Uang Nafkah Atau Titipan?

Uang Nafkah Atau Titipan?
Uang Nafkah atau Titipan ?


__ADS_3

Bab 20


Tin..Tin..


Suara klakson mobil menggema di halaman rumah Inara. Ia yang sedari tadi sudah rapi bersama Devano, segera beranjak dan membuka pintu.


"Hai, sudah siap?"


Sapa Andres hangat, kali ini ia tidak memakai jas dan setelan formal yang biasa dipakainya ketika hendak ke kantor. Ia terlihat tampan dan maskulin mengenakan jeans hitam dan T-shirt putih serta topi hitam yang membuatnya benar-benar tampak seperti artis Korea idolanya Inara.


Andres tersenyum manis pada Inara, sedangkan ia hanya bengong dan menatap Andres tanpa berkedip.


"Hai, sayang. Udah siap berangkat?" Andres kemudian memangku Devano dan membuat Inara tersadar dari lamunannya.


"K-kita udah siap kok." Balasnya gugup.


"Kita jalan-jalan kemana om?." Tanya Devano sambil merangkul Andres.


"Kita akan menjelajahi tempat yang kamu inginkan."


"Yeeay, kita jalan-jalan." Teriak Devano kegirangan.


"Kamu mau kemana Inara?".


Tiba-tiba Adi keluar dari kamarnya sambil mengucek matanya dan menajamkan penglihatan. Ia melihat ke arah Andres yang sedang berdiri sambil memangku Devano.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya nya pada Andres dengan ketus.


"Bukan urusan kamu mas." Inara langsung menjawab pertanyaan Adi.


"Aku tidak bertanya padamu Inara."


"Dia juga tidak Sudi bicara sama kamu mas." Inara tak mau kalah.


"Jawab pertanyaan ku. Kamu mau kemana bersama laki-laki ini." Adi sedikit menaikan nada bicaranya.


Andres langsung menurunkan Devano dari pangkuannya.


"Jangan bicara kasar padanya. Atau kau akan dapat masalah." Ucapnya dengan penuh penekanan.


"Cihh, lagi-lagi kau mengancam ku. Apa yang bisa kau lakukan padaku? memecat ku? atau memenjarakan ku?" Adi tersenyum sinis dan meremehkan ucapan Andres.


"Dua-duanya jika kau mau." Ucap Andres dengan wajah serius.


"Ada apa si mas, pagi-pagi begini sudah ada keributan." Tiba-tiba Luna datang dan tampak masih mengenakan piyama karena ia juga baru bangun.


Ia terkejut melihat sosok pria tampan di hadapannya. Matanya melotot tak berkedip sama seperti Inara saat pertama melihatnya tadi.


"D-dia siapa mas?" Tanya Luna gugup.


"Sudah, bukan urusanmu. Kamu masuk saja sana." Adi tampak khawatir dengan Luna, ia takut Luna tergoda dengan lelaki di hadapannya.


"Iih, kenapa si mas, aku cuma mau tahu namanya, siapa tahu kita bisa kenal lebih jauh lagi." Ucap Luna manja sambil memainkan rambutnya.

__ADS_1


"Boleh juga." Balas Andres dengan senyum sinisnya yang membuat Luna jadi senyum kegirangan. Pandangan Adi dan Inara beralih pada Andres karena terkejut.


"Jangan macam-macam kamu."


Ucap Adi sambil menyeret Luna ke belakang punggungnya dengan tatapan yang tajam pada Andres.


"Sudahlah, lebih baik kita berangkat, jangan buang-buang waktu dengan meladeni mereka berdua di sini." Inara memegang tangan Andres dan menyeretnya dengan cepat lalu di susul oleh Devano.


"Inara, tunggu mau kemana kamu."


Adi hendak mengejar mereka tapi Luna mencegahnya. Inara tidak menghiraukan ucapan Adi dan terus melangkahq0 masuk keh RI di Rp di dalam mobil tanpa menoleh sedikitpun.


Inara tampak bete dan cuek. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam dan menatap ke arah jendela tanpa sedikitpun menoleh pada Andres. Posisinya yang duduk dibelakang membuat Andres hanya bisa melihatnya dari kaca mobilnya.


"Kok diam saja si Ra." Andres mencoba membuka pembicaraan.


"Gak papa" jawabnya ketus.


"Gak papa tapi kok mukanya ditekuk gitu."


"Maksud kamu apa tadi bilang gitu sama Luna."


Andres tertawa melihat tingkah Inara yang memanyunkan bibirnya seperti ABG yang sedang cemburu pada kekasihnya.


"Kenapa ketawa? ada yang lucu?"


"Jadi kamu cemburu gara-gara tadi aku merespon Luna." Ucap Andres sambil senyum-senyum.


"Hah, siapa yang cemburu. Aku tuh gak mau kalau kamu sampai salah pilih wanita gara-gara hanya menilai dari kecantikannya saja."


Tidak lama mereka melewati perjalanan, tiba-tiba Andres memarkirkan mobilnya di depan sebuah salon yang sangat mewah.


Inara turun dari mobil sambil terus menatap ke gedung salon yang aestetik dan megah. Di sampingnya ada butik dari seorang designer ternama yang diidamkan olehnya.


Ia berdiri mematung, mulutnya menganga dan tanpa sadar Andres memperhatikannya sambil tertawa kecil.


"Ngapain kita kesini An." Tanyanya tanpa menoleh dan masih menatap kagum.


"Ayo masuk dulu, nanti kamu bakal tahu juga." Pinta Andres sambil menggiring Inara masuk bersama Devano


"Tapi.. Aku.."


"Udah, kamu mau membuat Adi menyesal kan? Ini salah satu cara nya, ayo."


Pintu gedung dibuka, ada banyak peralatan kecantikan dan treatment mulai dari bawah kaki sampai untuk rambut, semuanya lengkap.


"Hallo Tuan Andres." Sapa salah seorang wanita cantik dengan ramah.


"Hai, Nyonya Sofia." Jawab Andres


"Nyonya ini yang akan menjalankan treatment khusus hari ini ya." Wanita itu beralih menatap Inara lalu Andres mengangguk.


Inara masih bengong. 'Treatment khusus?' batinnya.

__ADS_1


"Oh ya, Berikan perawatan yang terbaik dan carikan juga baju yang bagus dan cocok untuknya ya."


"Baik Tuan, ada lagi?"


"Itu saja. Ra, aku dan Devano akan tunggu kamu di mall sebrang, kamu yang rileks ya. Nanti aku balik lagi."


Lalu Andres keluar membawa Devano, sedangkan Inara masih diam mematung.


"Ayo nyonya, silahkan"


Nyonya Sofia menggiring Inara masuk dan menjalankan berbagai treatment mulai dari lulur kaki, tangan, seluruh badan, hingga perawatan wajah dan rambutnya tak ada yang terlewatkan.


Lalu ia di bawa ke sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai gaun, dress, dan banyak lagi pakaian mewah lainnya. Ia di pilihkan sebuah dress elegan berwarna mocca dengan panjang di bawah lutut.


Inara memandangi dirinya di cermin, ia tampak cantik dan menawan dengan riasan natural. Meski tubuhnya sedikit berisi, tapi penampilannya kali ini membuatnya menjadi semakin feminim dan menawan.


"Bagaimana nyonya? Anda suka dengan gaunnya?" Tanya nyonya Sofia.


"S-saya sangat suka. Ini indah sekali, tapi ini pasti harganya sangat mahal, saya tidak akan bisa membayarnya"


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Andres telah menyelesaikan pembayarannya sebelum kalian datang kesini." Jelasnya sambil tersenyum.


"Hah, dia benar-benar menyiapkan semuanya untukku?" Inara bicara sendiri, tapi terdengar oleh nyonya Sofia.


"Anda benar-benar beruntung telah kenal dekat dengan tuan Andres. Tidak semua wanita seberuntung anda nyonya."


"Terimakasih nyonya Sofia." Balas Inara sambil tersenyum ramah.


Setelah beberapa lama, ternyata Andres sudah menunggu di ruang tunggu bersama Devano. Inara keluar dan menghampiri mereka.


"Mama."


Devano menghampiri Inara sambil memeluknya. Andres yang sedari tadi memainkan ponselnya, kini beralih memandangi Inara tanpa berkedip.


Ia menatap Inara dari bawah sampai atas. Matanya benar-benar tak berpaling melihat penampilan Inara yang kembali seperti dulu meski sekarang agak berisi.


"Mama ku cantik ya om."


"I-iya cantik banget." Jawabnya gugup dengan matanya yang masih terpaku pada wajah imut Inara.


Inara tersipu malu mendengar pujian dari Andres. Lalu ia menghampiri Andres yang masih mematung.


"Hey, ayo jalan." Sambil menjentikkan tangannya dihadapan Andres.


Lalu mereka keluar dan naik kembali kedalam mobil. Andres masih saja mencuri pandang pada Inara. Ia benar-benar kagum dengan kecantikannya yang natural.


"Sekarang kita kemana?" Tanya Inara


"Katanya kamu mau bertemu dengan temanmu untuk membahas bisnis rahasiamu."


"Oh iya, aku lupa."


Ia memang sudah lama berbisnis dengan temannya, ia merahasiakan semua ini sejak Adi sudah tidak memperhatikan keluarganya bersama Inara dulu.

__ADS_1


Inara merangkai bisnis rahasia ini bersama teman seperjuangannya saat bekerja di toko kue. Temannya mengelola bisnisnya sedangkan Inara mengontrolnya lewat ponsel dan sedikit sedikit memberikan modal untuk bisnisnya.


.........


__ADS_2