tangga. Terlihat ibu sedang menyiapkan sarapan.


"Bu kenapa tidak bangunkan aku, ini udah siang banget." Aku protes kepada ibu karena ia aku jadi terlambat bangun.


"Kamu ini, ibu dari tadi ketok-ketok pintu tapi kamu tidak menjawab. Yasudah ibu biarkan saja, seperti anak kecil saja kamu masih harus dibangunkan ibu."


Aku menyambar roti dan teh hangat. Lalu tak menghiraukan ucapan ibu aku langsung pergi berangkat.


"Loh Adi, ini nasi gorengnya belum kamu makan."


"Tidak usah Bu aku sudah terlambat."


Lalu aku bergegas menyalakan mobil, dan tancap gas menembus macetnya jalanan.


Tak lama kemudian aku akhirnya sampai di kantor tempatku bekerja. Aku melangkah menuju ke kursi ku dengan santai. Tapi, ada yang aneh dari sikap para karyawan hari ini.


Mereka terlihat begitu tegang dan serius dengan laptopnya masing-masing. Biasanya mereka bekerja sambil sesekali bercanda dan mengobrol.


"Heh, ada apa si. Kok pada tegang gini."


Aku bertanya pada salah satu temanku yang duduk di sebelahku.


"Kamu nggak tahu kalau hari ini CEO yang baru telah datang?" Ia bicara dengan berbisik padaku.


"Terus, memangnya kenapa kan kita gak melakukan kesalahan, kenapa harus tegang gitu."


"CEO yang sekarang lebih tegas, tidak seperti yang dulu. Dia baru saja datang dari London. Dan baru masuk ruangan saja ia langsung mengatur dan mendisiplinkan karyawan yang berisik, dan kesalahan sedikit saja ia langsung menunjuk dan mengancamnya dipecat."


Aku mangut-mangut kecil, pantas saja semua karyawan yang ada disini jadi hening tanpa suara. Ternyata itu alasannya. Aku jadi penasaran dengan CEO baru itu. Setegas apa si dia.


Ketika baru saja membuka laptop, hendak mengerjakan tugas yang biasa dikerjakan.


Tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan perawakan yang sempurna, hidungnya mancung dan kulit putih bersih bak artis Korea. Tapi menurutku tidak lebih tampan dariku.


Dia berjalan dengan tatapan yang dingin, dibelakangnya ada asisten yang selalu membuntutinya kemanapun ia pergi.


Mereka berjalan melewati semua karyawan yang sedang duduk di meja nya masing-masing. Para karyawan terlihat begitu segan dengan CEO baru itu.


"Heh, itu." Aku menyikut salah satu teman yang ada di sampingku sambil menunjuk ke arah CEO yang berjalan keluar itu.


"Iya," Dia masih saja berbisik.


"Biasa aja lagi, jangan bisik-bisik terus."


"Sudah, kamu jangan ajak ngobrol terus nanti ketahuan atasan lain bisa berabe lagi."

__ADS_1


Aku kembali fokus ke pekerjaan ku karena temanku sudah ketakutan dari tadi karena aku ajak ngobrol terus, padahal biasanya juga seperti ini. Kenapa mereka berlebihan sekali.


Ketika jam istirahat tiba. Aku buru-buru menuju ke warung makan karena perutku sudah meraung-raung karena hanya kuberikan sepotong roti tadi pagi.


"Bu Mar... Yang biasa ya."


Aku memesan makanan yang biasa ku pesan kepada Bu Maryam. Ia langsung membuatkan tanpa bertanya lagi karena aku sudah langganan di sana.


"Ini mas Adi nasi putih dengan daging ayam dan urap kesukaan mas Adi, tidak lupa kerupuk udangnya, silahkan." Bu Maryam menyodorkan satu piring pesanan ku dengan deskripsi yang lengkap seperti biasa.


"Makasih bumar..." Aku mengambil piring berisikan nasi tersebut


Aku melahapnya dengan semangat tanpa jeda. Jika di abadikan, cara makan ku ini mirip seperti kera yang kelaparan. Mulutku gembul penuh dengan makanan.


"Pelan-pelan to mas Adi. kaya orang yang kelaparan saja."


Tiba-tiba Bu Maryam datang menyodorkan segelas air putih dan membuatku sampai tersedak.


uhuk..uhuk..uhuk...


"Tuh kan, nih diminum dulu airnya."


Aku langsung menyambar air di tangan Bu Maryam.


"Huhh.. Bu Mar ngagetin aja, gimana kalau aku mati tersedak? Bu Mar mau tanggung jawab."


"Lagian mas Adi tuh kalau makan pelan-pelan, udah kaya orang nggak makan seabad aja."


"Loh kesiangan kenapa toh. Banyak pikiran ya mas Adi. Ihhh jangan terlalu banyak pikiran nanti cepat tua loh."


Aku tidak menghiraukan ucapannya. Aku terus saja melahap makanan ku hingga tak tersisa satu biji pun, lalu aku hendak membayarnya karena waktu istirahat tinggal sepuluh menit lagi.


"Nih Bu Mar, uangnya. Harganya tidak naik kan?." Tanya ku bercanda.


"Ya tidak toh mas. Masa main naik naik saja."


"Oh iya, tadi Bu Mar dengar ada CEO baru ya di dalam?." Ia menanyakan hal para wanita muda tanyakan hari ini.


"Iya, memangnya kenapa? Bu Mar naksir?"


"Lah, kalo dianya mau mah ya saya juga mau toh mas Adi. Apalagi dia ganteng kaya artis Korea." Bu Mar memasang wajah kecentilan nya sambil mengedip ngedip kan mata Yang membuat saya jadi bergidik geli.


"Ngarep." Kataku sambil berlalu.


"E-eh, tapi mas Adi. kamu jangan sesekali bawa istri ke kantor ini loh. Nanti istrinya kepincut lagi sama si tuan CEO itu."


"Hahaha kalaupun istri saya kepincut, paling CEO baru itu muntah lihat wajah istri saya, mana mau dia sama istri saya , saya aja udah gak tahan sama penampilannya."


Aku tertawa terbahak bahak membayangkan jika istri saya beneran kepincut sama CEO baru itu. Mungkin dia akan main pelet buat mendapatkan nya.


"Ihh kamu ini, kok sama istri sendiri ngeledek gitu toh." Bu Mar mencolek ku karena aku tak berhenti tertawa.

__ADS_1


"Hah sudahlah, lagian aku juga mau cerai dengan istriku yang dekil itu, dan sebentar lagi aku akan menikah dengan gadis cantik pujaan hati ku." Aku merenggangkan tangan tanda aku sedang membayangkan kebahagiaanku nanti.


"YaAllah, istighfar toh mas.. masa mau meninggalkan istri demi wanita baru yang lebih cantik. Apa mas Adi memberi nya modal untuk istrinya merawat diri ke salon? Kalau tidak, jangan ngarep punya istri baru yang lebih cantik toh."


"Tentu saja lah Bu, saya memberi nya uang satu juta untuk sebulan. Masa ia tidak bisa mempercantik diri di rumah. Lagian anak juga baru satu, pekerjaan rumah tidak terlalu banyak juga. Masa tidak bisa merawat diri atau sekedar ke salon benerin rambut."


"Hahh, satu juta sebulan. Uang segitu mana cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Belum listrik, biaya sekolah, biaya air dan lain-lain yang sifatnya mendadak. Gimana toh, biaya merawat diri itu mahal mas Adi. Bu Mar juga kalau uang segitu paling cuma bisa beli sabun muka saja, mana bisa ke salon."


"Dengar ya mas Adi. Kamu kalau sudah menikah lagi dan kamu masih mencari kesempurnaan dalam istrimu, jangan cari dari sisi kecantikannya. Istrimu kucel begitu karena dia rela menyisihkan kebutuhannya untuk kebutuhan rumah tangga yang lebih penting. Kamu jangan menyesal kemudian loh mas."


Penuturan Bu Mar yang panjang membuatku sampai melamun. Apa iya begitu. Apa memang aku yang kurang memperhatikan kebutuhan pribadinya.


Ahh mungkin itu pengalaman Bu Mar saja yang suaminya hanya tukang bersih bersih di kantor.


"Sudahlah Bu Mar, saya masuk dulu. Jangan sampai aku terlambat lagi gara gara terlalu lama mendengar curhatan Bu Mar."


Lalu aku pergi beranjak dari warung makan itu, Bu Mar hanya menggeleng kan kepalanya sambil terus membersihkan meja bekas aku makan tadi.


Aku kembali duduk dan merapikan kemeja ku yang agak kusut karena makan terlalu lahap. "Duhh, ada noda bekas makanan lagi."


Aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan noda di bajuku. Lalu aku menatap ke depan cermin sambil sesekali merapikan rambut. Seketika aku teringat dengan ucapan nya Bu Mar lagi, Jangan menyesal kemudian katanya.


Ah aku mencoba untuk tidak memikirkannya lagi. Lalu, aku bergegas keluar dari kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suara orang sedang menelfon dari ruangan kamar mandi sebelah ku.


"Inara, kamu jangan seperti itu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan mu. Biarkan aku mengunjungi mu ya. Tidak akan ada masalah kok, kan kamu tidak sendiri, ada orang tuamu juga di sana."


Aku kaget karena ada yang menyebut nama Inara, istriku. Lalu aku menempelkan daun telingaku ke pintu untuk memastikan pendengaran ku tidak benar.


"Inara dengar. Aku tidak perduli dengan semua itu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan mu. Aku juga tidak tahu kabar pernikahan mu. Kau tidak mengundang ku saat itu. Aku ke rumah mu nanti sore ya."


Lalu hening, Tak ada lagi suara. Tiba-tiba pintu dibuka dan aku langsung terdorong ke dalam kamar mandi.


Brughhh...


Aku tersungkur. Lalu berdiri seseorang di hadapan ku yang juga tak kalah kagetnya dengan ku.


"Kamu menguping ya."


Aku melihat dari bawah ke atas, dan aku langsung berdiri, tangan ku bergetar. Ternyata dia adalah CEO baru itu.


"Kamu ngapain disini, kamu menguping pembicaraan ku ya."


"Ti-tidak pak. Saya tadi membenarkan sepatu saya yang terkena noda."


Aku benar benar gelagapan, ternyata ini yang karyawan lain rasakan. Tatapan nya begitu dingin dan tegas.


Lalu dia bejalan meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun.


"Huhh.. Untung saja tidak ketahuan."


Tapi, ada yang aneh. Dia menyebut nama Inara. Apa mungkin istriku?

__ADS_1


__ADS_2