
Bab 25
"Tolong nak, tolong kami."
Ku dengar suara ibu bergetar karena menangis. Aku bingung apa yang terjadi pada nya.
"Kenapa Bu, ada apa?."
"Rumah kami terbakar nak." Sekarang terdengar suara bapak yang juga menangis.
Aku terperangah mendengar penuturan bapak. Tubuhku bergetar dan jantungku terasa berhenti berdetak.
Aku mematikan telpon dan langsung menuntun Devano dan berlari membawanya kembali menaiki motorku.
"Mau kemana lagi kamu." Mas Adi mencegat ku ketika aku hendak menancap gas.
"Rumah orang tua ku terbakar, aku harus segera ke sana. Jangan halangi aku mas."
"Bohong kamu, pasti kamu mau keluyuran lagi kan? Ingat Inara, kamu harus menjaga bayi dalam kandungan kamu. Aku tidak mau ya kalau calon bayi ku itu kenapa-kenapa karena kamu bawa keluyuran terus." Ucapnya sambil memegangi setang motorku.
"Mas aku mohon, jangan halangi aku. Mereka butuh bantuan ku saat ini, lepaskan."
Aku menangis sejadi-jadi nya. Mas Adi tampaknya sudah percaya dengan ucapan ku, lalu ia melepaskan pegangannya dan membiarkan ku pergi.
"Baiklah kalo gitu, tapi biarkan Devano tetap di sini. Jangan bawa-bawa dia dalam masalah mu."
Ia mengambil Devano dari atas motor. Aku menurutinya dan langsung tancap gas tanpa berpamitan pada Devano.
Sepanjang perjalanan, air mata ku terus saja bercucuran, aku tidak bisa membayangkan keadaan orang tua ku saat ini.
__ADS_1
Saat aku tiba, aku melihat rumah ibu benar-benar sudah terbakar. Kobaran api menghanguskan seluruh rumah tanpa ada yang tersisa.
Semua warga berlarian dan berusaha menyirami api yang semakin membesar. Aku mencari keberadaan ibu dan bapak ku di tengah keramaian.
"Nak Inara." Panggil salah satu tetangga ibu ku, aku menoleh dan langsung menanyakan keberadaan mereka.
"Mereka saat ini sedang di ungsikan ke rumah warga. Nak Inara tenang ya, kami sudah menelpon pemadam untuk memadamkan api di rumah ibumu." Lanjutnya.
"Aku mau bertemu dengan ibu dan bapak." Kataku sambil menangis.
"Ayo, ikuti bapak nak." Ia mengantarku ke rumah salah satu warga.
Terlihat ibu sedang menangis dalam pelukan bapak dan ditenangkan oleh beberapa warga, hatiku teriris melihat pemandangan ini.
Aku berlari menghampiri mereka dan memeluk ibu dan bapak ku. Mereka semakin histeris dengan kehadiran ku.
Aku tidak bisa menahan air mata ku melihat mereka yang sedang berada dalam kondisi seperti ini. Aku perlahan melepaskan pelukan mereka dan berusaha untuk tenang
"Saat itu bapak dan ibu baru pulang dari pasar, ibu langsung tertidur di kursi karena kelelahan sedangkan bapak merasa lapar dan menggoreng telur sendiri di dapur." Ibu menyeka ucapannya dan menangis.
"Mungkin karena bapak juga merasa lelah, Ia lupa mematikan kompor dan apinya menyambar kain lap di sampingnya dan lama-lama api semakin membesar. Bapak berteriak dan membangunkan ibu untuk lari keluar, kami berusaha meminta tolong, tapi karena rumah kita sudah tua jadi apinya semakin cepat menyambar."
Ibu menangis di pelukanku. Aku mencoba untuk lebih tegar dan menenangkan ibu. Hati ku teriris mendengar penjelasan ibu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana panik nya ibu dan bapak saat itu.
"Nak Inara, sebaiknya kamu membawa ibu dan bapak mu untuk istirahat di kamar. Sekarang sudah malam, malam ini kalian tidur disini saja dulu ya." Ucap pemilik rumah yang membantu ibu dan bapak.
"Terimakasih ya pak, sudah mau mengungsikan ibu dan bapak di sini."
"Iya nak sama-sama, sudah kewajiban kami membantu tetangga yang sedang mengalami musibah. Sekarang kalian istirahat saja. Hari sudah mulai gelap, lagi pula apinya juga sudah padam."
__ADS_1
"Iya, Bu sekali lagi terimakasih."
Aku membawa bapak dan ibu ke kamar untuk istirahat dan menenangkan pikiran. Semua warga yang datang juga sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing.
"Bu, ibu dan bapak sebaiknya istirahat dan tidur saja ya. Besok kita ke rumahku." Kataku sambil membenarkan bantal.
Lalu mereka berdua terlelap, aku menggenggam tangan ibu dan menciuminya. Aku benar-benar merasa bersalah pada mereka.
Kemarin aku sangat bahagia dengan penghasilanku sampai aku lupa untuk mengabarinya pada orang tuaku, aku terlalu memikirkan bagaimana caranya untuk membuat mas Adi menyesal, tapi aku lupa untuk mengabari orang tuaku dan membagi kebahagiaan kepada mereka.
Aku menangis memandangi mereka yang terlelap Sampai ikut memejamkan mata.
Lalu keesokan harinya aku langsung membawa ibu dan bapak ke rumah ku dengan menaiki motor. Tak ada barang yang tersisa yang bisa kami bawa karena semuanya sudah hangus terbakar.
"Ngapain kamu bawa orang tua kamu kesini?"
Kata Luna menghampiri kami yang baru saja turun dari motor.
Ibu dan bapak saling melempar pandangan.Banyak yang tidak aku jelaskan pada mereka hingga membuat mereka bingung.
"Loh, suamimu dan selingkuhannya kok tinggal di sini juga." Tanya bapak pada ku.
"Nanti aku jelaskan ya pak."
"Ya jelas lah aku tinggal di sini. Ini kan rumah mas Adi bukan rumah anak mu yang pengangguran ini." Kata Luna sambil melipatkan tangannya angkuh.
"Jangan halangi aku, minggir dan biarkan orang tuaku masuk."
Aku menggandeng ibu dan bapak untuk masuk ke dalam rumah. Tapi langkah kami terhenti ketika mas Adi datang dan menghalangi pintu masuk.
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkan mereka tinggal di sini?"
......